
Abi baru saja sampai di rumah orang tuanya. Sayangnya, kedua orang tuanya sudah tidur. Dia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Keesokan harinya dia baru akan membicarakan pernikahannya dengan Nisa kepada orang tuanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi, Mama Aida terbangun dari tidurnya. Sudah saatnya dia menunaikan ibadah sholat tahajud, tadarus Al-Quran, dan dilanjutkan sholat subuh. Sang suami pun sama sepertinya. Keduanya fokus beribadah. Papa Rahman kini sudah pensiun, menghabiskan waktunya di rumah bersama istri tercinta.
Suara ketukan pintu kamar terdengar, dan suara sang anak terdengar memanggil mereka secara bergantian.
"Pa, kok seperti suara Abi ya? Mama salah dengar enggak si?" tanya Mama Aida kepada sang suami.
Hingga akhirnya Papa Rahman bangkit dari sajadah dan berjalan membuka pintu kamarnya, dan benar saja. Sang anak kini sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Abi, tak biasanya kamu pulang ke rumah saat hari biasa?" tanya Papa Rahman kepada sang anak.
"Iya. Ada hal penting yang ingin Abi bicarakan sama mama dan papa," sahut Abi.
Kini Abi sudah bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga. Mereka memilih mengobrol di ruang tamu.
"Sebenarnya, ada apa Bi? Apa yang ingin kamu katakan kepada kami?" tanya Papa Rahman membuka pembicaraan.
"Abi mau menikah Ma, Pa hari ini," ucap Abi to the point. Membuat kedua orang tuanya melongo. Pasalnya, mereka tak pernah tahu wanita yang sedang dekat sang anak. Namun, hari ini sang anak justru memberikan berita mengejutkan kepada mereka dengan rencana pernikahannya.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan apa yang ingin kamu lakukan? Pernikahan bukan untuk main-main. Jangan sampai kamu gagal lagi untuk kedua kalinya. Apa kamu sudah mengenal jelas wanita itu?" tanya sang mama.
Pada dasarnya kedua orang tua Abi dari dulu tak pernah menentang keinginan anaknya, dia selalu mendukung keinginan Abi. Abi anak yang baik, sehingga orang tuanya sangat mempercayainya. Namun, mereka selalu berharap sang anak bisa bahagia dan mendapatkan pendamping yang tepat. Terlebih rumah tangga sang anak pernah gagal.
"InsyaAllah Abi yakin Ma, Pa. Dia wanita yang baik, hanya saja kebahagiaan belum berpihak kepadanya. Nisa sama seperti Abi. Rumah tangga pertama kami gagal. Suami Nisa selingkuh dengan mantan kekasihnya dulu, padahal mereka telah di karuniai satu orang anak. Namanya Nisa. Dia anak dari pasien Abi di rumah sakit, dan dia juga sahabatnya Fina," jelas Abi penuh keyakinan.
"Kami, sebagai orang tua sebenarnya setuju saja Bi. Kami ingin melihat kamu menikah. Hanya saja, kami sebagai orang tua, hanya bisa mengingatkan. Carilah wanita yang mengerti profesi kamu! Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi," ujar sang papa dan sang mama pun setuju dengan ucapan sang suami.
"Iya Ma, Pa. Makasih ya. InsyaAllah Abi yakin Ma, Pa. Abi yakin kalau dia wanita yang baik. Fina pun sangat mengenal Nisa. Abi juga sudah menyayangi anaknya. Abi akan menganggap anaknya seperti anak Abi sendiri. Abi minta doa dan restu dari Mama dan Papa. Semoga rumah tangga Abi dan Nisa berjalan lancar, dan kami juga bisa menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan warohmah. Abi juga bisa mendapatkan keturunan," ungkap Abi. Abi sungkem kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya tampak mengelus rambut anaknya dengan lembut. Mendoakan yang terbaik untuk sang anak.
Abi bangkit dan duduk kembali di sebelah sang mama.
"Pa, Abi minta bantuan Papa dan Mama. Karena pernikahan ini sangat singkat. Yang penting kami sah dulu menikah. Ibunya Nisa kritis, dan dia minta Abi untuk nikahi Nisa secepatnya. Surat-surat nanti saja menyusul Pa, yang penting Abi butuh seorang penghulu dan juga wali nikah. Karena Nisa tidak memiliki seorang ayah. Lagi pula pernikahan ini dadakan. Mama nanti tolong temani Abi ke toko perhiasan dan juga ke salon untuk menyewa kebaya sekalian merias Nisa," ucap Abi.
"Assalamualaikum. Mas Abi dimana? Mas, Bunda Mas. Bunda kritis. Mas Abi tolong segera ke rumah sakit," ujar Nisa diiringi isak tangis.
"Waalaikumsalam. Mas lagi di rumah orang tua. Lagi membahas pernikahan kita. Mas juga mau siap-siap menyiapkan semuanya. Tapi, kalau Bunda kritis. Mas akan prioritaskan. Biar nanti Mas minta bantuan Fina dan juga kedua orang tua Mas. Mas siap-siap dulu ya. Mas naik motor saja deh ke rumah sakitnya, biar cepat sampai di sana. Sabar dulu ya Nis, kamu minta bantuan dokter jaga dulu. Kasih tahu perawat," ujar Abi. Dia tampak khawatir.
"Untuk pernikahan tak perlu di makeup Mas. Yang penting kita sah saja. Ala kadarnya saja. Aku enggak mau memberatkan Mas. Enggak perlu beli kebaya segala. Aku pakai gamis saja," jelas Nisa.
__ADS_1
Mereka sudah sepakat hanya sekadar akad nikah, yang terpenting mereka menuruti keinginan Bunda Anita untuk menikah. Nisa pun akhirnya memilih menuruti permintaan sang ibu, meskipun dirinya baru beberapa bulan menyandang status janda.
"Ma, Pa, Ibu Anita. Bunda dari Nisa kritis. Abi harus berangkat. Abi minta tolong sama Mama, tolong belikan cincin untuk Nisa. Ini contoh ukuran cincinnya. Uangnya nanti Abi transfer. Kata Nisa tak perlu di rias atau kebaya. Karena ini sangat darurat, yang penting kami sah dulu. Tolong carikan penghulu ya Pa, kami menikah siri saja dulu. Untuk urusan surat-surat menyusul. Mama dan Papa tolong segera menyusul ke rumah sakit ya, biar ijab kabul segera di mulai. Maafkan Abi ya Ma, Pa! Maafkan sudah merepotkan kalian," ujar Abi. Abi terlihat bicara dengan terburu-buru.
Abi langsung pamit untuk berangkat. Dia mencium tangan kedua orang tuanya terlebih dahulu.
"Kamu naik motor Bi?" tanya sang mama yang mengantarkan sang anak dari depan.
"Iya Ma, biar cepat sampai. Ini darurat. Abi berangkat dulu ya Ma. Assalamualaikum," ucap Abi.
Kini dia sudah dalam perjalanan dengan menggunakan motor sportnya. Dia melajukan kendaraannya seperti orang yang kesetanan. Dia ingin segera sampai di rumah sakit. Perjalanan dengan menggunakan motor sport lebih cepat, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.
Abi langsung memarkirkan motornya, dan bergegas memasuki rumah sakit. Dia berjalan secepat kilat, hingga akhirnya dia sampai di ruang ICU.
"Mas, Bunda ...," ucap Nisa saat Abi datang.
"Kamu sabar ya! Mas akan lakukan yang terbaik. Mas masuk dulu ya. Oh ya, kedua orang tua Mas sedang mengurus persiapan pernikahan kita," ujar Abi.
"Iya, Mas," sahut Nisa.
__ADS_1
Abi memasuki ruangan tempat Ibu Anita berada. Dia langsung memeriksa keadaan Ibu Anita.