
Usia kandungan Nisa saat ini sudah empat bulan. Tentu saja perutnya sudah mulai terlihat membesar, terlebih saat ini Nisa sedang mengandung anak kembar.
"Sayang, bukannya hari ini kamu jadwal periksa kandungan ya?" tanya Abi.
"Iya, hari ini aku mau periksa kandungan aku ke rumah sakit. Kita bertemu di sana ya," sahut Nisa. Mereka kini sedang sarapan pagi.
"Oh ya, memangnya kamu ambil yang praktek jam berapa? Kalau bisa kamu ambil praktek yang jam 12.00 sampai jam 15.00 saja. Jadi, setelah aku praktek, aku bisa menemani kamu untuk periksa," ucap Abi.
"Iya Mas, aku sudah daftar yang jam segitu. Aku 'kan juga ingin ditemani Mas periksanya," ungkap Nisa dan Abi mengiyakan.
Mereka telah selesai sarapan pagi, Abi bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Seperti biasa Abi akan mengantarkan Khanza terlebih dulu ke sekolahnya. Setelah itu barulah dia pergi ke rumah sakit untuk bekerja.
"Mas berangkat bekerja dulu ya! Nanti kita ketemu di rumah sakit," ucap Abi. Abi langsung mengecup kening istrinya, dan Nisa mencium tangan suaminya, dan mengantarkan sang suami sampai depan pintu kamar apartemennya.
"Bun, Khanza berangkat dulu ya," pamit Khanza dan Nisa mengiyakan. Khanza langsung mencium tangan sang bunda.
Sudah tiga bulan lamanya dia tinggal di Jakarta. Sampai hari ini, Nisa belum kembali lagi ke Jogja. Alhamdulillah kondisi usahanya berjalan lancar. Nisa hanya memantau perkembangan usahanya dari Jakarta.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.30. Nisa memilih sholat terlebih dahulu sebelum dia berangkat ke rumah sakit. Nisa pergi ke rumah sakit dengan mengendarai mobilnya sendiri. Tak butuh waktu lama, Nisa sudah sampai di rumah sakit.
Baru saja dirinya hendak turun, dering ponselnya berbunyi. Nisa akhirnya memilih mengangkat teleponnya terlebih dahulu, dan ternyata suaminya yang menghubungi dirinya.
"Ya, Mas. Assalamualaikum," ucap Nisa mengawali pembicaraan.
__ADS_1
"Kamu dimana? Mas mau sholat dulu ya, baru saja selesai praktek," ujar Abi.
"Ya sudah, Mas sholat saja dulu! Aku sudah sampai di parkiran mobil rumah sakit. Tinggal masuk ke dalam, ke bagian pendaftaran untuk daftar ulang. Setelah itu aku baru ke ruangan mas," sahut Nisa dan Abi mengiyakan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Nisa langsung masuk ke dalam rumah sakit untuk melakukan daftar ulang. Setelah itu, barulah dia akan ke ruangan Abi.
"Iya, aku yakin kalau wanita itu adalah Nisa. Aku enggak mungkin salah lihat. Dugaan aku ternyata benar kalau wanita itu adalah Nisa. Nisa telah kembali ke Jakarta," ucap Reynaldi dalam hati.
Saat itu Reynaldi baru saja selesai menyapu lantai di dekat bagian pendaftaran. Reynaldi memilih mencari tempat untuk bersembunyi, dia berniat mengikuti Nisa untuk memastikannya lebih jelas.
Setelah selesai melakukan pendaftaran, Nisa langsung berjalan ke arah ruangan Abi berada. Kini Nisa sudah berada di depan ruangan Abi, dia langsung mengetuk pintu ruangan Abi, kemudian Abi langsung membukakannya.
"Ternyata benar kalau dokter Abi itu adalah suami Nisa yang baru. Selamat ya Nis, semoga kamu mendapatkan pengganti aku yang lebih baik dan lebih sempurna dari aku. Semoga kamu bisa hidup bahagia," ucap Reynaldi dalam hati.
Reynaldi diam terpaku saat Nisa dan Abi keluar dari ruangan. Nisa dan Abi melihat Reynaldi yang sedang melamun menghadap ke ruangan Abi.
"Mas Reynaldi? Mas Reynaldi sekarang kerja di sini?" Tanya Nisa. Nisa sempat terkejut melihat kondisi mantan suaminya saat ini.
Nisa bersikap baik, meskipun saat ini Reynaldi menjadi seorang cleaning service. Nisa merasa tak malu untuk menyapa mantan suaminya dulu, membuat Reynaldi semakin menyesal karena sang mantan istrinya memiliki hati yang begitu baik.
"Iya, ini aku Reynaldi. Apa kabar Nis? tanya Reynaldi.
"Alhamdulillah baik, seperti yang Mas lihat. Mas gimana kabarnya. Oh ya Yang, kenalkan ini Mas Rey, mantan suami aku, ayahnya Kanza," Nisa mengenalkan Abi dengan Rey.
__ADS_1
Meskipun jabatan Abi lebih tinggi dari Rey, Abi tak bersikap sombong. Dia langsung mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Renaldi. Mereka saling mengucap nama.
"Gimana ceritanya Nis? Kok kamu sekarang pindah ke Jakarta lagi? Bukannya kamu dulu setelah kita berpisah, kamu memutuskan untuk tinggal di Jogja?" Tanya Rey.
"Iya, Mas. Awalnya aku juga mikirnya gitu, aku lebih memutuskan tinggal di Jogja. Tapi ternyata, Mas Abi dipindahkan tugasnya ke Jakarta. Ya sudah, mau tak mau aku dan Kanza ikut pindah ke Jakarta. Oh ya ngomong-ngomong Khanza, Khanza ke mana? Gimana kabarnya? Kemarin aku sempat WhatsApp dia, tetapi dia tak membalas pesan dari aku," ujar Rey.
"Oh, Mas sempat WhatsApp Khanza? Tapi Khanza enggak cerita ya sama aku. Sepertinya dia kecewa sama mas, selama ini dia selalu berharap Mas menghubungi dia. Eh ternyata Mas tak juga menghubunginya. Wajarlah Mas, Jika dia melakukan hal itu sama mas. Karena mas yang memulainya," sahut Nisa.
"Maafin, mas ya. Mas akui, mas salah sama kamu dan juga Khanza. Mas sudah menyakiti hati kamu dan juga Khanza. Sekarang Mas benar-benar sudah menyesal," ungkap Rey. Terlihat sekali penyesalan di wajah Rey.
"Iya Mas, mungkin itu sudah jalannya. Aku sudah ikhlaskan semuanya, agar aku bisa hidup tenang dengan masa Abi. Aku sudah mengubur masa laluku yang kelam. Kini aku sudah berbahagia sama mas Abi. Mungkin kita tidak berjodoh, sehingga kita harus berpisah dan akhirnya aku dipertemukan dengan mas Abi. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menikah, dan saat ini aku sedang mengandung anak kembarnya mas Abi. Aku pun sudah hidup bahagia," sahut Nisa.
"Iya, selamat ya. Semua ini balasan atas perbuatan aku. Kehidupanku justru berbanding terbalik tak seperti kamu sekarang yang kini hidup bahagia. Mama aku jatuh di kamar mandi, hingga kini dia mengalami lumpuh, dan harus terbaring lemah di ranjang. Sedangkan Viona istri aku, saat ini dia mengidap penyakit kanker serviks. Dia tak bisa memberikan aku keturunan. Setelah aku kehilangan pekerjaan waktu itu, aku pun harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, dan asal kamu tahu. Aku pun pernah masuk penjara, karena aku terlibat korupsi. Hingga akhirnya Mama terpaksa harus menjual rumahnya, untuk membebaskan aku. Saat ini aku mengontrak di sebuah perumahan, aku ngontrak tahunan," jelas Reynaldi.
"Aku juga terpaksa mengambil pekerjaan ini, karena selama ini aku kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru. Ya, meskipun hanya seorang cleaning service. Paling tidak aku bisa mencari rezeki yang halal, untuk membiayai mama dan istriku," ujar Rey.
Abi mengingatkan Nisa, kalau mereka harus periksa. Hingga akhirnya percakapan mereka harus diakhiri.
"Nis, aku titip salam untuk Khanza. Sampaikan padanya kalau aku merindukannya. Oh ya, apa aku boleh bertemu dengan Khanza?" tanya Reynaldi.
"Tentu saja boleh, aku tak pernah melarang kamu untuk bertemu dengan Khanza. Namun selama ini, kamu yang justru melupakan Khanza. Silakan kamu hubungi Khanza, jika kamu ingin bertemunya! Maaf, aku tak bisa memberikan nomor aku ke kamu," ujar Nisa dan Rey mengiyakan. Dia harus terima keputusan Nisa.
Reynaldi hanya bisa menatap kepergian Nisa bersama Abi. Tanpa sadar air matanya menetes satu persatu membasahi wajahnya. Kini hanyalah tinggal penyesalan, melihat sang mantan istrinya begitu bahagia dengan laki-laki lain. Menyambut buat hati mereka.
__ADS_1