
Hari ini adalah jadwalnya Nisa periksa jahitan setelah operasi sesar. Dia sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Nisa pergi dengan diantar papanya Abi. Azzura dan Azzam tak ikut bersamanya, mereka dititipkan kepada sang ART dan juga mamanya Abi.
"Ma, Nisa berangkat dulu ya! Nisa titip Azzam dan Azzura ya!" Ujar Nisa kepada sang mertua.
"Iya, sayang! Berangkatlah! Kamu tak perlu khawatir," sahut sang ibu mertua.
"Iya, Ma. Makasih ya, Ma! Assalamualaikum," ucap Nisa.
Nisa mencium tangan ibu mertuanya, kemudian pergi meninggalkan apartemen menuju rumah sakit. Kini dia sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nisa menunggu sang bapak mertua di lobby. Tak butuh waktu lama, dia sudah sampai di rumah sakit. Sang mertua menurunkan Nisa di lobby. Setelah menurunkan sang mertua, dia langsung melajukan kembali mencari parkiran mobil.
Nisa berjalan memasuki rumah sakit, Abi tak bisa menemani dirinya periksa. Karena jadwal periksa Nisa jam 09.00 pagi sampai dengan jam 12.00 siang, tak mungkin menunggu suaminya selesai praktek. Nisa berjalan secara perlahan, masih kerap merasa nyeri di bekas sayatan.
Lagi-lagi Nisa harus dipertemukan kembali dengan Reynaldi. Nisa berusaha untuk bersikap biasa, seolah-olah dia tak mengenal Reynaldi, karena dia sudah merasa kecewa dengan apa yang waktu itu Rey lakukan kepadanya. Reynaldi. mencoba menghentikan langkah Nisa.
__ADS_1
"Mas, tolong jangan ganggu aku! Mas Abi akan marah sama kamu!" Ujar Nisa.
"Iya, aku tahu. Aku tak berniat menggangu kamu. Aku hanya ingin mengucapkan selamat kepada kamu dan suami kamu. Semoga anak kalian menjadi anak yang sholeh dan sholeha. Kamu tahu tidak, anak laki-laki kamu yang sekarang itu mirip sama seperti anak kita yang sudah tiada. Saat aku lihat di status suamimu, aku mencoba mengingat anak itu mirip siapa. Sampai akhirnya aku ingat, wajah anak itu sangat mirip dengan kamu Nis," jelas Rey.
Nisa merasa tak nyaman, dia tak ingin bicara terlalu jauh. Bukan karena dia sudah melupakan anaknya yang sudah tiada, tetapi dia tak ingin mengingat lagi kenangan yang buruk. Saat dia harus kehilangan buat hatinya dulu. Hatinya masih merasa sakit, jika mengingat perbuatan mantan mertuanya itu.
"Maaf Mas, aku buru-buru! Terima kasih doanya," ucap Nisa. Nisa langsung pergi meninggalkan Reynaldi begitu saja, menuju bagian pendaftaran. Setelah selesai mendaftar, Nisa langsung menuju poli OBGYN.
Kini giliran Nisa yang diperiksa masuk ke dalam. Dokter langsung melihat jahitan bekas sesar.
"Masih suka merasa nyeri si, Dok," jelas Nisa.
"Iya, Bu. Memang pemulihannya cukup lama. Perbanyak makan telor ya Bu. Biar cepat merapatkan. Minimal per hari makan tiga butir! Ibu juga jangan terlalu banyak jalan dan bergerak dulu. Karena beresiko robek kembali," jelas sang dokter.
__ADS_1
Dokter menuliskan resep obat untuk penyembuhan luka dari dalam, dan juga salep untuk cepat mengeringkan bekas sayatan. Setelah selesai, Nisa langsung menuju apotek untuk menunggu obat dari resep.
Abi baru saja selesai praktek, dan menanyakan keberadaan sang istri. Mengetahui sang istri masih di rumah sakit, Abi langsung bergegas menghampirinya. Abi langsung duduk di sebelah sang istri. Dari belakang, dia sudah yakin kalau wanita itu adalah istrinya.
"Ya ampun Mas, bikin kaget saja," tegur Nisa.
"Hehehehe, maaf. Aku mengagetkan kamu ya? Ayo, pasti kamu lagi melamun ya? Melamun siapa?" Tanya Abi. Benar saja, sang istri memang saat itu sedang melamun. Sedang mengingat ucapan mantan suaminya tadi. Tetapi, Nisa memilih berbohong. Dia tak ingin memperkeruh suasana.
"Enggak melamun apa-apa kok. Hanya saja kamu datang secara tiba-tiba, aku kira siapa," sahut Nisa.
"Emang dikira siapa?" Tanya Abi lagi.
"Ya enggak siapa-siapa si," sahut Nisa.
__ADS_1