Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Wanita yang beruntung


__ADS_3

Abi, Khanza, dan Nisa baru saja sampai di rumah orang tua Abi. Setelah sang suami memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Nisa barulah turun dari mobil. Dia turun dengan menenteng satu buah kantong plastik berisi 2 paket lengkap gudeg berikut sambal krecek, ayam, telor, dan juga tempe bacem untuk mertuanya itu.


"Ya ampun Nis, segala bawain juga buat mama. Mama mah, kalau mau bisa beli nanti," ujar sang ibu mertua.


"Kan sekalian ma! Tadi aku makan di sana sama Mas Abi. Aku teringat mama dan papa," sahut Nisa sambil tersenyum. Saat ini Nisa menjadi wanita yang beruntung, karena memiliki suami dan mertua yang begitu menyayangi dirinya.


Berbeda halnya dengan Nisa yang selalu merasa bahagia. Rumah tangga Meli dan Reza, justru tak bertahan lama. Pernikahan mereka harus berakhir dengan perceraian. Setelah Viona dan Reza bercerai, akhirnya Meli dan Reza memutuskan untuk menikah.


Awalnya rumah tangga mereka bisa dikatakan harmonis. Mereka saling mencintai. Reza merasakan hal yang berbeda saat bersama Meli. Miliknya bisa kuat berdiri, saat bersama Meli. Namun, hal itu tak menjamin mereka bisa memiliki keturunan.


Rumah tangga dia dan Meli hanya bertahan 1 tahun. Karena Reza mandul tak bisa memiliki keturunan. Hubungan baik pertemanan orang tua Reza dengan orang tua Meli, kini akhirnya harus terputus. Karena anak-anak mereka.


Reza curiga kalau Meli selingkuh dengan atasannya di perusahaannya. Pengalaman buruk yang dia lakukan, membuat Reza merasa tidak terima berada di posisi yang seperti dia lakukan dulu, saat dirinya masih berstatus menjadi suami dari Viona.


Dulu, mama dari Reza bersikukuh agar Reza menceraikan Viona. Karena Viona tak kunjung memberikan keturunan untuk Reza. Dia yakin kalau Meli adalah wanita yang baik untuk sang anak.


Saat ini Reza sedang duduk termenung di teras kamar kosnya sambil menikmati secangkir kopi, dan juga rokok. Sebagai seorang laki-laki pastinya dia begitu hancur. Saat dokter memvonis dirinya tak bisa memiliki keturunan.


"Maafin aku ya Vi. Dulu, mama menghina kamu mandul karena kamu tak kunjung hamil. Padahal, akulah yang mandul, aku bukanlah laki-laki yang sempurna. Apa kabarnya kamu sekarang? Pasti kamu sekarang sangat membenci aku," ucap Reza dalam hati.


Dulu, dia bercerai dengan Viona. Karena Viona memergoki dirinya sedang bersama Meli di kamar kos mereka, saat itu Meli dalam keadaan tanpa sehelai benang pun.


"Sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan dulu. Rasanya begitu sakit, saat aku mengetahui Meli selingkuh dengan laki-laki lain. Aku laki-laki yang tak sempurna, tak akan ada wanita yang mau denganku. Aku putuskan, aku lebih memilih untuk hidup sendiri. Daripada aku merasakan sakit hati lagi," ucap Reza lirih.


Berbeda halnya dengan Reza yang harus merasakan hidup sendiri. Nisa dan Abi justru sedang bercinta. Nisa sudah mulai kesulitan bergerak. Keringatan bercucuran membasahi wajah mereka.


Desa*han dari keduanya mengiringi pergulatan panas mereka saat ini. Selama hamil, hormon Nisa meningkat, dia menjadi lebih bergairah. Tentu saja, hal ini membuat Abi bersemangat.

__ADS_1


Keduanya tampak menikmati permainan malam ini. Merasakan bercinta di heningnya malam kota Yogyakarta. Besok, setelah dari pabrik. Mereka akan kembali ke Jakarta.


Mereka baru saja selesai bercinta, Abi memberikan kecupan di kening Nisa dan mengucapkan terima kasih. Abi begitu mencintai Nisa.


Nisa beranjak turun, untuk membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan sang suami. Abi pun melakukan hal yang sama, bergantian dengan sang suami.


"Ayo kita tidur, beristirahat! Besok pagi kita ke pergi ke pabrik," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Dia pun naik ke ranjang lagi, membaringkan tubuhnya. Abi pun ikut naik ke ranjang, membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Selamat tidur. Have a nice dream. Aku mencintaimu," ucap Abi sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala Nisa. Dia juga mengusap lembut kepala Nisa.


Kemudian Abi bangkit, dan mencium perut istrinya yang sudah begitu besar. Perlahan, Nisa pun akhirnya memejamkan matanya. Hingga akhirnya dia tertidur nyenyak. Tak lama kemudian, Abi pun menyusul sang istri untuk tidur.


Jam alarm di ponsel Nisa berbunyi, perlahan Nisa pun membuka matanya. Dia mengangkat tangan suaminya yang berada di perutnya secara perlahan. Kemudian beranjak turun, untuk bangun. Karena dia harus mandi wajib terlebih dahulu.


"Sudah jam setengah 5 mas. Kita harus mandi wajib dulu," sahut Nisa.


"Iya. Ya sudah, kamu mandi duluan ya. Nanti aku gantian, setelah kamu," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Dia tak ingin menunda waktu untuk mandi, karena tak ingin kesiangan. Abi pun berusaha untuk menyegarkan tubuhnya. Beranjak bangun, dan duduk di tepi ranjang. Menunggu istrinya selesai mandi. Dia tampak merenggangkan tubuhnya.


Setelah sang istri selesai mandi, Abi langsung bergantian mandi. Keduanya sudah mandi, dan berwudhu. Kini saatnya mereka untuk sholat berjamaah.


Sholat subuh berjamaah selesai. Nisa mencium tangan suaminya, dan Abi tampak mengecup pucuk kepala istrinya. Mereka berharap, rumah tangga mereka selalu bahagia.


"Kita turun yuk!" Ajak Abi, Nisa pun mengiyakan.

__ADS_1


Abi dan Nisa menuruni anak tangga. Ternyata sang mama masih mengaji Al-quran, dan sang papa sudah duduk bersantai di depan TV. Abi menghampiri sang papa. Sedangkan Nisa membuatkan teh hangat di teko. Setelah itu membawanya ke meja depan TV. Tempat sang suami berada. Dia juga menyiapkan empat gelas dan juga kontak gula ke sana.


"Papa tehnya mau pakai gula atau tidak? Biar Nisa buatkan," ujar Nisa.


"Iya, pakai. Tapi, jangan terlalu manis," sahut sang papa mertua. Nisa pun langsung membuatkannya. Nisa juga membuatkan teh manis untuk suaminya dan juga ibu mertuanya. Sedangkan Nisa lebih memilih minum teh tawar.


Setelah selesai, Nisa langsung ke dapur. Dia berencana membuat nasi goreng untuk sarapan pagi ini.


"Sudah Nis, tapi bibi saja yang masak! Kamu enggak usah cape-cape, " ujar sang ibu mertua.


Dulu, saat masih bersama Reynaldi. Dirinya justru harus memasak, meskipun di rumah mereka memiliki ART. Perlakuan ibu mertuanya yang sekarang sangat berbeda kepadanya.


"Enggak apa-apa ma. Aku tak capek kok," sahut Nisa. Nisa memang senang memasak, apalagi kalau masakan dia di terima dengan baik. Berbeda halnya dengan Mama Ratih dulu yang selalu menghinanya.


Makanan sudah selesai di buat. Nisa mulai menyusunnya di meja. Nasi goreng dengan di tambah toping baso dan telor, dan juga telor dadar. Sang ART mertuanya, membantu dirinya menyiapkan piring untuk makan.


"Mas, Pa, Ma, makanan sudah siap," ujar Nisa. Ketiganya langsung menghampiri meja makan.


"Padahal mama sudah bilang tak usah makan, eh Nisa masih saja ingin masak," ungkap sang ibu mertua


"Nisa kalau di rumah memang sering masak, ma. Abi suka semua masakan Nisa. Masakan Nisa enak," puji Abi membuat Nisa tersenyum.


Ternyata bukan hanya Abi saja yang memuji, kedua mertuanya pun ikut memuji masakannya. Mengakui kalau masakan Nisa memang enak.


"Terima kasih ya Allah, karena engkau telah memberikan aku kebahagiaan. Menjadikan aku menjadi wanita yang beruntung," ucap Nisa dalam hati.


__ADS_1


__ADS_2