Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Permintaan Viona


__ADS_3

Rey mengantarkan Nisa dan Abi sampai lobby, sekalian dia ingin membelikan sang ibu mertua makan. Padahal, seharian ini Rey belum makan. Tapi, dia tak nap*su makan. Dia hanya mementingkan ibu mertuanya.


Rey hanya bisa menatap kepergian mantan istri dan suami baru sang istri.


"Semoga kamu bahagia Nis sama suami baru kamu. Aku ikhlaskan kamu untuk bersamanya. Aku sadar, kalau aku tak pantas untuk kamu," ucap Reynaldi.


Rey berjalan keluar dari rumah sakit, berniat untuk membeli makanan. Suara klakson mobil terdengar, Rey menengok ke arah sumber suara. Ternyata suara klakson mobil Abi. Abi juga membuka kaca jendela, menyapa Rey.


Rey sempat melirik ke arah wanita yang berada di sebelah Abi. Tak ada lagi harapan untuknya bisa kembali lagi kepada Nisa. Mengikhlaskan, jalan yang terbaik.


Setelah membeli makanan untuk ibu mertuanya dan juga membeli cemilan, dan minuman untuknya, Rey bergegas masuk ke dalam. Rey datang dengan menenteng dua buah plastik berisi makanan untuk mertuanya, minuman, dan juga cemilan.


"Ma, ini makanan untuk mama. Aku masuk dulu ya ke dalam," ujar Rey.


"Kamu enggak makan Rey? Sejak tadi mama belum lihat kamu makan," ujar Mama Susan.


"Nanti saja Ma, aku belum lapar. Mama makan saja duluan, aku mau ke Viona dulu," sahut Reynaldi.


Reynaldi masuk kembali ke ruangan sang istri berada. Reynaldi duduk di kursi dekat istrinya.


"Ay, aku punya satu permintaan kepada kamu. Aku berharap kamu bisa mengabulkannya. Mungkin, waktu aku enggak lama lagi di dunia ini. Makanya, di sisa-sisa umurku. Aku ingin selalu bersama kamu. Aku ingin selalu dekat sama kamu.


"Iya, iya aku janji. Aku akan mengabulkan permintaan kamu. Aku akan berusaha untuk selalu ada untuk kamu. Malam ini, aku juga sudah memutuskan untuk menginap di rumah sakit menemani kamu. Nanti aku tunggu di luar. Semoga saja kamu sudah bisa dipindahkan ke ruangan perawatan. Jadi, aku bisa menemani kamu. Biar mama pulang saja ke rumah. Kasihan sudah tua, aku takut dia sakit. Besok, aku berangkat kerja. Baru deh Mama kamu yang menemani kamu," ujar Reynaldi.


"Makasih ya Ay. Tiada yang lebih bahagia untuk aku, selain aku bisa selalu dekat sama kamu. Aku mencintai kamu. Kelak, cinta ini aku akan bawa sampai mati," ungkap Viona.


"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Aku mau ambil baju ganti dulu, sekalian aku mau bilang sama mama dulu. Kamu enggak apa-apa 'kan, aku tinggal dulu? Biar mama juga bisa pulang, nanti kalau kamu perlu apa-apa kamu bilang saja sama suster ya. Nanti aku titip sama suster," ujar Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Sebelum pulang, Reynaldi berniat bertanya dulu kepada perawat. Tentang kondisi istrinya saat ini. Dia berharap sang istri bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Agar dia bisa lebih dekat dengan sang istri, karena di ruang ICU tidak boleh ditemani terus menerus.


Reynaldi keluar meninggalkan Viona, untuk pulang. Dia langsung menghambat ibu mertuanya.


"Sebaiknya Mama sekarang pulang saja dulu! Rey khawatir kalau mama nanti sakit. Biar malam ini Rey saja yang menunggu Viona di rumah sakit. Sekarang aku mau pulang dulu ambil baju, untuk kerja besok. Besok pagi Rey langsung kerja. Kalau memang besok Mama sempat datang, mama kesini pagi. Tapi, kalau memang mama enggak sempat, biar Viona nanti aku titip saja sama perawat," ujar Reynaldi.


"Ya sudah, kalau seperti itu Mama pulang dulu deh. Mama juga belum bawa pakaian ganti. Besok pagi mama ke sini lagi, sekalian bawakan makanan untuk Viona. Mungkin saja Viona jadi nap*su makan," sahut Mama Susan.


"Iya Mah, makasih ya Mah. Maaf sudah merepotkan mama," ucap Reynaldi.


"Tak apa-apa, Vona itu 'kan anak Mama. Sudah sewajarnya mama mengurus dia. Alhamdulillah Mama masih diberikan kesehatan dan umur panjang. Jadi, bisa mengurus dia," ujar Mama Susan.


"Iya Mah, aku mau ke tempat perawat dulu. Mau nanya kondisi Viona sekarang. Kalau memang sudah bisa dipindah ke ruang perawatan, aku ingin minta Viona dipindahkan ke ruang perawatan. Agar kita bisa lebih bebas dekat sama Viona. Tadi juga Viona ngomong sama Rey, dia bilang ingin selalu dekat sama Rey," ujar Reynaldi.


"Iya, Rey. Viona sangat mencintai kamu, bahkan demi kamu dia punya semangat untuk hidup. Karena dia selalu ingin bersama kamu. Tolong bahagiain Viona! Beri dia semangat," ucap Mama Susan.


"Iya Mah, aku akan lakukan. Rey juga cinta sama Viona. Mungkin jodoh kita nanti terpisah karena maut," jawab Mama Susan.


"Permisi mba, saya suami dari pasien atas nama Viona Agustina. Saya mau tanya kondisi istri saya sekarang. Apa sudah membaik? Apa sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan? Karena dia ingin saya terus menemaninya," ucap Reynaldi.


"Coba saya tanyakan dulu ya Pak ke dokter. Kalau memang kata dokter sudah memungkinkan Ibu Viona alat bantunya bisa dilepas, kami bisa memindahkan ke ruangan perawatan," jelas sang perawat.


"Oh gitu,ya? Ya sudah, saya sekarang mau pulang dulu ambil pakaian. Saya titip dulu Ibu Viona ya, Sus! Tolong diperhatikan kalau dia butuh sesuatu," ujar Reynaldi.


"Baik pak," sahut sang perawat.


Akhirnya Reynaldi pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumah. Tak butuh waktu lama, akhirnya Reynaldi sampai di rumah. Reynaldi langsung menghampiri sang mama untuk melihat kondisi sang mama. Ternyata Mama Ratih, saat itu belum tidur.

__ADS_1


"Darimana saja kamu baru pulang? Pasti kamu mengurus wanita penyakitan itu 'kan? Dia jatuh pingsan, pasti kondisinya kritis 'kan dia?" cerocos Mama Ratih.


"Iya mah, kondisi Viona sempat kritis. Mamanya tadi mencari keberadaan Reynaldi. Viona juga meminta Reynaldi mencari Nisa, karena dia ingin meminta maaf karena telah menyakiti hati Nisa. Dia ingin pergi dengan tenang," sahut Reynaldi.


"Terus Nisa mau datang? Mau memaafkan dia?" Tanya Mama Ratih menyelidik.


"Tentu saja dia mau. Dia adalah wanita yang baik, dan asal Mama tahu. Suami Nisa yang sekarang itu adalah mantan suaminya Viona. Tadi Viona juga meminta maaf kepada mantan suaminya itu, karena dulu Viona sempat menghina suaminya mengatakan kalau suaminya itu mandul, dan sekarang terbukti. Suaminya itu tidak mandul, karena Nisa saat ini sedang hamil, bahkan hamil anak kembar. Sekarang terbukti justru Viona yang bermasalah, tak bisa memberikan anak," jelas Reynaldi.


"Ya sudah, sudah ketahuan seperti itu untuk apa lagi kamu pertahankan wanita penyakitan itu. Kamu itu hanya dibikin susah saja sama dia. Lebih baik kamu ceraikan dia. Tinggalkan saja dia, enggak ada gunanya juga kamu mengurus dia," ucap Mama Ratih ketus.


"Ma, aku mohon jangan bicara seperti itu lagi! Bagaimanapun Viona itu istri aku, dia sudah banyak berjuang untuk tetap bersama aku. Tak mudah baginya untuk melewati semua ini. Masa iya aku tega meninggalkan dia, dengan kondisinya seperti ini. Bahkan tadi, dia meminta aku untuk selalu menemaninya," ucap Reynaldi tegas.


"Ini makanya aku pulang, mau mengambil pakaian kerja dan untuk keperluan lainnya. Setelah ini, aku kembali lagi ke rumah sakit. Aku menginap di sana, menemani Viona. Mama sama bibi dulu ya di rumah! Nanti kalau kondisi Viona sudah membaik dan sudah diperbolehkan pulang, Rey akan pulang," ucap Reynaldi mencoba memberi pengertian.


"Kamu itu dari dulu selalu saja membela istri, dibandingin Mama kamu sendiri. Padahal kamu itu 'kan tahu, kalau mama kamu ini sakit hanya bisa terbaring. Enggak bisa apa-apa. Tapi kamu, justru malah mengkhawatirkan orang lain," protes Mama Ratih.


"Ma, cukup Ma. Viona itu bukan orang lain, Viona itu istri aku. Sudah sepantasnya aku menemani dia disisa-sisa hidupnya. Sudah sewajarnya aku mengurus dia. Tolonglah mah jangan seperti ini! Tolong mama mengerti posisi Rey. Bukannya aku enggak peduli sama mama. Tapi, saat ini Viona yang lebih membutuhkan Rey. Mama 'kan ada Bibi. Meskipun mama tidak bisa bangun dari tempat tidur," ujar Reynaldi.


"Sudahlah, susah bicara sama kamu. Selalu saja membela istri kamu itu. Padahal istri kamu itu sudah penyakitan. Ya sudah, kamu terima saja penderitaan kamu. Sudah sana, mama males bicara sama kamu," usir sang Mama.


Dengan perasaan sedih, akhirnya Reynaldi pergi meninggalkan kamar. Reynaldi prihatin melihat sikap mamanya yang tak pernah berubah. Padahal Allah sudah menghukumnya. Tetapi dia masih saja bersikap seperti itu. Tak ingin membiarkan Viona menunggu terlalu lama. Reynaldi memutuskan langsung menyiapkan pakaian kerjanya dan pakaian ganti untuk dirinya dan juga Viona. Setelah semuanya selesai disiapkan. Reynaldi langsung pergi kembali.


"Ma,maafkan Rey ya mah. Rey terpaksa melakukan ini, karena Viona lebih membutuhkannya," ucap Rey dalam hati.


"Bi, saya titip Mama saya dulu ya sama bibi! Saya harus menjaga istri saya dulu di rumah sakit. Ini uang untuk makan," ujar Reynaldi.


Reynaldi kini sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Setelah sampai, dia langsung bergegas menuju tempat sang istri. Rey menatap wajah sang istri dari balik jendela, dia melihat Viona yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat pucat, tak bercahaya seperti dulu.

__ADS_1


Sulit rasanya dia menelan makanan. Saat mengingat kondisi Viona saat ini. Reynaldi berharap Viona bisa diberikan umur panjang. Dia tak peduli, meskipun Viona botak dan hanya terbaring lemah di ranjang. Yang terpenting baginya, dia masih bisa menatap wajah istrinya.



__ADS_2