
Hari ini adalah hari Sabtu, saatnya mereka untuk ke Mall untuk membeli semua perlengkapan kelahiran kembar. Rencananya mereka akan berangkat setelah sholat zuhur dari apartemen. Terlebih jarak apartemen ke Mall itu tak jauh. Agar mereka tak repot harus ke mushola untuk sholat zuhur. Abi pun merasa khawatir dengan kondisi sang istri, yang sudah sangat besar.
Saat ini jam masih menunjukkan pukul 08.00 pagi. Nisa tampak sedang berenang dengan sang suami dan juga Khanza. Abi mengajak sang istri untuk ikut berenang. Meskipun Nisa sudah tak mungkin bisa berenang. Mereka terlihat begitu bahagia.
"Mas, sudah ya aku naik ke permukaan?" Ujar Nisa kepada sang suami.
"Ya sudah," sahut Abi. Dia tampak membantu sang istri untuk naik ke permukaan. Kini Nisa sedang duduk sambil menikmati orange jus kemasan yang tadi dia bawa.
Nisa jadi teringat ucapan Reynaldi tempo lalu, yang mengajaknya untuk rujuk, dan mengatakan kalau dirinya masih mencintainya.
"Mas Reynaldi gila kali ya? Aku tak habis pikir, kok bisa-bisanya dia mengatakan hal itu lagi padaku? Aku kira, selama ini dia sudah menyadarinya kalau aku tak mungkin mau kembali padanya. Jangankan seperti sekarang ini. Jika aku masih hidup sendiri pun, aku tak akan pernah mau kembali kepadanya. Meskipun aku sudah memaafkan dirinya." Nisa bermonolog.
"Aku tak mungkin membuang kebahagiaan aku bersama mas Abi. Lagi pula, rasa cintaku sekarang hanya untuk Mas Abi. Aku sudah merasa bahagia menjalani pernikahan dengan Mas Abi. Terlebih, sebentar lagi aku akan memiliki dua orang anak dari mas Abi," ucap Nisa dalam hati.
Nisa telah bahagia. Khanza pun terlihat bahagia. Dia terlihat sedang tertawa dengan Abi. Abi tampak mengajari Khanza berenang.
"Aku mandi duluan ya," ucap Nisa yang kini berdiri di dekat kolam berenang.
"Iya, hati-hati ya sayang! Aku juga kok sebentar lagi selesai," sahut Abi.
Nisa pergi meninggalkan kolam renang, hanya meninggalkan Khanza dan juga Abi. Mereka melanjutkan renang kembali. Khanza terlihat senang, perlahan dia sudah mulai mahir berenang.
"Kak, kita naik yuk! Hari ini renangnya sampai sini dulu. Kita 'kan mau beli perlengkapan adik bayi. Nanti kamu kecapean," ujar Abi dan Khanza mengerti. Mereka langsung naik ke permukaan, dan langsung menuju ke unit apartemen mereka.
Ternyata Nisa sedang memasak.
__ADS_1
"Wah, bunda lagi masak apa? Harum banget wanginya. Membuat perut aku menjadi laper," puji Khanza.
"Iya, Papa juga jadi laper perutnya," ujar Abi ikut bicara.
"Iya.Ya sudah, mandi dulu sana kalian. Habis ini kita makan. Bunda buat ayam bakar, sambel goreng, dan cah kangkung," sahut Nisa.
"Ya sudah, kakak dulu sana yang mandi! Nanti habis kakak, baru papa yang mandi," ujar Abi dan Khanza mengiyakan.
Nisa membuatkan dua gelas teh manis hangat untuk suami dan anaknya, untuk menghangatkan tubuh.
"Diminum dulu Mas tehnya, biar hangat tubuhnya," ujar Nisa. Abi senang, karena Nisa melayani dirinya dengan baik. Nisa begitu perhatian. Dia bersyukur, Reynaldi selingkuh dengan Viona. Jika tidak, dia tak akan pernah bisa mendapatkan Nisa.
Khanza sudah selesai mandi, kini giliran sang papa yang mandi. Khanza sudah tak sabar ingin segera makan. Menunggu sang papa selesai mandi.
"Ayo kita makan sekarang!" Ajak Abi. Padahal, tadi mereka sudah sarapan. Tetapi sekarang, mereka sudah lapar kembali. Terlebih mencium harumnya wangi ayam bakar dan cah kangkung, bikin perut terasa tambah lapar. Sehabis berenang, pasti akan merasa lapar.
Mereka kini sedang menikmati makan bersama. Khanza dan Abi terlihat makan dengan lahap. Abi selalu lahap, jika makan masakan sang istri. Setelah perut terasa kenyang, Khanza dan Abi menjadi mengantuk. Terlebih mereka habis berenang.
"Aku tidur dulu ya, Bun! Nanti bangunin ya!" Ujar Khanza dan Nisa. mengiyakan. Abi pun melakukan hal yang sama. Nisa pun ikut tidur bersama sang istri.
"Sudah tidur! Kita jalannya nanti saja sebangunnya! Hari ini 'kan hari Sabtu, jadi bebas mau pulang jam berapa saja. Kita berangkat habis ashar juga enggak apa-apa," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.
Tak butuh waktu lama, Abi sudah terlelap. Seperti biasa, Nisa tak bisa langsung tidur. Dia selalu merasa posisi tidurnya serba salah. Telentang terasa tak enak, miring ke kiri atau ke kanan seakan sang anak memberontak karena terjepit.
Nisa mencoba memejamkan matanya, hingga akhirnya dia tertidur juga. Suasana tampak sepi. Sang ART sedang sibuk menyetrika. Sebentar lagi apartemen itu akan ramai dengan suara tangis bayi.
__ADS_1
Ternyata Nisa tidur tak lama, tak sampai dua jam dia sudah terbangun dari tidurnya. Nisa tampak menatap ke arah sang suami yang sedang tertidur nyenyak. Wajah suaminya terlihat begitu teduh.
Nisa tampak melamun. Teringat Reynaldi yang dulu juga begitu mencintainya. Sama halnya dengan Abi, Reynaldi pun begitu mencintainya. Namun, semua berubah saat Viona hadir di tengah-tengah pernikahan mereka. Membuat Nisa merasa kehilangan cinta dari suaminya.
"Maafkan aku Mas, aku seperti ini karena kamu dulu yang membuang aku. Bermain api dengan almarhumah Viona, jika kamu tak selingkuh dengan almarhumah Viona. Pasti sampai saat kini kita masih hidup bahagia. Semoga kamu bisa mendapatkan pendamping baru, karena sampai kapan pun aku tak akan pernah kembali kepadamu lagi," ucap Nisa dalam hati.
Perlahan Abi membuka matanya, dan melihat sang istri yang sedang melamun. Tentu saja hal itu membuat dia bertanya-tanya atas apa yang terjadi pada istrinya itu.
"Kamu kenapa? Ada hal yang kamu pikirkan? Mengapa kamu melamun?" Tanya Abi dengan suara khas bangun tidur.
"Eh, enggak mas. Tak ada yang aku pikirkan kok. Kamu sudah bangun mas?" Nisa mencoba mengalihkan pembicaraan sang suami.
"Aku mengenal kamu itu bukan satu atau dua hari. Aku sudah sangat mengenal kamu, jadi kamu tak bisa bohongin aku. Katakanlah permasalahan apa yang mengusik kamu!" Ujar Abi.
Abi menatap lekat wajah Nisa, membuat Nisa terlihat grogi. Nisa sempat terdiam, mencoba berpikir. Dia tampak ragu untuk mengatakannya kepada sang suami.
"Katakan saja! Tak perlu ada yang di tutup-tutupi lagi!" Titah Abi.
Alangkah terkejutnya Abi, saat mendengar penuturan Nisa yang mengatakan kalau Reynaldi sempat mengatakan kepadanya berniat untuk rujuk kembali. Dia sudah mengakui kesalahannya, dan mengakui kalau dirinya menyesal.
"Bisa-bisanya dia seperti itu! Dasar laki-laki tak tahu malu. Apa dia tak punya otak? Harusnya dia sadar, kalau mantan istrinya itu sekarang sudah hidup bahagia dengan laki-laki lain, dan bahkan sebentar lagi akan memiliki dua orang anak," cerocos Abi. Meskipun dia laki-laki yang sabar, mendengar hal seperti itu tetap saja merasa tak suka. Hatinya merasa panas.
"Kalau dia seperti itu lagi, kamu langsung bilang sama aku ya! Biar aku sama dia menyelesaikan secara laki-laki! Aku enggak terima!" Ujar Abi ketus.
__ADS_1