Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Bunda Anita Sakit


__ADS_3

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan cukup lama. Mereka kini sudah bernapas lega, karena sudah sampai di rumah Bunda Anita. Mereka sempat berhenti di jalan untuk makan siang dan salat jamak takdim zuhur dengan ashar, kemudian makan malam sekaligus salat jamak takdim Magrib dengan Isya.


Meskipun mereka sedang dalam perjalanan, mereka tetap mengutamakan salat. Reynaldi juga ingin melakukan perjalanan santai, melakukan pemberhentian selama dua kali. Bahkan juga dua kali pemberhentian untuk buang air kecil.


"Assalamualaikum, Bun," panggil Nisa sambil mengetuk pintu rumah sang bunda.


Bunda Anita yang saat itu sedang tertidur, akhirnya terbangun karena mendengar suara ketukan pintu dan suara anaknya memanggil-manggil namanya. Dia mengira awalnya, hanya sebuah mimpi. Ternyata benar, sang anak, menantu, dan cucunya sudah berada di hadapannya.


"Waalaikumsalam. Ya ampun Nis, kok kamu nekat banget si tetap ke sini? Ayo masuk ke dalam!" ujar Bunda Anita.


Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Bunda Anita langsung masuk ke dalam untuk membuatkan teh manis hangat untuk anak dan juga menantunya.


"Kalian berangkat dari Jakarta jam berapa? Kok mau ke sini tidak bilang-bilang dulu? Nekat kamu Nis, lagi hamil tua berani jalan jauh. Ayo diminum dulu teh hangatnya," ujar sang Bunda sambil meletakkan dua cangkir teh hangat untuk anak dan juga menantunya di meja tamu.


"Jam 10.00 WIB, Bun. Tetapi banyak berhenti, karena Nisa 'kan sedang hamil. Jadi kami melakukan perjalanan santai. Kenyamanan Nisa yang terpenting. Keselamatan juga," ungkap Reynaldi dan Bunda Anita tampak menganggukkan kepalanya.


"Semoga kandungan kamu sehat ya Nis, kamu juga sehat! Di jaga baik-baik, sebentar lagi kalian bisa melihat anak kalian lahir," ucap Bunda Anita. Benar dikatakan sang bunda, dia pun berusaha untuk menjaganya.


Saat itu Khanza masih tertidur, hanya di pindahkan saja dari mobil ke kamar. Mereka memilih berbincang terlebih dahulu sebelum mereka tidur. Nisa sambil menyiapkan air hangat untuk dirinya dan juga Reynaldi mandi.


Reynaldi tak merasa canggung mengobrol dengan Bunda Anita, seakan dirinya tak memiliki salah apa-apa. Untungnya Bunda Anita tak membahasnya juga. Dia tak ingin merusak momen kebersamaan ini. Namun, jika sekali lagi Reynaldi akan menyakiti anaknya kembali. Tentu saja Bunda Anita tak akan tinggal diam.


"Mas, mandi dulu! Airnya sudah aku siapkan," ujar Nisa kepada sang suami.


Reynaldi sedang mandi, dan Nisa memilih mengobrol dengan sang bunda.

__ADS_1


"Bunda yakin tidak apa-apa? Wajah Bunda pucat, besok kita coba periksa ya!"


"Bunda baik-baik saja, Nis. Mungkin hanya kecapean saja, soalnya kemarin itu sempat ada pesan kue untuk hantaran lamaran 10 loyang. Jadi, Bunda kurang istirahat," jelas sang bunda.


"Besok-besok, jangan seperti itu lagi ya Bun! Nisa khawatir, takut Bunda sakit. Nisa sayang Bunda. Kalau memang uang yang dari Nisa kurang, Bunda tinggal bicara saja! Jangan sungkan-sungkan! Daripada Bunda harus kerja banting tulang lagi, demi memenuhi kebutuhan hidup," ungkap Nisa.


"Iya. Tadinya 'kan Bunda pikir sayang itu rezeki, masa ditolak? Bunda juga tak mau merepotkan kamu terus. Kamu juga 'kan katanya ingin punya usaha batik," ujar sang bunda.


Bunda Anita adalah pahlawan bagi Nisa. Tanpa dukungan sang bunda, dia tak mungkin bisa seperti ini. Perjuangan sang bunda sebagai single parent, bukanlah hal yang mudah. Kini sudah saatnya untuk dirinya membalas semua perjuangan sang bunda.


"Yang, gantian sana kamu yang mandi," ujar Reynaldi. Reynaldi sudah selesai mandi, kini wajah dan tubuhnya sudah terasa segar.


Kini giliran Reynaldi yang mengobrol dengan Bunda Anita. Bunda Anita memberi pesan kepada menantunya, untuk tidak menyakiti hati anaknya lagi.


"Iya, Bun. Rey, janji tak akan menyakiti hati Nisa lagi. Kemarin Rey akui, Rey khilaf Bun. Rey tak ingin kehilangan Nisa, Rey sangat menyayangi Nisa," ungkap Reynaldi membuat Bunda Anita merasa senang mendengarnya. Dia berharap, kalau menantunya bukan hanya manis ucapannya saja.


Setelah Nisa selesai mandi, mereka memutuskan untuk tidur beristirahat. Reynaldi memilih untuk tidur di kursi panjang. Karena tak akan cukup kalau dirinya tidur di kamar juga bersama anak dan juga istrinya.


"Rey, Khanza kamu pindahkan saja sama Bunda! Agar kamu tak tidur di luar, bisa tidur sama Nisa," ujar Bunda Anita.


Dirinya merasa tak tega membiarkan menantunya tidur di luar, bisa mengamuk ibunya kalau mengetahui hal ini. Bunda Anita ingin memberikan kesempatan kepada menantunya bisa berduaan dengan anaknya. Kini mereka berdua sudah berada di kamar.


"Yang, kangen," rengek Reynaldi.


Semenjak Nisa hamil, mereka hampir tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Karena kondisi kehamilan Nisa lemah. Reynaldi tak ingin mengambil resiko.

__ADS_1


"Kata dokter 'kan tak boleh, Mas," ujar Nisa.


"Mas pelan-pelan deh, janji tak akan menyakiti anak kita. Lagi pula justru menjelang kehamilan malah bagus melakukan hubungan suami istri," pinta Reynaldi memelas, dan Nisa hanya bisa menghela napas panjang.


Akhirnya Nisa menyetujuinya, Nisa langsung melucuti pakaiannya. Sama halnya dengan Reynaldi yang kini sudah dalam keadaan polos. Reynaldi memang menepati janjinya. Melakukan dengan sangat hati-hati.


"Mas, nanti mengeluarkannya jangan di dalam ya! Dicabut ya, Mas! Takutnya aku jadi mules sekarang," ujar Nisa dan Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya karena dia sudah menikmatinya.


Sudah tak mampu berkata-kata lagi, hanya rasa enak yang dia rasakan saat ini. Hingga akhirnya, Nisa pun terhanyut dalam permainan suaminya.


Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB, Bunda Anita tiba-tiba saja merasakan dadanya terasa sakit. Saat itu dirinya hendak mengambil air wudhu untuk salat Tahajud. Hingga akhirnya dia memilih untuk duduk dulu, menahan rasa nyeri di dadanya.


"Kenapa ya? Mengapa rasanya sakit sekali? Ada apa dengan dada aku?" ucap Bunda Anita yang bermonolog dengan pemikirannya.


Bunda Anita berusaha untuk kuat, dia tak ingin membuat anaknya merasa khawatir. Wajahnya sudah bercucuran dengan keringat. Pukul 04.00 pagi akhirnya dia berteriak memanggil anaknya. Mengetuk pintu kamar Nisa, sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.


"Nis, Rey tolong bangun! Tolong Bunda Nis, Rey! Dada Bunda sakit," panggil Bunda Anita kepada anak dan menantunya.


Nisa yang mendengar suara bundanya berteriak, langsung cepat memakai pakaiannya yang terserak di lantai dan juga mencoba membangunkan suaminya.


Nisa terkejut saat melihat sang bunda sudah jatuh pingsan, tergeletak di lantai. Reynaldi langsung menggendong tubuh mertuanya ke mobil. Kemudian menggendong anaknya ke mobil. Nisa tampak sudah bersiap-siap, tak lupa membawakan dua set baju ganti dan juga keperluan lainnya. Buat berjaga-jaga kalau sampai harus dirawat.


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nisa yang melihat kondisi sang bunda seperti itu, tak mampu menahan kesedihannya. Air matanya terus menetes satu persatu. Hal yang sempat dia takutkan, akhirnya terjadi juga.


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Santi Suki

__ADS_1



__ADS_2