
"Ma, Pa, Abi dan Nisa berangkat dulu ya. Doakan Abi ya Ma, Pa, semoga pekerjaan Abi di sana lancar," ucap Abi sambil mencium tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
"Iya, doa mama dan papa selalu menyertai kamu. Semoga pekerjaan kamu dilancarkan, Nisa dan kedua cucu mama selalu diberikan kesehatan. Untuk Khanza, semoga sekolahnya tambah pintar," ujar ibunya Amin.
"Makasih ya Nek, Khanza sayang sama nenek," ucap Khanza yang memeluknya mamanya Abi.
"Iya, Nenek juga sayang sama Khanza. Kakak jagain bunda ya di sana," sahut sang nenek dan Khanza menganggukkan kepalanya.
Suasana begitu haru, melepas kepergian Abi, Nisa, dan juga Khanza ke Jakarta. Kedua orang tua Abi belum bisa ikut mereka ke Jakarta. Namun, mereka janji. Suatu saat nanti mereka akan menengok cucu, anak, dan menantunya ke Jakarta.
Abi memilih menyetir mobil sendiri, Nisa duduk di sebelah Abi, dan Khanza duduk di kursi baris kedua. Mereka akan jalan bersama supir yang membawa mobil Nisa ke Jakarta.
Sebelum berangkat, mereka membaca doa terlebih dahulu. Agar di lindungi selama dalam perjalanan menuju Jakarta. Saat itu jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Abi sengaja berangkat pagi, agar nanti malam mereka sudah sampai di Jakarta. Abi memiliki waktu satu hari untuk beristirahat terlebih dahulu.
Mereka tampak sedih melepas kepergian mereka bertiga. Bahkan sang ART tampak meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Bibi sedih ya di tinggal Bu Nisa?" tanya mamanya Abi kepada ART-nya Nisa.
"Iya, Bu. Bibi sangat kehilangan Bu Nisa. Semoga mereka kembali lagi kesini. Bu Nisa adalah majikan yang baik, dia tak pernah marah sekalipun selama Bibi bekerja samanya," jelas sang ART.
"Ya, dia memang wanita yang baik. Saya bersyukur memiliki menantu dia. Sudah cantik, baik, lemah lembut, memberikan saya dua cucu sekaligus lagi. Pokoknya, dia sangat sempurna. Untungnya Allah mempertemukan anak saya dengan dia, hingga akhirnya anak saya bisa merasakan bahagia," puji sang ibu mertua dan sang ART mengiyakan.
Selama Nisa di Jakarta, sang ART akan tinggal di rumah Nisa. Mengurus rumah itu. Nisa sudah mempercayakan semuanya kepada sang ART. Mereka kini sudah dalam perjalanan, Nisa begitu telaten melayani sang suami. Dia selalu mengingatkan sang suami untuk minum air putih, dia juga selalu menemani sang suami mengobrol agar tak mengantuk. Sesekali Abi mengelus kepala Nisa, dia juga memegang tangan Nisa.
Perjalanan begitu menyenangkan, sepanjang perjalanan mereka memutar lagu yang romantis. Mereka terlihat bahagia, berbeda halnya dengan Reynaldi dan Viona yang justru hidup menderita.
Lamunan Reynaldi tersadar, saat sang mama memanggil dirinya. Hingga akhirnya dia beranjak bangkit dari tempat duduknya, dan menghampiri sang mama di kamarnya.
"Ya ma, ada apa? Ada sesuatu yang mama inginkan?" Tanya Reynaldi yang kini sudah berdiri di hadapan sang mama.
"Rey, mama bosan seperti ini terus di tempat tidur," ucap Mama Ratih.
__ADS_1
"Iya, mama sabar ya. Rey enggak bisa berbuat apa-apa. Ini juga Rey sedang bingung, stok tabungan kita menipis. Sampai saat ini Rey belum juga mendapatkan pekerjaan. Besok Rey mau cari pekerjaan. Enggak apa-apa deh kerja apa saja, yang penting halal. Kita butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari. Rey tak mungkin terus menerus di rumah, lama-lama Rey semakin stres. Nanti, kalau Rey bekerja. Rey akan mencari orang yang akan menjaga dan mengurus mama," ujar Rey.
Sungguh pilihan yang sulit, tetapi dia harus mencari uang untuk menafkahi istri dan juga mamanya. Rey tak ingin mengikuti keinginan gila sang mama, untuk menikah kembali agar ada wanita yang bisa membantu dia mengurus sang mama. Reynaldi tak peduli lagi dengan hidupnya lagi. Semenjak kejadian waktu itu, dia menjadi bergairah. Rudalnya pun tak lagi bereaksi, tetapi dia tak peduli.
Mungkin ini semua hukuman dari Allah, karena dulu dia tak bisa menahan nap*sunya untuk memuaskan hasratnya. Dulu dia begitu perkasa di ranjang, dan sekarang rudalnya seakan mati suri. Seakan dirinya trauma, karena menyebabkan pendarahan saat bercinta.
"Iya, Rey. Mama sedih banget. Mengapa hidup kita begitu menderita. Belum cukupkah Allah memberikan cobaan kepada kita? Rasanya mama tak sanggup lagi menjalani kehidupan," ujar mama Ratih lirih. Air matanya menetes satu persatu membasahi wajahnya.
"Coba kita taubat Ma! Memohon ampun kepada Allah, agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Kita coba mulai rajin sholat dan berdzikir. Mama masih bisa sholat kok di tempat tidur. Nanti Rey ajarin caranya. Kita enggak pernah tahu, kapan kita akan pergi meninggalkan dunia. Seperti hidup kita ini, kita enggak akan pernah menyangka seperti ini. Tak ada yang patut kita sombongkan lagi di dunia ini. Kun Fayakun. Jika Allah sudah berkehendak, yang tak mungkin bagi manusia, bagi Allah akan mungkin terjadi," jelas Reynaldi.
Mama Ratih tampak menyimak ucapan sang anak, dia baru menyadarinya. Betapa banyak dosa yang dia perbuat kepada Nisa.
"Iya, Rey. Mama sudah sadar. Mama banyak dosa sama Nisa. Nisa adalah wanita yang baik, dia selalu sabar menghadapi mama. Padahal mama dulu selalu menyakiti hati Nisa. Mama menyesal, gara-gara Mama kamu harus hidup menderita. Seharusnya mama bersyukur, karena kamu hidup bahagia sama Nisa dan juga Khanza. Tapi, mama tak pernah tak peduli sama Khanza," ucap Mama Ratih di iringi isak tangis, dan bahkan dia sampai nangis sesenggukan.
"Ya sudahlah! Semua sudah terjadi. Semua sudah terlambat. Rumah tangga Rey dengan Nisa telah hancur, Nisa pun kini sudah menikah kembali, dan bahkan sebentar lagi akan memiliki anak. Nisa sedang hamil anak suami barunya. InsyaAllah Rey sudah ikhlas, Rey tak mau menggangu kebahagiaan Nisa bersama suaminya. Rey ikut senang, melihat dia bahagia. Semoga suaminya mencintai dia, dan tak menyakiti dia lagi. Cukup Rey yang seperti itu. Doakan Rey Ma, semoga Rey bisa diberikan kesempatan untuk bertemu Khanza. Dialah anak Rey satu-satunya. Semoga Khanza tak akan membenci Rey, jika Rey di pertemukan. Rey harus menjadi ayah yang bertanggung jawab, Rey harus bangkit. Rey harus bekerja, meskipun hanya sebagai cleaning service atau pekerja biasa. Yang penting halal, meskipun gajinya tak besar, InsyaAllah berkah," ujar Rey dan Mama Ratih menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Mama Ratih merasa tak tega melihat kondisi anaknya sekarang, semua gara dia yang membuat sang anak harus kehilangan segalanya.