Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Rencana Pernikahan Nisa dan Abi


__ADS_3

"Bunda ingin kamu secepatnya menikah dengan Nak Abi. Agar Bunda pergi dengan tenang," ungkap Bunda Anita.


"Nisa mohon. Bunda jangan bicara seperti ini! Bunda pasti sembuh! Nisa enggak mau kehilangan Bunda," ungkap Nisa, yang langsung memeluk tubuh sang bunda.


Abi terpaksa menyentuh Nisa. Menarik tangan Nisa agar tak memeluk sang bunda seperti itu, karena dapat menghambat pernapasan sang bunda.


"Jangan seperti itu! Nanti Bunda kamu tak bisa bernapas," ucap Abi.


"Nak Abi, apa orang tua Nak Abi akan setuju kalau Nak Abi menikahi anak ibu? Ibu ingin pernikahan kalian diadakan besok. Ibu takut tak bisa bertahan lama, jika harus menunggu sampai surat-suratnya selesai. Yang penting kalian resmi menjadi pasangan suami istri," ungkap Bu Anita.


Nisa tampak bingung. Sungguh ini adalah situasi yang dia tak inginkan, menikah secara dadakan tanpa sebuah cinta di hatinya. Seperti dulu, kala Nisa menikah dengan Reynaldi. Perlahan, dirinya baru membuka hatinya untuk Reynaldi.


"Baik Bu, akan saya usahakan. Jika Ibu tak keberatan, saya izin ingin bicara 4 mata dengan Nisa diluar. Ibu istirahat dulu ya," ujar Abi dan Bu Anita menganggukkan kepalanya.


Abi mengajak Nisa keluar ruangan sang Bunda. Abi mengajak Nisa ke kafetaria tempat mereka dulu mengobrol untuk pertama kalinya. Nisa pun merasa kasihan dengan sang anak, dia ingin sang anak membeli makanan. Kini ketiganya sudah berada di kafetaria yang berada di rumah sakit.


Abi memesan secangkir kopi untuknya, teh manis hangat untuk Nisa, satu botol air mineral dan juga pop mie untuk Khanza. Nisa kini sudah duduk berhadapan dengan Abi. Ada perasaan canggung yang mereka rasakan.


"Mas, Mas yakin mau menikahi aku? Memangnya orang tua Mas setuju dengan aku? Aku hanya orang biasa Mas, bukan berasal dari orang kaya," ungkap Nisa mengawali pembicaraan. Dia takut kalau nasibnya nanti akan sama seperti saat menikah dengan Reynaldi. Perbedaan status sosial menjadi penghalang cinta mereka.


"Kamu tenang saja Nis, kamu serahkan sama Mas! Mas akan coba bicarakan sama orang tua Mas dulu. Lagi pula orang tua Mas bukan tipe orang tua yang seperti itu. InsyaAllah kedua orang tua aku akan menerima kamu dan Khanza dengan baik," jelas Abi.

__ADS_1


"Semoga saja ya Mas. Karena dulu, mantan mertua aku tak menyetujui hubungan kami karena aku bukan berasal dari orang kaya. Bahkan rasa tak sukanya terus berlanjut sampai Khanza lahir, dan kami bercerai kemarin," sahut Nisa.


Abi mencoba meyakinkan Nisa. Kalau kedua orang tuanya tak seperti itu. Abi yakin kalau orang tuanya akan menerima Nisa dan juga Khanza. Terlebih kedua orang tuanya sangat menginginkan seorang anak dari Abi. Saat pernikahan pertamanya dengan Viona, dia tak memiliki anak. Nisa pasti kaget, kalau Abi adalah mantan suami Viona.


"Tapi dadakan banget Mas, masa iya harus besok. Memangnya bisa?" tanya Nisa.


"InsyaAllah bisa. Setelah ini aku pamit pulang, karena aku harus pulang ke rumah orang tua aku di kota. Besok pagi aku harus bicara sama mereka, membeli cincin pernikahan kita, mencari penghulu, dan juga wali nikah untuk kamu. Kita harus turuti permintaan Bunda kamu. Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya. Besok aku juga akan hubungi Fina, agar dia bisa membantu aku untuk mencarikan MUA dan juga kebaya untuk kamu pakai saat acara akad nikah," jelas Abi.


Keasyikan mengobrol, mereka sampai melupakan belum bicara dengan Khanza. Padahal sejak tadi Khanza terus memperhatikan obrolan keduanya.


"Om Abi sama Bunda mau menikah?" tanya Khanza. Membuat mata keduanya kini menatap ke arah Khanza.


Khanza tampak terdiam. Membuat Nisa menjadi semakin bimbang. Karena baginya, kebahagiaan anaknya nomor satu. Jika sang anak tak merestui dia untuk menikah dengan Abi, Nisa pasti akan memilih untuk membatalkan pernikahan ini.


"Kalau Khanza tak setuju, ya sudah Bunda akan batalkan pernikahan ini. Karena bagi Bunda, kebahagiaan kamu menjadi prioritas Bunda," ucap Nisa.


"Kata siapa Khanza tak setuju Bunda menikah sama Papa Abi? Khanza setuju, asalkan Papa Abi tak akan menyakiti hati Bunda lagi. Khanza ingin Papa Abi bisa membahagiakan Bunda. Sudah cukup Bunda menderita selama ini. Khanza sayang sama bunda," ungkap Khanza. Khanza langsung memeluk sang Bunda. Membuat suasana terasa penuh haru. Bahkan Nisa sampai meneteskan air matanya.


"Makasih ya Sayang, makasih kamu sudah merestui pernikahan Bunda dan Papa Abi. Mulai sekarang, Khanza akan mempunyai Papa lagi. Yach, meskipun Ayah kandung Khanza tetap Ayah Reynaldi," ungkap Nisa.


"Bunda bisa tidak jangan bahas dia lagi? Dia saja sudah melupakan kita Bun? Dia sudah tak peduli sama aku, dan mungkin dia sudah tak menganggap aku anaknya lagi. Aku hanya punya Bunda di dunia ini. Dia tak pernah sayang sama aku, buktinya dia lebih memilih kehilangan kita," ujar Khanza. Terlihat sekali kebencian di wajahnya. Semua ini karena Reynaldi, yang melupakan dirinya. Wajar jika Khanza menjadi membenci sang ayah. Perceraian orang tuanya begitu membekas di hatinya.

__ADS_1


"Bagaimanapun, dia itu Ayah kandung kamu. Kamu tak boleh bicara seperti itu! Meskipun dia yang membuat kamu seperti ini. Tapi kamu harus ingat, tanpa Ayah Reynaldi kamu tak akan ada di rahim Bunda," jelas Nisa. Meskipun Reynaldi jahat kepada mereka berdua, Nisa berusaha untuk mengingatkan Khanza.


"Sudahlah Bun, enggak usah membahasa dia lagi. Bagiku, dia sudah mati! Semua itu karena perbuatan yang dia lakukan kepada kita. Bunda tak perlu membela dia lagi. Sudah cukup dia menyakiti hati Bunda, dan sekarang saatnya Bunda hidup bahagia dengan Papa Abi. Aku yakin kalau Papa Abi adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab," ungkap Khanza.


Abi begitu terenyuh dengan ucapan Khanza. Abi memberanikan diri untuk pindah tempat duduk. Dia ingin memeluk tubuh anak tirinya itu.


"Boleh Papa peluk Khanza?" izin Abi.


Setelah Khanza mengatakan iya, barulah Abi memeluk tubuh Khanza. Nisa berharap Abi bisa menyayangi Khanza dengan tulus.


"Besok, Bunda dan Papa akan menikah. Setelah itu, kita bisa tinggal bersama," ungkap Abi.


"Tapi, Papa 'kan kerjanya jauh kalau berangkatnya dari rumah kita," sahut Khanza.


"Papa akan lalui, meskipun harus memakan waktu lama. Yang penting kita bisa hidup bersama. 'Kan ada Bunda yang akan memberi semangat Papa bekerja. Ada yang bangunin, ada yang ngurusin, ada yang menemani. Papa tak lagi kesepian," ungkap Abi. Mungkin waktu ini begitu singkat bagi Nisa, tetapi Nisa akan berusaha untuk menjadi istri yang baik dan menerima Abi di hidupnya. Dia ingin membahagiakan sang Bunda.


"Mas, memangnya sudah tak ada harapan untuk Bunda sembuh kembali? Apa perlu Nisa bawa ibu ke luar negeri? Nisa enggak mau kehilangan Bunda," ucap Nisa diiringi isak tangis. Rasanya begitu sakit, kala membayangkan sang Bunda akan pergi untuk selamanya.


"Maafin Mas ya, Nis! Mas sudah berusaha keras untuk kesembuhan Bunda kamu. Tetapi Allah berkata lagi, semua sudah menjadi kehendak Allah. Jodoh, kematian, dan Rezeki sudah di atur Allah. Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, tetapi keputusannya dari Allah. Semoga kamu bisa ikhlas. Percuma kamu bawa ke luar negeri, kondisinya sudah sangat parah. Bunda masih bisa bertahan saja, syukur alhamdulillah," jelas Abi.


Abi pamit pulang, karena perjalanan ke rumah orang tuanya harus menempuh perjalanan selama 1,5 jam. Jika tak pulang sekarang, malam akan semakin larut. Malam ini Nisa akan menginap di rumah sakit bersama Khanza menjaga sang Bunda.

__ADS_1


__ADS_2