Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Inilah waktu yang di nanti untuk Viona. Setelah sekian lama menanti, akhirnya sang pujaan hati memenuhi permintaannya untuk menikahi dirinya. Dia tak peduli, jika nantinya akan ada hati yang tersakiti di atas kebahagiaannya.


Mama Ratih tentu saja merasa senang, karena akhirnya sang anak menikah dengan Viona. Keinginannya terwujud, untuk menjadikan Viona sebagai menantunya. Selanjutnya, mereka akan memikirkan bagaimana caranya untuk menyingkirkan Nisa dari hidup Reynaldi.


"Aaahh, akhirnya sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Reynaldi," ucap Viona sambil tersenyum.


Itu tandanya dia akan bisa menguasai keuangan Reynaldi, tentu saja dia akan meminta nafkah dari Reynaldi. Jadi, dia tak perlu lagi bekerja. Bahkan hari ini Reynaldi berjanji akan membelikan semua yang dia inginkan, untuk barang seserahan yang nantinya akan di bawa Reynaldi dengan sang mama. Mama Ratih akan datang pada acara pernikahan anaknya dengan calon menantu impiannya.


"Aku harus beralasan apa ya yang membuat Nisa tak curiga kalau aku harus menginap dua hari dengan Viona. Viona pasti akan marah, jika setelah ijab kabul aku pulang ke rumah. Paling tidak, aku harus melewati masa pengantin baru selama dua hari," Reynaldi tampak bermonolog dengan pemikirannya.


Dia menjadi pusing sendiri, memikirkan alasan yang pas. Dia tampak memijat-mijat keningnya yang terasa sakit. Membuat dirinya tak fokus bekerja.


"Sayang, nanti jadi 'kan kamu pulang cepat untuk mengajak aku berbelanja?" tulis Viona di pesan chatnya kepada Reynaldi. Reynaldi hanya bisa menghela napas panjangnya. Reynaldi harus mulai terbiasa dengan pola hidup glamor Viona. Viona dan Nisa adalah dua wanita yang memiliki karakter yang berbeda.


Tentu saja dia mengiyakan. Dia tak ingin bertambah pusing, mendengar ocehan Viona. Reynaldi yakin, dia mampu menghidupi kedua istrinya dari gaji yang dia miliki. Bukan itu saja, dia juga kerap mendapatkan pendapatan sampingan dari pekerjaannya. Dia adalah orang kepercayaan di perusahaan tempat dirinya bekerja.


"Rey, apa kamu sudah membeli barang-barang seserahan untuk Viona? Ingat ya, belikan yang terbagus! Jangan buat Mama malu," tulis Mama Ratih. Membuat Reynaldi geleng-geleng kepala. Keduanya tampak kompak membuat Reynaldi pusing tujuh keliling.


Reynaldi jadi teringat saat dirinya dulu akan menikah dengan Nisa, mamanya tak seperti ini. Justru menunjukkan rasa tak sukanya sang mama, saat dirinya dulu menikahi Nisa.


"Kenapa sih Ma, Mama tak pernah menyukai Nisa? Padahal Nisa adalah wanita yang baik," ucap Reynaldi lirih. Masih Reynaldi ingat, saat dirinya berjuang keras untuk bisa menikah dengan Nisa.

__ADS_1


Lagi-lagi dirinya harus berbohong kepada sang istri pulang ke rumah terlambat, karena dia harus memenuhi keinginan Viona.


"Semoga Nisa tak pernah berpikir curiga aku kerap pulang bekerja," ucap Reynaldi dalam hati. Belum menikah dengan Viona saja, dia sudah pusing sendiri.


Beberapa kali dia bisa aman, tetapi tidak tahu untuk selanjutnya. Alasan klasik, beralasan sibuk dengan pekerjaan.


"Ay, maaf. Aku tak bisa menjemput kamu ke rumah. Soalnya kalau aku jemput lagi ke rumah, kita akan semakin lama saja sampai di Mall. Kamu naik ojek online saja ya, kita ketemu di Mall xxx. Aku baru mau pulang dari kantor," ujar Reynaldi.


Dengan perasaan kesal, mau tak mau Viona menurutinya. Sepanjang perjalanan dia terus saja mengoceh. Padahal dia sudah berdandan cantik, berharap kekasihnya menjemput dirinya dan bisa naik mobil. Tetapi nyatanya Reynaldi justru menyuruh dirinya untuk naik ojek online ke Mall.


Viona datang lebih dulu, dan terpaksa harus menunggu Reynaldi datang. Membuat hatinya bertambah kesal. Dia terlihat gelisah, karena Reynaldi tak mengangkat telepon dan menjawab pesan chat darinya. Karena Reynaldi memang sedang dalam perjalanan, dan saat itu jalanan tampak macet. Dia berusaha untuk fokus menyetir, dan mengabaikan panggilan dari Viona.


Barulah, setelah Viona menunggu dua puluh menit Reynaldi barulah sampai. Dia mencoba menghubungi Viona, menanyakan keberadaan Viona berada. Setelah dia tahu, dia langsung bergegas menghampiri Viona.


"Maaf, tadi jalanan macet banget. Aku saja sampai stres. Maaf tadi aku tak mengangkat telepon dari kamu, aku juga tak membalas pesan kepada kamu. Aku lagi fokus menyetir," ungkap Reynaldi, dan akhirnya Viona mengerti.


Dari pada berdebat, Viona memilih langsung mengajak Reynaldi ke toko perhiasan. Dia langsung memilih perhiasan yang dia inginkan.


"Ay, aku ingin berlian itu," rengek Viona. Tak tanggung-tanggung cincin yang Viona inginkan seharga 15 juta.


"Maaf, itu terlalu mahal. Aku tak mampu," ucap Reynaldi.

__ADS_1


"Bukannya tak mampu, tetapi kamu sayang untuk membelikannya untuk aku," sindir Viona.


"Iya, karena masih banyak kebutuhan yang lain. Lagi pula aku harus membagi-bagi uang aku untuk Nisa dan juga Khanza. Sudah yang mas putih saja, jangan berlian," sahut Reynaldi.


"Nisa. Nisa lagi sama Khanza yang kamu pikirkan." umpat Viona. Dia merasa geram.


Dengan perasaan kesal, akhirnya Viona hanya membeli satu set perhiasan mas putih. Dirinya bertambah kesal, saat Reynaldi menolak untuk membeli cincin kawin bertuliskan nama Viona.


"Ay, please deh jangan macam-macam! Kamu harus ingat posisi kamu! Aku tak mungkin memakai cincin kawin couple sama kamu. Karena aku tak mungkin membuka cincin kawin ini. Sudah beli untuk kamu saja," ujar Reynaldi membuat Viona memanyunkan bibirnya. Terlebih percakapan mereka di dengar pelayan yang melayani mereka. Mau tak mau Viona menerimanya.


Setelah urusan perhiasan selesai, mereka kini langsung ke toko tas. Lagi-lagi Viona bikin Reynaldi naik darah. Yang Viona minta seharga motor, tentu saja Viona langsung marah.


"Ay, begini saja deh. Aku sepertinya tak sanggup menemani kamu. Karena aku memang tak suka berbelanja di Mall. Lebih baik aku transfer uang ke kamu. Kamu pilih saja sendiri, ingat jangan boros-boros! Beli sesuai keperluan! Aku pulang duluan ya," ungkap Reynaldi dengan cueknya membuat mata Viona membulat sempurna.


Reynaldi langsung mentransfer uang sebesar 10 juta ke rekening Viona. Dia rasa uang segitu sangatlah cukup.


"Sudah aku transfer ya. Buktinya sudah aku kirim ke whatsapp kamu. Aku pulang dulu ya! Takut Nisa curiga," ujar Reynaldi. Dia melabuhkan kecupan di kening Viona, dan langsung pergi meninggalkan Viona begitu saja.


"Nisa, awas saja! Aku akan membuat kamu semakin menderita! Aku capek di perlakuan seperti ini terus sama kamu Ay," umpat Viona.


Viona hendak menghubungi Mama Ratih, untuk mengadu perbuatan Reynaldi kepadanya.

__ADS_1


"Serius kamu, Vi? Benar-benar keterlaluan dia. Biarin saja, nanti akan mama tegur. Bisa-bisanya dia meninggalkan kamu sendiri di Mall. Selalu saja membela wanita itu," umpat Mama Ratih.


__ADS_2