
Viona baru saja sampai di rumah sakit. Dia langsung mengambil hasil pemeriksaan dan kini tinggal menunggu waktunya di panggil untuk berkonsultasi. Karena sang dokter yang nantinya akan membaca hasil pemeriksaannya.
"Ya Allah, semoga aku baik-baik saja!" Viona terus berdoa kepada Allah. Berharap Allah akan mengabulkan doanya.
Kini saatnya Viona yang di panggil untuk masuk ke dalam ruangan, untuk di periksa. Dia tampak tegang, jantungnya berdegup lebih kencang. Wajahnya terlihat pucat, kini dirinya sudah berhadapan dengan sang dokter.
"Bagaimana? Apa sudah ada hasilnya?" Tanya sang dokter.
"Ini dok hasilnya," ucap Viona sambil memberikan dua buah amplop kepada sang dokter.
Dokter mulai membaca hasil pemeriksaan Viona. Apa yang dia curigai, ternyata benar. Kalau saat ini Viola mengidap kanker serviks stadium 3.
Viona memandang wajah sang dokter dengan serius.
"Bagaimana dok, hasil pemeriksaan saya? Sebenarnya saya sakit apa?" Tanya Viona. Dia sudah tak sabar, ingin mengetahui hasilnya.
Dengan berat hati sang dokter harus mengatakan kepada Viona, kalau saat ini Viona mengidap kanker serviks. Rasanya, seperti tersambar petir di siang bolong. Jantung Viona seakan terhenti seketika.
Viona tak mampu lagi menahan perasaannya saat itu, hatinya begitu hancur. Air matanya tak mampu tertahan lagi. Satu persatu, air matanya menetes membasahi wajahnya
Bayangan kematian hadir di pikirannya. Dia terlihat sangat ketakutan, kalau penyakitnya tak bisa disembuhkan lagi.
"Dok, Apa penyakit saya masih bisa di sembuhkan?" Tanya Viona, dengan wajah penuh harap.
__ADS_1
"Berdoa saja, semoga Allah mengangkat penyakit di tubuh ibu. Kita tak pernah tahu mukjizat yang Allah berikan kepada hambanya. Saya tak bisa memastikan dalam hal ini. Namun, tak menutup kemungkinan untuk sembuh kembali. Ibu harus terus bersemangat dan berusaha untuk sembuh," dokter mencoba memberi pengertian kepada Viona.
Yang Viona tahu, kemungkinan untuk sembuh bagi penderita kanker, sangatlah kecil. Terlebih jika sel kanker telah menyebar ke sel tubuh. Kemoterapi hanya untuk memperpanjang waktu saja.
Harapan Viona untuk bisa hamil, pupus sudah. Jika Reynaldi mengetahuinya, dia yakin Reynaldi akan meninggalkan dirinya. Viona memutuskan untuk menutupinya dari sang suami.
Mulai minggu depan, Viona akan mulai rutin melakukan kemoterapi untuk mematikan sel-sel kanker. Efeknya, rambut Viona bisa rontok dan dapat menyebabkan menjadi botak. Daya tahan tubuhnya juga menurun, dia juga akan mengalami penurunan nap*su makan, dan merasakan tubuh lebih lemas.
Viona terlihat tak bersemangat, keluar dari rumah sakit. Tatapannya terlihat kosong. Viona memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya. Dia sangat merindukan sang mama. Semenjak menikah, dia jarang sekali main ke rumah orang tuanya. Dia tak peduli, kalau nantinya sang suami marah padanya.
Dengan menggunakan ojek online, Viona baru saja sampai di rumah orang tuanya. Sang ART langsung bergegas membuka pagar, agar Viona bisa masuk ke dalam.
"Bi, mama ada?" Tanya Viona kepada sang ART.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," Viona langsung berjalan menghampiri sang mama. Saat itu sang mama sedang memasak di dapur.
"Tak biasanya kamu ke rumah?" Dia langsung mencium tangan sang mama.
"Iya, kebetulan tadi aku ada urusan daerah sini, jadinya sekalian saja aku mau mampir," sahut Viona.
Mereka kini mengobrol di ruang keluarga, Viona sudah bersama sang mama.
__ADS_1
"Na, wajah kamu pucat banget? Kamu sakit?" Tanya sang mama.
Viona sempat terdiam, dia berpikir apakah sang mama perlu mengetahui penyakitnya atau tidak.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu Na? Katakan sama mama, jangan ada yang kamu tutup-tutupi dari mama," ujar sang mama.
Viona langsung memeluk tubuh sang mama. Meluapkan perasaan hatinya. Dia menceritakan kalau saat ini, Viona mengidap penyakit kanker serviks stadium di tiga. Tentu saja hal itu membuat sang mama merasa terkejut.
"Ya Allah Na, sabar ya kamu! Semoga Allah mengangkat penyakit kamu, dan kamu bisa sehat kembali," ucap sang mama, dan Viona mengaminkannya.
"Iya Ma, doakan Na ya ma, semoga Allah mengangkat penyakit Na, dan Na bisa hidup normal kembali. Na, enggak bisa punya anak. Kalau Reynaldi tahu hal ini, pasti dia akan langsung menceraikan Viona. Viona enggak mau pisah dengannya," sahut Viona.
Hanya kata sabar dan semangat, yang bisa sang mama ucapkan untuk sang anak.
"Tapi ..., Selama ini Reynaldi memperlakukan kamu dengan baik 'kan?" Tanya sang mama menyelidik.
Sang mama terkejut saat mendengar penuturan sang anak, apa yang selama ini Viona rasakan. Dia tak menyangka, kalau sang anak selama ini hidup menderita.
"Malang banget nasib kamu Na, rumah tangga kamu selalu berakhir sedih. Ada saja yang terjadi," ujar sang mama dalam hati.
"Keterlaluan sekali Reynaldi sama kamu. Lebih baik kamu cerai saja sama dia. Laki-laki seperti itu, tak pantas untuk kamu pertahankan," ujar sang mama.
Namun, Viona tetap memilih bertahan. Dia begitu mencintai Reynaldi. Meskipun, Reynaldi telah menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Ya sudah, bagaimana baiknya saja," ujar sang mama.