Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keterpurukan Reynaldi


__ADS_3

"Jika sampai hari ini kamu tak bisa mengembalikan uang yang kamu pakai, kasus ini akan naik ke pengadilan. Semakin sulit saja kamu bebas cepat," ujar sang polisi. Membuat Reynaldi terlihat ketakutan.


Bagaimana nasibnya nanti kalau sampai dia di penjara dalam jangan waktu yang cukup lama. Baru 3 hari saja di penjara, dia merasa begitu tersiksa.


"Kamu kemana si Ay? Kenapa kamu enggak menolong aku? Mama juga kenapa enggak datang menolong aku? Rey, takut ma. Rey ingin bebas," ucap Reynaldi lirih.


Setiap harinya Reynaldi terus menanti kedatangan istri dan juga ibunya datang membawa sejumlah uang untuk menutup kasus itu.


Sama halnya dengan sang anak, Mama Ratih pun tampak kebingungan. Karena sampai saat ini dia belum juga mendapatkan uang pinjaman untuk mengeluarkan sang anak dari penjara.


Lamunan Mama Ratih harus terhenti, saat mendengar suara telepon rumahnya berdering. Dia bergegas untuk mengangkatnya.


"Selamat pagi. Apa benar ini rumah Ibu Ratih, orang tua dari Reynaldi?" ucap sang polisi di panggilan telepon.

__ADS_1


"Iya, benar. Saya ibu Ratih, orang tua dari Reynaldi. Apa yang terjadi dengan anak saya pak?" tanya Mama Ratih. Dia tampak tegang, jantungnya berpacu lebih cepat. Dia khawatir, terjadi sesuatu dengan sang anak.


Inilah titik terendah bagi Mama Ratih. Dikala sang anak membutuhkan uang, dia tak memiliki uang. Sang polisi mengatakan, kalau kasus Reynaldi akan naik ke pengadilan. Jika Mama Ratih tak menebus sang anak.


"Payah si Viona, tak bisa membantu si Reynaldi. Padahal dia juga yang menjadi penyebab Reynaldi seperti itu," gerutu Mama Ratih.


Mama Ratih tampak terlihat bingung. Sejak tadi dia terlihat gelisah. Dia pandangi ruangan sekitarnya.


"Ya Allah, masa iya aku harus menjual rumah ini demi menyelamatkan Reynaldi? Aku sayang sama rumah ini, tetapi kasihan juga Reynaldi kalau enggak aku tolong," ucap Mama Ratih. Dia terlihat sedih, karena hanya Reynaldi yang dia miliki di dunia ini.


Mama Ratih mencoba menghubungi teman sosialitanya, untuk mengungkapkan keinginannya menjual rumah yang dia tempat saat ini.


"Halo, Jeng Ratih. Apa kabarnya? Sudah lama banget Jeng Ratih tak ada kabarnya," ujar Jeng Poppy.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik Jeng Poppy. Tapi, saya lagi kesulitan masalah ekonomi. Saya berniat untuk menjual rumah ini. Saya butuh uang untuk menolong anak Saya," ungkap Mama Ratih.


"Memangnya si Reynaldi kenapa? Bukannya dia sudah manager?" tanya Jeng Poppy.


Mama Ratih mulai menceritakan atas apa yang terjadi pada Reynaldi. Tentu saja, dalam hal ini dia pasti akan menyalahkan Nisa. Mengkambing hitamkan Nisa dalam permasalahan ini.


Mama Ratih mengatakan kalau Nisa mengadu domba Reynaldi dengan bosnya Reynaldi di kantor, membuat Reynaldi di pecat, dan akhirnya bekerja di tempat baru lagi. Reynaldi dituduh korupsi, padahal dia tak melakukan hal itu.


"Kok Nisa bisa seperti itu? Setahu Saya dia wanita yang baik. Rasanya tak mungkin kalau Nisa berbuat seperti itu. Pasti ada sesuatu yang membuat dia seperti itu. Reynaldi kali buat kesalahan kepada Nisa," ujar Jeng Poppy. Membuat Mama Ratih merasa kesal.


"Selalu saja pada membela si wanita breng*sek itu. Padahal, dialah orang yang membuat Reynaldi hidup menderita seperti ini," umpat Mama Ratih.


"Memangnya mau dijual berapa?" tanya Jeng Poppy.

__ADS_1


Jeng Poppy terkejut saat mendengar jawaban dari Mama Ratih tentang harga dari rumah itu. Mama Ratih merasa semakin merasa kesal, karena merasa kalau Jeng Poppy mengejeknya.



__ADS_2