Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menjual Rumah


__ADS_3

"Apa enggak salah Jeng, mau jual rumah itu 1,5 milyar? Paling juga 700 sampai 800 juta harga rumah Jeng Ratih. Rumah Jeng Ratih 'kan enggak mewah, kurang terawat lagi," ujar Jeng Poppy.


"1 milyar enggak bisa ya, Jeng? Paling enggak saya bisa beli rumah lagi, meskipun kecil. Soalnya, saya harus nebus Reynaldi 500 juta di penjara. Makanya, saya terpaksa ingin menjual rumah ini," sahut Mama Ratih.


"Coba saja Jeng! Jeng coba minta bantuan broker property. Biar cepat laku rumah itu," saran Jeng Poppy.


Mama Ratih mengatakan kalau dirinya harus menebus Reynaldi hari ini juga. Kalau tidak, kasus Reynaldi akan diserahkan ke pengadilan.


"Waduh, mepet begitu sepertinya sulit deh. Jeng 'kan tahu, menjual rumah tak semudah jual mobil. Prosesnya bisa lama bisa juga cepat, tergantung rezeki. Tapi, coba Jeng hubungi marketing propertinya langsung. Jeng coba bicara langsung, nanti saya kirim nomor teleponnya," ucap Jeng Poppy.


Mama Ratih langsung menghubungi marketing properti tersebut. Karena, dia ingin segera mendapatkan uang untuk mengeluarkan sang anak dari penjara.


"Waduh bu, dadakan begini ya enggak bisa. Kami 'kan tetap harus survey dulu. Tetap harus sesuai prosedur. Saya harus lapor dulu ke kantor," jelas sang marketing.


"Tapi, saya butuhnya hari ini juga Pak. Bisa enggak bantuin saya Pak? Saya kasih fee deh Pak, tolong bantu saya!" Mama Ratih memohon penuh iba.


"Enggak bisa Bu, maaf. Paling enggak di proses dulu. Karena itu 'kan uang perusahaan, bukan uang saya pribadi," ucap sang marketing.


Mama Ratih tampak bingung, kemana lagi dia harus mencari uang untuk menolong anaknya. Dia tampak nangis tersedu-sedu. Dia tak ingin anaknya di penjara bertahun-tahun. Kalau dia nanti sakit, siapa yang akan mengurusnya. Dia tak yakin kalau Viona akan mengurusnya, di kala dia sakit.


Dia baru menyadari, kalau Viona bukan menantu yang baik. Padahal selama ini Viona sudah berusaha untuk menjadi menantu yang baik. Mengurus rumah, belajar memasak, mencuci dan menyetrika. Tetapi tetap saja Mama Ratih merasa tak puas.


"Apa aku jual sama sebelah rumah saja ya? Kali aja dia mau beli, untuk memperluas rumahnya," gumam Mama Ratih.

__ADS_1


Mama Ratih langsung berganti pakaian, dan keluar untuk bertamu ke rumah sebelah. Dengan perasaan malu, dia lakukan demi sang anak. Hubungan Mama Ratih tidak baik dengan tetangga, tetangganya mengecap dia orang sombong. Hanya beberapa saja yang dekat sama dia. Terlebih saat kasus pertengkaran Viona dengan ibu-ibu sekitar rumahnya.


Selama ini, mereka justru lebih dekat dengan Nisa. Makanya, tak heran jika mereka tak menyukai kehadiran Viona. Tetapi Mama Ratih selalu membela menantu pilihannya.


"Permisi," panggil Mama Ratih.


Kebetulan, tetangga sebelahnya beragama non Muslim. Hingga dia tak mengucap Assalamu'alaikum. Demi sang anak, Mama Ratih rela mengemis kesana kemari.


"Permisi, Ibu atau bapaknya ada?" tanya Mama Ratih kepada sang ART.


"Bapak lagi kerja, kalau Ibu ada. Silahkan masuk, saya panggilkan dulu ya Bu," ujar sang ART.


Berbeda halnya Mama Ratih yang sedang sibuk mencari uang. Viona justru masih berduka. Dia masih tak percaya, kalau sang papa sudah pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Permisi Sis, maaf menggangu waktunya. Kedatangan sang kesini ingin menawarkan rumah. Saya berniat menjual rumah saya, kali saja Sis berminat membelinya. Ingin memperluas rumahnya," ungkap Mama Ratih.


"Oh, mau di jual Bu? Rencananya, mau dijual berapa bu rumahnya?" tanya Sis Feni, tetangga sebelah.


Mama Ratih mengatakan kalau dirinya ingin menjual 1 milyar. Tentu saja Sis Feni terkejut seperti Jeng Poppy. Karena, rumah Mama Ratih bukanlah di perumahan elite. Rumah Mama Ratih memang tingkat, tapi hanya biasa saja, tak mewah.


"Waduh, apa enggak kemahalan Bu harga segitu? Kalau harga segitu mah, saya lebih baik beli rumah yang lain yang lebih mewah. Paling juga 700 juta Bu, itu sudah tinggi," jelas Sis Feni.


Mama Ratih tampak lemas. Bagaimana nasibnya dia nanti, jika dia menjual rumah itu. Jika rumah itu di jual 700 juta, berarti dia hanya lebih 200 juta. Bagaimana dia beli rumah kembali? Tak akan ada. rumah senilai segitu. Lagi pula, dia juga membutuhkan uang pegangan untuk makan sehari-hari.

__ADS_1


Tapi, kalau rumah itu enggak dia jual. Bagaimana nasib anaknya? Dia tak sanggup hidup tanpa sang anak. Seperti sekarang saja, dia harus di rumah sendiri. Karena menantunya tak pulang-pulang. Tak mempedulikan dia.


"Ini si penawaran saya ya Bu. Saya belum menanyakan sama suami, dia minat beli atau tidak. Menurut saya, harga segitu sudah tinggi. Karena kita 'kan bukan tinggal di perumahan mewah, lagipula model rumah Ibu biasa saja. Tingkatnya juga biasa, tak mewah," sahut Sis Feni.


Sungguh pilihan yang sulit, yang harus dia hadapi. Tak ada pilihan lain, selain menjual rumah itu. Untuk menyelamatkan sang anak. Terpaksa dia hanya bisa mengontrak rumah, sampai Reynaldi bisa membelikan rumah lagi untuknya.


Allah murka kepadanya. Allah menjatuhkan Mama Ratih ke titik 0. Dia harus kehilangan satu persatu asetnya, dan harus merasakan hidup susah. Dia tak memiliki apapun, bahkan dia harus merasakan tinggal dikontrakan.


"Ya sudah Sis, tak apa deh. Sebenarnya saya sayang sama rumah ini. Tapi, apa boleh buat. Saya sangat membutuhkan uang itu. Saya butuh uangnya sekarang juga, untuk menebus anak saya," jelas Mama Ratih.


"Saya tak bisa memutuskan begitu saja, saya harus membicarakan hal ini ke Suami dulu," ucap Sis Fina.


"Ya sudah, nanti tolong kabarin ya Sis secepatnya! Saya butuh cepat soalnya," ungkap Mama Ratih.


Akhirnya, Mama Ratih memutuskan untuk pulang.


"Semua ini gara-gara wanita itu! Hidup aku dan anakku menjadi menderita. Semoga saja Allah memberikan balasan yang setimpal, atas perbuatan yang dia lakukan kepada kami," ucap Mama Ratih.


Sampai saat ini dia masih belum menyadari atas apa yang dia lakukan dulu. Bagaimana dulu dia menghina Nisa, menolak Nisa karena Nisa bukan berasal dari anak orang kaya.


Nyatanya sekarang apa? Roda kehidupan berputar Kini dia yang berada di posisi itu, dia benar-benar jatuh miskin. Yang tak memiliki apapun, termasuk rumah. Sedangkan Nisa justru kini hidup bahagia bersama Abi. Dia tak lagi hidup kekurangan, karena usahanya berjalan lancar. Kini Nisa masuk ke jajaran pengusaha muda sukses.


__ADS_1


__ADS_2