
Mata Abi membulat sempurna, dia begitu terkejut saat membaca pesan chat yang dikirim Rey. Tentu saja membuat Nisa merasa bingung, melihat ekspresi wajah suaminya.
"Kenapa Mas? Memangnya ada apa? Siapa yang mengirimkan pesan itu Mas?" Tanya Nisa.
"Reynaldi, Reynaldi yang mengirimkan pesan chat kepadaku. Dia memberitahu, kalau Viona saat ini sedang kritis, dan dia ingin bertemu kamu untuk meminta maaf. Rey juga menanyakan alamat tempat tinggal kita. Dia ingin bertemu sama Khanza untuk meminta maaf secara langsung. Dia masih berharap kalau Khanza mau memaafkan dirinya," jelas Abi.
Meskipun Viona dulu bersikap jahat kepadanya, Nisa tetap saja merasa tak tega mendengarnya.
"Ya Allah Mas, kasihan banget Viona. Tolong antarkan aku ke rumah sakit ya Mas menemui dia. Meskipun dia dulu jahat sama aku, tapi aku enggak tega mendengarnya. Allah saja mau memaafkan hambanya yang berdosa, masa iya aku enggak bisa memaafkan kesalahannya. Apalagi Allah sudah membalaskan semua rasa sakit dan penderitaan aku dulu, hingga dia harus menderita di sisa hidupnya. Biarkan dia pergi dengan tenang, aku tak ingin memiliki dendam dengannya.
"Kamu Memang wanita yang luar biasa sayang. Mau memaafkan orang yang menyakiti hati kamu," puji Abi sambil mengelus punggung istrinya dengan lembut.
"Untuk apa lagi aku memiliki dendam kepadanya. Harusnya aku bersyukur dan berterima kasih kepadanya. Karena dia, akhirnya aku bisa bertemu kamu, dan merasakan kebahagiaan karena memiliki suami yang luar biasa seperti kamu," sahut Nisa membuat Abi tersenyum.
Abi dan Nisa sepakat untuk menunda mengizinkan Rey mendatangi apartemennya. Mereka khawatir, kalau nantinya Khanza akan marah padanya. Masih butuh waktu, untuk menghapus rasa kecewa Khanza kepada sang ayah.
"Aku siap-siap dulu ya Mas. Setelah ini tolong anterin aku ke rumah sakit ya," ujar Nisa.
Sebelum bersiap-siap, Nisa masuk dulu ke kamar anaknya. Dia ingin memberitahu kalau bunda dan papanya mau ke rumah sakit menemui Viona.
"Ka, bunda sama Papa Abi mau keluar dulu ya sebentar. Tante Viona, istri ayah kritis. Dia ingin bertemu bunda, untuk meminta maaf. Tadi ayah chat papa, meminta tolong agar bunda bisa menemui Tante Viona," ucap Nisa.
"Bunda itu ngapain sih masih saja ngurusin orang seperti itu? Biar saja dia mati dengan penyesalannya. Lebih baik Bunda enggak usah pedulikan dia lagi. Memangnya Bunda enggak ingat, betapa jahatnya dia dulu sama Bunda? Dia itu sudah terlalu banyak nyakitin Bunda," cerocos Khanza. Terlihat sekali kemarahan di wajah Khanza.
"Hus enggak boleh ngomong seperti itu. Sebagai manusia kita harus saling memaafkan. Apalagi kamu 'kan tahu, kalau Tante Viona sudah mendapatkan balasannya dari Allah. Atas perbuatannya dulu sama kita. Dia sudah banyak menderita. Sudah tak ada alasan lagi untuk kita tidak memaafkan dia, biarkan dia pergi dengan tenang," Nisa mencoba memberi pengertian kepada sang anak.
"Terserah Bunda saja 'lah. Kalau aku sih males, kalau orang sudah jahat ya udah aku enggak akan maafin. Sama halnya seperti ke ayah, aku juga enggak akan maafin Ayah. Dia sudah terlalu banyak nyakitin kita. Mau mati seperti apa, aku sudah enggak peduli," sahut Khanza.
Sepertinya, bicara dengan sang anak tak ada artinya. Khanza masih menaruh dendam kepada Viona dan juga Reynaldi. Hingga akhirnya Nisa memutuskan untuk memilih bersiap-siap. Saat itu jam menunjukkan pukul 19.00, Nisa memutuskan untuk langsung bersiap-siap pergi. Keduanya kini sudah siap untuk berangkat.
__ADS_1
"Kak, bunda berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamit Nisa.
"Mas coba kamu hubungi Mas Reynaldi! Tanya ruangan Viona berada," ujar Nisa.
Abi langsung menghubungi Reynaldi. Reynaldi tampak terkejut melihat nomor telepon yang sedang dia tunggu, akhirnya menghubunginya.
"Siapa Rey?" Tanya Mama Susan, ibu dari Viona.
Dokter Abi ma, aku angkat teleponnya dulu ya," ujar Rey.
"Syukurlah kalau dia mau menghubungi kamu. Semoga saja dia bisa membantu membawa Nisa ke sini," ujar Mama Susan dan Abi mengiyakan.
Reynaldi sedikit menjauh dari ibu mertuanya, untuk mencari tempat yang nyaman untuk menelepon.
"Assalamualaikum. Ya, Dok." Reynaldi memulai pembicaraan telepon dengan Abi.
"Waalaikumsalam. Ini saya sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Viona di ruang apa ya?" sahut Abi.
"Oh, gitu. Baiklah, nanti saya akan langsung ke ruang ICU," ujar Abi.
"Terima kasih ya Dok, atas kedatangannya. Maaf jadi merepotkan dokter," ucap Reynaldi.
Nisa dan Abi baru saja sampai di rumah sakit, mereka bergegas menuju tempat Viona berada. Saat mereka sampai, di sana sudah ada Reynaldi dan Mama Susan, yang sudah menunggu kedatangan mereka. Nisa langsung mencium tangan ibunya Viona.
"Ya Allah Nis, maafin anak ibu ya! Dia banyak salah sama kamu, sering menyakiti hati kamu. Semoga Viona bisa pergi dengan tenang," ujar Mama Susan diiringi isak tangis. Dia tak mampu membendung perasaannya lagi. Air matanya menetes satu persatu.
"Iya Bu. Insya Allah Nisa sudah memaafkan kesalahan Viona Bu. Nisa sudah tak memiliki dendam lagi kepadanya," jawab Nisa.
"Terima kasih ya, Nis. Semoga Allah membalaskan kebaikan kamu," ucap Mamanya Viona.
__ADS_1
Kini Mamanya Viona beralih ke Abi, saat Abi mencium tangan mama Susan.
"Bi maafin Viona ya Bi, atas kesalahan yang diperbuat Viona dulu sama Abi," ucap Mama Susan.
"Ya Bu, saya sudah memaafkannya. Yang Lalu Biarlah Berlalu. Allah sudah mengatur semuanya. Sekarang saya sudah hidup bahagia dengan istri yang saya cintai dan istri yang mencintai saya. Sebentar lagi kami juga akan memiliki dua orang anak," sahut Abi.
"Syukurlah, Ibu ikut senang mendengarnya. Akhirnya kamu bisa mendapatkan pendamping yang baik. Maaf, jika dulu Viona tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu," ucap Mama Susan.
"Mungkin itu sudah jalannya Bu dari Allah. Aku dan Viona tidak berjodoh, makanya kami harus berpisah, dan mempertemukan aku dengan istriku," sahut Abi.
"Yang, lebih baik sekarang kamu masuk ke dalam! Bicaranya singkat saja. Ingat kamu sekarang lagi hamil. Tak bagus berlama-lama di rumah sakit, banyak virusnya," ujar Abi.
"Iya. Ya sudah, aku masuk dulu ya Mas," pamit Nisa, dan Abi mengiyakan.
Nisa dan Rey berjalan masuk ke dalam ruangan tempat Viona terbaring lemah tak berdaya.
"Assalamualaikum," Nisa mengucap salam.
Mendengar suara Nisa, perlahan Viona membuka matanya.
"Waalaikumsalam," sahut Viona.
Nisa merasa iba melihat kondisi Viona sekarang ini. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya banyak terpasang alat medis, dan bahkan rambut indahnya dulu sudah tak ada. Kini Viona sudah botak. Tak ada lagi kesombongan yang patut dia banggakan, kecantikannya pun sudah sirna.
"Nis, maafkan aku atas kesalahan yang aku perbuat dulu kepada kamu! Aku menyesal telah menyakiti hati kamu dan juga Khanza, dan juga merebut Reynaldi dari kamu dan Khanza. Sekarang Allah telah menghukum aku dengan penyakit ini. Umurku tak lama lagi, aku ingin pergi dengan tenang," ungkap Viona.
"Iya, aku sudah memaafkan kamu. Justru aku bersyukur, karena kamu aku bisa mendapatkan laki-laki yang luar biasa di hidup aku. Kami pun sudah hidup bahagia," ujar Nisa.
Sakit rasanya hati Reynaldi, saat mendengar wanita yang dulu dia cintai dan mencintai dia kini memuji laki-laki lain di hadapannya. Hanya penyesalan yang mereka rasakan.
__ADS_1