Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Keberangkatan Ke Singapura


__ADS_3

"Sayang, jangan seperti ini! Kalau kamu seperti ini, aku menjadi berat meninggalkan kamu. Jika bukan untuk urusan yang penting, aku pasti akan membatalkan rencana keberangkatan aku hari ini," ucap Melani.


Melani berusaha untuk kuat. Sejujurnya dia pun merasa berat meninggalkan suaminya. Tapi hal ini dia lakukan, karena dia ingin sembuh. Melani melepaskan pelukan suaminya. Dia tak ingin semakin terlarut dalam kesedihan. Dia tak ingin menunjukkan kesedihannya.


"Ya sudah, aku siap-siap dulu ya! Setelah ini, kita sarapan," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.


Dia pun ingin bersiap-siap. Setelah mengantarkan istrinya ke bandara, Reynaldi akan langsung ke kantor. Kini keduanya sudah sama-sama rapi. Penampilan Melani sekarang tertutup. Dia sudah memakai jilbab, jika berpergian keluar rumah.


Keduanya tampak mesra menuruni anak tangga menuju meja makan. Melani berharap, kalau ini bukanlah sarapan bersama mereka terakhir kalinya. Harapannya saat ini, dia bisa sembuh saat kembali ke Indonesia.


"Ingat ya, di sana kamu jangan capek-capek! Pikirkan kesehatan kamu!" ucap Reynaldi, membuat Melani tersenyum. Suaminya begitu perhatian kepadanya.


"Siap bos, laksanakan! Kamu juga ya! Jaga kesehatan kamu, selama aku tak di Indonesia. Mungkin, aku akan sering meninggalkan kamu ke Singapura. Aku ada rencana membuat usaha di sana. Next time, aku akan mengajak kamu ke Singapura," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.


Reynaldi selalu bangga dengan semangat kerja keras istrinya. Meskipun dia seorang wanita, dia memiliki pemikiran maju. Ini salah satu alasan membuat Reynaldi tergila-gila dengan istrinya. Istrinya adalah motivasi dia untuk maju. Melani akan berobat di sana sampai sembuh.


"Ayo kita berangkat sekarang! Takut jalanan macet," ujar Melani dan Reynaldi mengiyakan.


Sebelum berangkat, Melani dan Reynaldi memasuki kamar Mama Ratih berada. Melani pamit kepada ibu mertuanya, mencium tangan ibu mertuanya.


"Hati-hati ya Mel di sana! Jaga kesehatan kamu!" ucap Mama Ratih kepada menantunya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Titip Rey ya Ma, biar gak nakal selama aku gak di sini," ucap Melani sambil terkekeh.


"Gak akan, sayang! Mana mungkin aku berniat nakal, jika semuanya sudah ada pada diri kamu," ucap Reynaldi.


Reynaldi membawa Melani dalam dekapan hangatnya, dan memberikan kecupan di kening Melani. Mama Ratih turut bahagia, melihat kemesraan anaknya dengan menantunya. Pada akhirnya, sang anak mendapatkan kebahagiaan kembali.


Mereka kini sudah dalam perjalanan menuju bandara. Lina sang asisten, akan langsung bertemu di bandara. Melani kini hanya berdua saja dengan Reynaldi. Selama perjalanan, Melani tampak bergelayut manja kepada Reynaldi. Seakan tak ingin terlepas.


Akhirnya, mereka sampai di bandara. Reynaldi langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu mengantarkan sang istri masuk ke dalam. Reynaldi akan menemani sang istri, sampai Melani pergi.


"Itu Lina," ucap Melani.


"Kasihan Ibu Melani, dia terlihat bahagia. Semoga saja penyakitnya bisa sembuh," ucap Lina dalam hati. Dia melihat kemesraan Melani dengan Reynaldi.


"Pak Reynaldi juga terlihat begitu mencintainya. Entah apa yang terjadi padanya nanti, kalau Ibu Melani nyawanya tak tergolong lagi," ucap Lina lagi dalam hati.


Melani dan Reynaldi harus berpisah, karena Melani harus melakukan persiapan untuk berangkat. Perpisahan penuh haru. Mereka berpelukan begitu erat. Membuat Lina ikut sedih melihatnya.


"Jaga diri kamu baik-baik ya, Sayang! Jangan lupa kabari aku, kalau kamu sudah sampai di sana! Sering-sering telepon aku ya! I love you. Aku akan selalu merindukan kamu," ucap Reynaldi sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening Melani.


"Iya. I love you too. Aku juga akan selalu merindukan kamu. Aku pamit ya," sahut Melani. Melani mencium tangan Reynaldi, sebagai bentuk rasa hormatnya kepada sang suami.

__ADS_1


Melani dan Reynaldi tampak melambaikan tangannya, sampai akhirnya mereka benar-benar terpisah. Reynaldi langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dia akan langsung ke kantor.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong lindungilah di manapun istriku berada," ucap Reynaldi dalam hati.


Ada sebuah firasat untuknya. Dia merasa tak ingin jauh dari istrinya. Namun, Reynaldi tak tahu maksud firasat yang dia rasakan saat ini. Reynaldi mencoba menghempaskan perasaannya itu. Dia berusaha untuk percaya sama istrinya. Dia yakin, kalau istrinya tak akan mengecewakan dia lagi. Keberangkatan istrinya, benar untuk urusan pekerjaan.


Reynaldi langsung melajukan mobilnya menuju kantor. Melani kini sudah dalam penerbangan menuju Singapura. Dia begitu menaruh harapan, terhadap keberangkatan dia kali ini ke Singapura.


"Semoga Allah segera mengangkat penyakit aku, dan aku bisa sehat lagi. Aku masih ingin hidup bahagia bersama kamu, dan memiliki anak dari kamu," ucap Melani dalam hati.


"Lin, apapun yang terjadi. Jangan pernah bongkar rahasia ini kepada suami saya!" pinta Melani.


"Kenapa Ibu gak kasih tahu Bapak saja, mengenai penyakit Ibu. Biar Bapak bisa mendampingi Ibu, saat berobat seperti ini. Memberi motivasi kepada Ibu, agar Ibu semangat," ucap Lina.


"Tidak! Saya tak ingin, suami saya menjadi kepikiran nantinya. Saya memilih merahasiakan penyakit saya ini. Semoga saja saya bisa segera sehat. Agar tak memiliki rahasia seperti ini. Do'akan saya ya, Lin! Hanya kamu yang tahu penyakit saya ini. Orang tua saya pun tak tahu. Saya berangkat ini pun, orang tua saya tak ada yang tahu. Saya tak ingin membuat orang-orang yang saya sayang menjadi sedih. Saya akan berjuang demi mereka," ungkap Melani.


Semua ini keputusan bosnya. Lina tak bisa melakukan sesuatu. Terpaksa dia mengikuti permintaan bosnya itu. Meskipun hatinya berkata lagi. Dia justru ingin, Reynaldi tahu. Kalau bosnya memiliki penyakit yang serius. Yang bisa saja merenggut nyawanya. Dia tak ingin nantinya akan disalahkan Reynaldi ataupun kedua orang tua Melani, karena menutupi penyakit Melani. Semoga saja Melani bisa sembuh, agar nantinya dia tak disalahkan.


Pesawat yang membawa Melani dan Lina sudah mendarat di Changi Airport, Singapura. Mereka langsung menuju apartemen yang sudah Melani sewa untuk mereka selama di Singapura. Letak apartemen itu, tak jauh dari rumah sakit tempat Melani akan melakukan pengobatan. Memudahkan dia untuk bisa bolak-balik ke rumah sakit.


Melani dan Lina sudah sampai di apartemen. Hari ini juga Melani akan mendatangi rumah sakit, bertemu dengan dokter yang akan menangani penyakitnya. Lebih cepat, lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2