Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pernikahan Nisa dan Abi


__ADS_3

Inilah saat yang dinanti. Orang tua Abi sudah sampai di rumah sakit, dia juga membawa penghulu. Sang Papa berniat menghubungi sang anak, untuk menanyakan keberadaan sang anak.


"Assalamualaikum, Abi dimana?" tanya sang Papa.


"Waalaikumsalam. Abi di depan ruang ICU sama Nisa. Papa sudah sampai di rumah sakit? Abi keluar ya," ujar Abi.


"Tak usah. Kami langsung ke sana saja, kamu tunggu saja ya," sahut sang Papa.


Mereka langsung berjalan, mencari keberadaan Abi. Abi langsung memberitahu Nisa, tentang kedatangan orang tuanya dengan penghulu.


"Ya sudah Mas, aku ganti pakaian dulu ya," ujar Nisa.


"Tunggu dulu! Tunggu Mama dan Papa dulu saja," ucap Abi dan akhirnya Nisa menurutinya. Dia menunggu sampai calon mertuanya datang.


Tak lama kemudian, orang tua Abi dan penghulu datang. Nisa terlihat gugup, karena harus memulai semuanya dari awal. Jantungnya berdegup kencang.


"Nis, kenalin ini Papa aku, dan ini Mama aku. Ma, Pa, kenalin ini Nisa dan ini Khanza," ujar Abi kepada Nisa dan kedua orang tuanya.


Nisa langsung mencium tangan kedua orang tua Abi secara bergantian.


"Enggak perlu gugup Sayang! Kami tak gigit kok. Pantas saja Abi enggak sabar ingin segera nikah, wong calon istrinya cantik begini," puji Mama Aida membuat Nisa tersipu malu. Wajahnya berubah memerah.


"Halo anak cantik. Mulai sekarang, kamu panggilnya nenek ya," ujar Mama Aida. Khanza langsung mencium tangan Mama Aida. Mama Aida pun tampak mengelus rambut Khanza dengan lembut.


Nisa merasa bersyukur, karena calon mertuanya menerima dia dengan baik tak seperti dulu yang menghina dirinya, dan tak pernah menyukainya. Nisa berharap, rumah tangganya kali ini bisa langgeng sampai maut yang akan memisahkan dirinya, dan juga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah.


"Nis, ini tadi Mama belikan gamis untuk kamu. Mudah-mudahan kamu suka. Kita ganti sekarang yuk. Biar ijab kabulnya segera di mulai," ujar sang calon mertua.


Abi pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sang Mama bawa. Nisa kini sudah bersama Mama Aida mencari toilet untuk berganti pakaian.


"Kondisi ibu kamu gimana, Nis?" tanya Mama Aida saat di perjalanan mencari toilet.

__ADS_1


"Tadi sempat kritis Ma, tetapi kini sudah melewati masa kritisnya," jelas Nisa.


"Sabar ya Nis, semoga ibu kamu segera sehat kembali," ujar Mama Aida dan diaminkan oleh Nisa.


Abi sedang membahas teknis acara ijab kabul dengan sang penghulu dan juga sang Papa. Acara ijab kabul akan diadakan di hadapan Ibu Anita. Abi juga tampak sedang belajar bacaan untuk ijab kabul.


"Padahal kamu cantik ya, kok bisa ya suami kamu selingkuh lagi? Dasar laki-laki tak bersyukur. Sudah punya istri sempurna begini, masih saja selingkuh. Memangnya, istri keduanya secantik apa si?" tanya Mama Aida.


Jika Nisa memperlihatkan foto Viona, pasti sang calon mertua akan terkejut. Kalau pelakor dalam rumah tangga Nisa adalah mantan menantunya. Sayangnya Nisa tak memperlihatkannya. Karena dia sudah menguburnya dalam-dalam, Nisa juga sudah tak ingin membahasanya lagi.


"Makasih ya Ma, sudah mau menerima aku apa adanya. Meskipun aku bukan berasal dari orang kaya, tak sepadan dengan Mas Abi," sahut Nisa. Daripada membahas keburukan orang, dia lebih memilih mengucapkan terima kasih.


Mama Aida terlihat begitu menyayangi Nisa sejak awal bertemu. Bahkan kini dia merias sedikit wajah Nisa.


"Aku bingung, kenapa mantan istrinya Mas Abi memilih bercerai ya sama Mas Abi. Harusnya dia bersyukur memiliki suami yang baik dan sabar seperti Mas Abi. Mama juga contoh mertua yang baik," ungkap Nisa.


"Susah Nis, kalau berurusan sama orang yang enggak bersyukur. Mungkin memang tak berjodoh, makanya enggak dikasih anak menikah selama enam tahun. Sudahlah tak perlu bahas dia, Mama sudah tak peduli lagi," sahut Mama Aida.


"Enggak usah gugup, yang harusnya gugup itu Abi yang melakukan ijab kabul sama wali nikah kamu. Semoga ibu kamu bisa sembuh ya, saat melihat kamu menikah dengan Abi," ujar Mama Aida.


Nisa mencoba menenangkan dirinya, dia terlihat menghela napas panjang. Abi terkesima melihat kecantikan calon istrinya, meskipun hanya dengan riasan natural.


"Sudah siap semua? Bagaimana kalau kita mulai sekarang saja? Lebih cepat, lebih baik," ujar sang Papa. Sama yang dirasa Nisa, Abi pun merasa gugup. Meskipun ini bukan yang pertama. Abi berharap, pernikahan kali ini akan menjadi pernikahan terakhirnya.


"Khanza tunggu di sini dulu ya! Soalnya, anak kecil dilarang masuk. Enggak apa-apa 'kan sayang? Doakan bunda ya sayang, semoga pernikahan bunda sama Papa Abi berjalan lancar," ujar Nisa.


"Iya Bun, Khanza enggak apa-apa di luar saja. Khanza doakan, semoga semuanya berjalan lancar. Bunda jadi enggak sedih lagi," ujar Khanza.


"Makasih ya Sayang, kamu memang anak yang sangat mengerti. Bunda sayang sama Khanza," ucap Nisa. Nisa dan Khanza saling berpelukan.


Saat mereka sudah mau masuk ke dalam. Fina datang. Dia ingin menghadiri pernikahan sahabatnya.

__ADS_1


"Makasih ya Fin, kamu sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke acara pernikahan aku," ucap Nisa.


"Iya Nis. Alhamdulillah, mumpung aku masih di Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan. InsyaAllah Mas Abi laki-laki yang baik untuk kamu," sahut Fina.


Acara ijab kabul akan segera dimulai. Bunda Anita di pindahkan sementara ke ruangan yang kosong. Abi sudah meminta izin, untungnya di perbolehkan untuk melakukan ijab kabul secara darurat. Bunda Anita pun sudah melewati masa kritisnya.


Abi kini sudah duduk berdampingan dengan Nisa, dan sudah berhadapan dengan wali dari Nisa. Acara ijab kabul berjalan lancar, Abi mengucap ijab kabul dengan lancar. Kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka semua merasa bersyukur. Bunda Anita tampak meneteskan air mata penuh harunya. Akhirnya, dia bisa melihat anaknya menikah dengan laki-laki yang baik.


Setelah acara ijab kabul selesai, Abi langsung memasangkan cincin di jari manis Nisa. Nisa langsung mencium tangan suaminya, sebagai rasa hormatnya kepada laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya. Abi pun melabuhkan kecupan di kening istrinya, menunjukkan perasaan cintanya kepada sang istri.


Setelah itu mereka sungkem, untuk memohon doa restu dari kedua orang tua Abi secara bergantian.


"Selamat ya Nisa, Abi, kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Semoga kalian bahagia, dan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah. Kalian juga bisa segera diberikan momongan," ujar Mama Aida.


"Makasih ya Ma doanya. Doakan Abi, semoga pernikahan ini menjadi pernikahan Abi yang terakhir," ucap Abi.


"Makasih ya Ma, sudah menerima aku menjadi bagian keluarga Mama," ucap Nisa.


"Selamat ya untuk kalian berdua, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan kalian," ucap sang Papa.


Setelah sungkeman dengan kedua orang tua Abi selesai. Kini keduanya menghampiri Bunda Anita. Suasana penuh haru. Karena Nisa dan Bunda Anita sama-sama meneteskan air matanya.


"Selamat ya Nis, akhirnya kamu mendapatkan laki-laki yang baik. Bunda yakin kalau Nak Abi adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bunda sudah tenang, meninggalkan kamu," ucap Bunda Anita.


"Nisa mohon, jangan bicara seperti ini Bun! Bunda pasti sembuh. Bunda mau 'kan lihat Nisa dan Mas Abi hidup bahagia?" ucap Nisa yang menciumi tangan bundanya berkali-kali. Tangan Bunda Anita terasa dingin. Bunda Anita hanya diam, karena dia tak bisa berjanji dengan sang anak.


Kini beralih kepada Abi.


"Nak Abi, Ibu titip Nisa ya! Tolong sayangi Nisa, dan jangan pernah sakiti hatinya lagi," ujar Bu Anita.


"Iya, Bu. Aku janji, dan insyaallah aku akan menepati janji aku. Aku akan menyayangi Nisa dengan tulus, dan berjanji tidak akan pernah menyakiti hatinya. Ibu juga semangat ya untuk sembuh. Agar Ibu bisa melihat kami hidup bahagia, dan memiliki adik untuk Khanza," ujar Abi.

__ADS_1



__ADS_2