Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pulang Kampung


__ADS_3

"Mba, Nisa sama Khanza pamit ya! Nanti kalau Nabila libur, Mba sama Nabila liburan ya Ke Yogya. Makasih ya Mba, Mba sudah support Nisa untuk pisah sama Mas Reynaldi," ucap Nisa kepada Mba Rania.


"Iya Nis, semoga kamu segera mendapatkan kebahagiaan. Mba titip Bunda ya di sana! Nanti, kalau Nabila liburan dan Mba ada rezeki, Mba main ke Yogya. Khanza, Bude titip Bunda ya," ujar Mba Rania.


"Iya, Bude. Siap, akan Khanza laksanakan!" sahut Khanza membuat Nisa tersenyum. Meskipun dia harus kehilangan suaminya, dia masih memiliki harta yang sangat berharga dalam hidupnya, yaitu Khanza.


Nisa pulang ke Yogya dengan menyewa sebuah mobil rental. Sedangkan motornya dia paketkan lewat cargo. Tak ada yang dia dapat dari perceraian dengan Reynaldi, hanya perhiasan yang selama ini Reynaldi berikan untuknya. Nisa tak mendapatkan harta gono gini, bahkan Reynaldi tak mau menafkahi Khanza. Namun, Nisa tak menuntutnya. Dia menyerahkan kepada Allah, semoga dia mendapatkan rezeki dari yang lain.


"Khanza tak apakan tinggal di Yogya?" tanya Nisa kepada sang anak.


"Iya, Bun tak apa. Aku nurut saja sama Bunda, gimana baiknya saja. Justru bagus kita pindah ke Yogya, jadi Bunda tak ingat Ayah terus. Kita jalani hidup baru," ujar Khanza.


"Anak Bunda pintar banget. Makasih ya sayang sudah mengerti keadaan Bunda," ucap Nisa yang langsung membawa sang anak dalam pelukannya.


Khanza sudah tertidur pulas, sedangkan Nisa memilih menikmati perjalanan. Perpisahan dengan suaminya, menggoreskan luka yang mendalam di hatinya. Sampai saat ini dia masih merasa kalau itu hanya sebuah mimpi buruk di dalam tidurnya. Tanpa terasa air matanya menetes satu persatu. Hatinya masih terasa sakit, kala mengingat apa yang terjadi dengan pernikahannya dulu.


"Kamu tega Mas, aku tak menyangka kalau kamu begitu jahat padaku. Dimana kata indah yang kamu ucap dulu? Kamu bilang cinta sama aku, tetapi kamu justru yang mengkhianatinya. Semudah itu kamu membuang aku seperti sebuah sampah yang tak ada artinya di hidup kamu," ucap Nisa lirih.


Berbeda halnya dengan Nisa, yang masih dalam perjalanan menuju Yogya. Di rumah Reynaldi, justru terjadi ketegangan. Pasalnya Mama Ratih mengalami serangan jantung, dan harus dilarikan ke rumah sakit.


"Ay, cepat kamu siapkan pakaian Mama. Kita harus segera ke rumah sakit," titah Reynaldi kepada Viona.


Hanya disuruh itu saja, mulut Viona terus saja mengoceh. Dia merasa tak suka. Baginya, itu sangat merepotkan.


"Ay, cepat dong! Ini Mama dalam bahaya. Nyawanya bisa tak tertolong," teriak Viona.

__ADS_1


"Iya-iya, sebentar. Aw, perut aku. Perut aku sakit," ringis Viona. Viona berjalan dengan tertatih-tatih, sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Dia langsung naik ke mobil. Reynaldi langsung melakukan mobilnya.


"Kamu kenapa Ay?" tanya Reynaldi sambil fokus menyetir.


"Kamu si teriak-teriak, nyuruh aku cepat-cepat. Jadinya begini 'kan. Perut aku jadi sakit," cerocos Viona.


"Maaf Ay, kamu lihat 'kan kondisi Mama. Aku takut Mama aku tak tergolong seperti Papaku dulu," jelas Reynaldi.


Mereka sudah sampai di rumah sakit. Reynaldi langsung menggotong mamanya, dan memindahkan ke brankar rumah sakit. Mama Ratih langsung mendapatkan pertolongan. Untungnya dia masih bisa di selamatkan, tetapi saat ini dia belum sadarkan diri.


"Keluarga Ibu Ratih," panggil sang dokter.


"Iya, Dok. Saya Anaknya," sahut Reynaldi.


"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Mama saya dok? Sebenarnya dia sakit apa?" tanya Reynaldi kepada sang dokter.


Dokter menjelaskan kepada Reynaldi, bahwa harus dilakukan pemasangan ring di jantung Mama Ratih. Kondisi jantung Mama Ratih bermasalah. Hal itu membuat Rey langsung stres. Dia harus cari uang kemana. Dia membutuhkan uang 100 juta untuk biaya operasi pemasangan ring di jantung mamanya.


"Baiklah, dok. Kalau memang harus seperti itu. Saya akan usahakan uangnya. Sama mohon, lakukan yang terbaik untuk Mama saya," ujar Reynaldi.


"Saya tunggu secepatnya, karena kondisi Ibu Anda sangat mengkhawatirkan. Pihak rumah sakit akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu Anda," sahut sang dokter dan Reynaldi tampak menganggukkan kepalanya dengan lesu.


Wajah Reynaldi terlihat kusut, dia bingung harus mencari uang kemana untuk menolong nyawa mamanya. Reynaldi menghampiri Viona, dan duduk di sebelahnya. Reynaldi yang sekarang bukanlah Reynaldi yang dulu memiliki kekuasaan. Yang memiliki kedudukan yang enak di perusahaan.


"Kenapa Ay?" tanya Viona yang melihat suaminya terlihat stres.

__ADS_1


"Mama. Mama harus operasi pemasangan ring di jantungnya. Jantungnya bermasalah, kalau tak segera dilakukan operasi, nyawanya bisa-bisa tak tertolong. Aku bingung, aku harus mencari uang kemana untuk mengoperasi Mama. Uang tabungan aku tak cukup. Itupun sudah menipis, hanya cukup untuk biaya sehari-hari," jelas Reynaldi.


Viona menyarankan suaminya untuk menjual mobil milik Mama Ratih. Mengingat kondisi Reynaldi saat ini. Hingga akhirnya Reynaldi memutuskan untuk menjual mobil peninggalan milik papanya.


"Aku titip Mama dulu ya! Nanti kalau ada apa-apa, tolong hubungi aku secepatnya. Aku keluar dulu ya, mau jual mobil papa dulu," ucap Reynaldi dan Viona mengiyakan.


Reynaldi langsung pergi meninggalkan rumah sakit dengan naik taksi online, menuju rumahnya. Dia memilih meninggalkan mobilnya di rumah sakit. Reynaldi akan mengambil mobil papanya dulu di rumah, setelah itu ke showroom untuk menjual mobil itu.


"Maafkan Rey, Pa. Rey tak bisa pertahankan peninggalan mobil Papa. Karena Mama sangat membutuhkan uang untuk operasi pemasangan ring di jantungnya. Saat ini Rey menjadi anak yang tak berguna. Karena Rey sekarang seorang pengangguran," ucap Rey.


Mobil papanya sudah selesai di jual, Reynaldi segera kembali ke rumah sakit dengan menggunakan ojek online. Semua dia lakukan demi keselamatan sang Mama.


"Bikin susah saja ini nenek-nenek, segala sakit segala. Sudah tahu anaknya lagi susah, nambah masalah saja. Semoga cepat mati, biar tak menyusahkan orang," umpat Viona.


Keringat membasahi wajah dan tubuh Reynaldi. Inilah hal pertama kali bagi Reynaldi, dia pulang ke rumah sakit dengan menggunakan ojek online.


"Sabar Rey! Ini ujian hidup, pasti kamu bisa melewatinya," Reynaldi bermonolog sendiri mencoba menguatkan diri.


Reynaldi baru saja sampai di rumah sakit. Dia segera mengurus operasi mamanya. Dia ingin mamanya sehat kembali.


"Gimana Ay, keadaan mama?" tanya Reynaldi kepada sang istri.


"Masih seperti itu saja, tak ada perkembangan," sahut Viona cuek. Viona menunjukkan wajah tak suka.


Akhirnya Rey bisa melakukan operasi sang Mama. Dia berharap sang Mama bisa sehat kembali. Berbeda halnya dengan Viona yang menyumpahi ibu mertuanya meninggal. Padahal selama ini Mama Ratih begitu baik kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2