
Hubungan Reza dan Meli semakin dekat, Viona sering melihat mereka berdua asyik mengobrol. Bahkan, Viona melihat ada pandangan lain yang terpancar dari mata Meli saat melihat suaminya itu. Tentu saja membuat Viona merasa cemburu, melihat kedekatan Meli dengan suaminya. Terlebih mertuanya ingin menjodohkan Meli dengan Reza.
"Asyik banget yang baru selesai mengobrol sama perawan, kamu suka ya sama Meli?" tegur Viona sesaat setelah suaminya masuk.
"Asyik gimana sih, Yang? suami capek bukannya disiapkan air hangat untuk mandi, ini justru dituduh yang macam-macam," jawab Reza berpura-pura.
"Selama ini kamu 'kan berangkat dan pulang kerja bareng sama dia. Tiap hari loh, bisa saja 'kan kamu sudah punya benih cinta sama si Meli. Apalagi Mama kamu berniat menjodohkan kamu sama dia, " sahut Viona seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Kalau cemburu makin manis deh," rayu Reza. Reza mencubit kedua pipi Viona dengan gemasnya.
"Sudah tidak usah cemburu dan cemberut gitu. Aku hanya menganggap Meli seperti adik aku sendiri," sahut Reza sambil mengusap ujung kepala Viona sambil tersenyum manis.
"Mana ada sih seorang istri tidak cemburu melihat suaminya dekat sama wanita lain, Yang?" Viona langsung menepis tangan Reza, karena hatinya terasa sakit melihat suaminya tertawa bahagia dengan wanita lain.
Akankah karma menghampiri dirinya? Atas apa yang dia lakukan dulu dengan Reynaldi. Bahagia di atas penderitaan seorang istri yang dikhianati.
Awalnya Viona cuek dengan Meli, karena dia pikir hatinya akan baik-baik saja melihat Reza yang begitu sayang padanya. Namun, masa lalunya dulu mengingatkan dirinya. Dia takut suaminya selingkuh, seperti yang dilakukan Reynaldi dulu dengannya.
"Kamu 'kan tahu Meli itu dititipin sama aku, jadi mau tak mau dia menjadi tanggung jawab aku di sini. Dia juga 'kan belum mengenal kota ini. Coba kalau kamu berada di posisi dia?" Reza mencoba menjelaskan kepada istrinya.
"Sudah ya, aku tak mau ribut sama kamu. Karena hal yang tidak penting. Aku mandi dulu ya, setelah ini kita makan bareng. Kamu siapkan saja ya," ucap Reza.
Reza mandi, sedangkan Viona menyiapkan makanan yang Reza beli ke piring. Reza membeli sop kambing dan juga sate kambing. Mereka sudah bersiap-siap untuk makan. Namun, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dan suara Meli memanggil Reza.
"Biar aku saja yang buka!" ucap Viona.
"Aku saja! Tak enak dilihat kalau wajah kamu seperti itu, nanti yang ada Meli salah paham. Terus mengadu sama ibunya. Aku yang tak enak jadinya," ujar Reza. Membuat Viona merasa geram. Meli selalu mengusik rumah tangga mereka.
Reza langsung membuka pintu kamarnya. Demi Meli, dia rela meninggalkan makanannya. Padahal dia sudah ingin makan.
__ADS_1
"Kenapa, Mel?" tanya Reza ramah. Padahal saat itu sang istri sudah menunjukkan wajah perang.
"Kak, maaf ganggu. Lampu di kamar Meli rusak. Kedip-kedip terus. Bisa tolong benerin tidak, Kak? Meli takut gelap," ucap Meli memohon. Tentu saja membuat Reza merasa tak tega. Lagi pula hal itu sebuah perkara yang mudah.
"Bisa. Kamu punya lampu baru?" tanya Reza.
"Yang?" cegah Viona agar suaminya tidak menuruti apa yang diminta Meli. Karena mereka sudah berencana untuk makan.
"Sebentar doang, Yang. Masa' iya Meli suruh ganti lampu sendiri? Memangnya kamu bisa Yang ganti lampu sendiri?" ucap Reza mencoba memberi pengertian kembali kepada istrinya.
"Ya sudah, jangan lama-lama! Kalau sudah selesai, cepat pulang," ucap Viona ketus.
Reza akhirnya pergi bersama Meli, menuju kamar Meli untuk mengganti lampu kamarnya. Benar saja, saat tiba di depan kamar Meli, lampu itu berkedip mati nyala berulang kali.
"Mana lampu barunya?" tanya Reza seraya mengulurkan tangannya.
Namun karena gugup dan terburu-buru, Meli menjadi tersandung, dan terhuyung ke lantai. Reza mencoba membantunya untuk bangkit, tetapi Reza justru terjatuh di atas tubuh Meli. Membuat jantung keduanya berdegup kencang, deru napas kedua sangat terdengar.
Reza bangkit dari atas tubuh Meli, dan membantu Meli untuk duduk.
"Kakiku sakit, Kak. Kayaknya keseleo, bisa tolong pijit sebentar?" pinta Meli. Reza pun akhirnya berjongkok dan melihat kaki Meli.
"Coba, tahan dikit ya!" Reza meluruskan kaki Meli dan hendak memijat kakinya yang keseleo tersebut.
"Besok-besok lebih hati-hati ya," ucap Reza lembut, dan Meli menganggukkan kepalanya.
"Pelan-pelan, Kak, aw …." rintih Meli.
"Iya, tahan sebentar y," Reza benar-benar memijat kaki Meli dengan penuh kelembutan. Mencoba meredakan rasa sakit yang dirasakan Meli.
__ADS_1
"Argh … sakit, Kak," ringis Meli karena merasa sakit.
Perlahan rasa sakit yang dirasakan Meli berkurang. Meli meminta Reza untuk menghentikannya.
"Ya sudah, kalau sudah merasa enak. Sekarang Kakak bisa pasang lampunya. Di mana lampunya?" tanya Reza. Meli mengatakan kalau lampunya berada di atas kulkas.
Reza pun segera mengambil lampu yang berada di atas kulkas. Kemudian mengambil sebuah kursi, untuk dia pakai mengganti lampu kamar Meli. Lampu kamar Meli kini sudah terganti.
"Sudah beres, aku tinggal dulu ya! Nanti Kak Viona marah kalau Kakak lama-lama disini," ucap Reza mencoba memberi pengertian kepada Meli. Reza hendak beranjak pergi, tetapi Meli justru menariknya.
"Tunggu dulu, Kak!" cegah Meli, membuat Reza tak jadi pergi meninggalkan Meli.
"Kenapa? Kamu butuh sesuatu lagi?" tanya Reza lembut.
"Tolong bantu Meli ke kasur ya, Kak." pinta Meli. Tanpa berpikir panjang, dia membantu Meli untuk ke kasur.
Reza membantu Meli, membopongnya ke kasur. Kemudian membaringkan tubuh Meli di atas tempat tidur. Namun saat Reza akan bangkit, tangan Meli justru melingkar di leher Reza. Membuat netra mereka bertemu, saling menatap.
"Yang, kamu ngapain?" tanya Viona yang tiba-tiba saja masuk ke kamar Meli. Reza dan Meli sangat terkejut dan segera melepaskan tangannya.
"Eh itu, em Meli tadi jatuh dan kakinya keseleo. Aku berniat menolongnya, membantu dia ke kasur dan memijit kakinya," jawab Reza. Dirinya merasa gugup, karena dirinya takut kalau istrinya akan salah paham.
"Maaf Kak, Meli tadi tak hati-hati. Makasih ya Kak, Kakak sudah mau bantuin Meli," ucap Meli tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Enggak apa-apa. Kalau kamu butuh lagi, kamu bisa panggil Kakak lagi! Kakak pulang dulu ya," ucap Reza lembut.
Membuat Viona merasa cemburu dengan sikap suaminya kepada Meli. Viona terlihat mengepalkan kedua tangannya, karena harus menahan api cemburu. Ingin rasanya dia menarik rambut Meli yang panjang dan juga menampar wajah Meli.
"Jangan salah paham, apa yang kamu lihat bukan sebenarnya. Aku hanya berniat membantunya," ujar Reza dan Viona hanya mengiyakan. Dia tak ingin bertengkar dengan suaminya.
__ADS_1