
Setelah Reynaldi memutuskan hubungannya dengan Viona. Viona mencoba menyakinkan dirinya untuk membuka hatinya kembali untuk laki-laki lain.
"Bagaimana Vi? Apa kamu setuju? Menerima perjodohan ini?" tanya sang Mama.
Memang, kedua orang tuanya tidak memaksakan dirinya untuk menerima perjodohan ini. Orang tuanya hanya ingin Viona cepat mendapatkan pengganti suaminya dulu. Orang tua Viona tidak mengetahui hubungan anaknya dengan Reynaldi yang sempat terjalin lagi.
Viona masih terdiam, dia masih berpikir.
"Sampai kapan kamu ingin menjadi janda? Apa kamu tak ingin merasa bahagia? Mama yakin Reza anak yang baik," ujar sang Mama.
Sang mama, mengira kalau Viona belum bisa move on dari mantan suaminya dan bahkan anaknya mempunyai trauma akan sebuah pernikahan. Selama ini Viona menutupi hubungannya dengan Reynaldi dari orang tuanya.
"Gimana Vi? Apa kamu setuju?" tanya sang Mama. Hingga akhirnya Viona mengiyakan ucapan sang Mama. Viona menerima perjodohan ini.
Hari minggu ini akan ada pertemuan keluarga kedua belah pihak. Mereka akan saling mengenalkan anak mereka masing-masing. Mungkin pertemuan ini bisa dikatakan terlalu singkat. Kedua belak pihak sudah memutuskan akan mempercepatnya.
"Syukurlah kamu menerima perjodohan ini. Reza anak yang baik, mapan, dan juga dia masih bujangan belum pernah menikah. Semoga kelak dia bisa membahagiakan kamu," ucap sang Mama, dan Viona hanya menganggukkan kepalanya. Meskipun dirinya sebenarnya masih berat dengan Reynaldi.
Hari ini adalah hari pertemuan mereka. Pihak keluarga Viona sudah menyiapkan untuk pertemuan hari ini. Menyiapkan berbagai macam hidangan untuk disajikan di acara pertemuan.
Rencananya, keluarga Reza akan hadir pukul 10.00 pagi WIB. Hari ini akan menjadi hari penentu. Apabila Viona dan Reza setuju dengan perjodohan ini, acara pernikahan ini akan dipercepat. Kedua orang tua Viona menginginkan anaknya cepat mendapatkan kebahagiaan.
"Kamu cantik Vi, pakai pakaian muslim dan memakai hijab seperti itu," puji sang Mama, dan Viona hanya membalas dengan senyuman.
__ADS_1
Sebenarnya Viona masih merasa ragu, hatinya masih ada nama Reynaldi. Tak terasa air matanya menetes, mengingat akan kenangan indah bersama Reynaldi. Bagaimanapun Reynaldi telah hadir di hidupnya, membawa keindahan. Meskipun hanya sementara.
Tetapi dirinya tersadar, dia tidak mungkin terus-menerus merasakan kesedihan seperti ini, dia pun ingin mendapatkan kebahagian. Meskipun kebahagiaan itu tidak dia dapat dari Reynaldi laki-laki yang sangat dia cintai dan sayangi. Dia akan mencoba untuk menerima Reza sebagai suaminya.
Pihak keluarga Reza telah sampai di kediaman orang tua Viona. Viona keluar dari kamarnya menghampiri Reza dan keluarganya di ruang tamu, kemudian Viona memilih untuk duduk di samping Ibunya.
"Ayo Viona dan Reza saling berkenalan," ucap Mamanya Viona. Mereka saling berjabat tangan, memperkenalkan diri.
Viona memberikan senyuman termanisnya untuk laki-laki yang berada di hadapannya. Jika dibandingkan Reza, dari segi fisik Reynaldi memang lebih unggul. Namun, jika dari segi mapan. Keduanya sudah sama-sama mapan.
"Bagaimana? Apa kalian menerima perjodohan ini?" tanya Papanya Viona. Viona dan Reza sama-sama menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Meskipun Viona tampak malu-malu.
Pertemuan hari ini berjalan lancar, kedua pasangan menerima perjodohan ini. Reza menyukai Viona, meskipun Viona lebih tua darinya dan Viona berstatus janda. Pihak keluarga semua merasa bahagia, karena akhirnya anak-anak mereka setuju menerima perjodohan ini. Mereka tak henti-hentinya mengucap kata syukur.
"Baiklah, kalau kalian sudah setuju. Kita hanya tinggal mengurus semua rencana persiapan pernikahan dan acara pernikahan" ujar sang Papa.
"Sebentar lagi, aku akan menikah dan menjadi istri orang. Padahal sebenarnya, aku ingin menikah dengan Reynaldi," ucap Viona dalam hati. Hatinya terasa teriris, sangat mengingat Reynaldi tak akan pernah menjadi miliknya.
Viona berusaha untuk ikhlas menerimanya, mungkin ini semua jalan hidupnya dan dia tidak pernah berjodoh dengan Reynaldi. Meskipun dirinya dan Reynaldi berusaha keras untuk bersama. Kini dirinya harus pasrah melewati semuanya. Dia tidak akan bisa melawan takdir hidupnya.
Saat acara makan bersama untuk menikmati hidangan yang telah disediakan, Reza mencoba mengajak Viona mengobrol duluan. Dia berusaha untuk mengenal Viona yang akan menjadi istrinya kelak. Meskipun usianya Reza lebih muda dari Viona, dia justru terlihat lebih dewasa.
"Ternyata laki-laki ini asyik juga diajak bicara. Ada kocaknya juga dan supel," gumam Viona dalam hati.
__ADS_1
Viona mencoba membuka hatinya untuk calon suaminya. Dirinya berusaha untuk menikmati awal pertemuan mereka. Mereka sudah terlihat akrab. Reza memiliki sifat mudah bergaul dan juga ramah, membuat Viona terhanyut dalam percakapan Reza. Melihat kedekatan mereka, kedua orang tua mereka sangat bersyukur.
"Oh ya, aku minta nomor telepon kamu dong! Aku boleh 'kan menghubungi kamu," ucap Reza dan Viona mengiyakan. Dia langsung memberikan nomor teleponnya kepada Reza.
"Ok aku save ya," ujar Reza dan Viona hanya menganggukkan kepalanya. Viona lebih banyak terlihat diam, untungnya Reza tipe laki-laki yang aktif.
Mereka yakin akan ada istilah kata, cinta hadir jika sering bersama. Meskipun pernikahan mereka, karena perjodohan. Mereka akan membuktikan, untuk menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.
Rombongan keluarga Reza pamit pulang, Viona beserta kedua orang tuanya mengantarkan Reza sampai mobil mereka pergi meninggalkan rumah.
"Vi, kamu serius 'kan menerima lamaran Reza? Kamu akan berusaha membuka hati kamu untuk Reza?" tanya sang mama.
"Iya, Ma. Mama tak perlu khawatir. Jika Vi, sudah memutuskan menikah dengan Reza. Berarti Vi sudah benar-benar serius menjalaninya," jelas Viona.
Viona pamit untuk masuk ke kamar. Dia sudah tak tahan untuk menahan kesedihannya. Mengapa harus Reza yang melamarnya? Mengapa bukan Reynaldi yang dia cintai? Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa.
Viona mengambil ponselnya dan menatap foto kebersamaannya dengan Reynaldi, hatinya begitu sakit. Mengapa harus ada Nisa di antara mereka? Dapat dia lihat, senyuman Reynaldi untuknya sangat tulus, tetapi sayangnya Reynaldi kini sudah dimiliki Nisa lebih dulu.
"Ay, aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu, aku menginginkan kamu yang menjadi suamiku aku. Mengapa takdir mempermainkan kita, membuat kita sulit sekali untuk bertemu," ujar Viona yang meratapi hidupnya. Viona selalu berusaha untuk melupakan Reynaldi, tetapi semakin dia mencobanya. Bayangan itu semakin nyata.
Berbeda halnya dengan Viona yang tak pernah bisa untuk move on dari Reynaldi, Reynaldi justru sedang bahagia karena sang istri tengah mengandung anak keduanya. Reynaldi berusaha untuk menjadi suami siaga untuk istrinya. Dia ingin mengambil hati istrinya, agar istrinya mau memaafkan dirinya lagi.
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Yeni Sri Wahyuni
__ADS_1