
"Aku pasti sangat merindukan kamu, kalau kamu nanti pergi. Satu minggu saja ya, nanti pulang," ucap Reynaldi yang kini memeluk istrinya.
Mereka akan berpisah selama satu minggu. Kepergian Nisa sekarang yaitu sebagai ajang apakah Reynaldi merasa kehilangan atau tidak. Saat Nisa tak ada di sampingnya. Saat ini Reynaldi sedang ingin bersama anak dan istrinya.
"Masa sih? Bukannya enak tak ada aku, bisa bebas bersama dia? Nanti juga kalau aku pergi, kamu lama-lama akan lupa sendiri," sindir Nisa.
"Tuh 'kan masih membahas saja. Dibilang sudah jangan dibahas lagi! Sudah ya, jangan berpikir macam-macam di sana," ujar Reynaldi, sedangkan Nisa justru memilih untuk bersikap cuek.
Reynaldi yakin, kalau istrinya sudah mengetahui perselingkuhan dirinya. Namun, sampai saat ini Nisa masih belum tahu siapa wanita yang sedang dekat dengan suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, Nisa beserta Khanza dan juga Reynaldi sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Stasiun. Perjalanan dari rumah ke Stasiun memerlukan waktu kurang lebih 1,5 jam. Namun, mereka memilih berangkat lebih awal, untuk berjaga-jaga takut jalanan macet.
Reynaldi turun lebih dulu, sambil menarik satu buah koper. Kemudian diikuti Nisa dan juga Khanza. Nisa berniat untuk pamit kepada kedua mertuanya, sebagai bentuk rasa hormatnya. Seperti biasa, Mama Ratih tak menerima menantunya yang ingin mencium tangannya. Hanya Papa Faisal yang selalu bersikap baik dengan Nisa. Sedangkan Mama Ratih justru menunjukkan wajah tak suka, saat bertemu wanita yang masih menjadi menantunya.
"Pa, Nisa pamit dulu ya! Nisa mau menengok Bunda dulu di Yogya," ucap Nisa sambil mencium tangan Papa mertuanya.
"Iya, Hati-hati di jalan ya! Semoga selamat sampai tujuan, salam untuk Bunda kamu ya," sahut Papa Faisal dan Nisa menganggukkan kepalanya. Papa Faisal juga sempat memangku Khanza dan mencium kedua pipi Khanza. Khanza pun ikut pamit dan mencium tangan kakek dan neneknya.
"Syukur-syukur tidak kembali lagi ke sini," celetuk Mama Ratih, membuat Reynaldi dan Papa Faisal kompak membentaknya. Namun, dirinya justru bersikap cuek tak peduli. Dia tak menyadari, kalau ucapannya membuat hati Nisa tersakiti.
Tepat pukul 09.30 WIB, Reynaldi pergi mengantarkan anak dan istrinya ke stasiun Pasar Senen. Nisa dan Khanza akan berangkat naik kereta pukul 11.40 WIB.
"Khanza di sana jangan nakal ya! Jangan menyusahkan Bunda! Ayah titip salam untuk Nenek ya," ucap Reynaldi kepada sang anak, dan Khanza mengiyakan.
__ADS_1
Reynaldi melirik dari kaca spion yang berada di dalam mobil, sesekali dirinya memperhatikan gerak gerik yang dilakukan istrinya. Nisa lebih memilih diam dan duduk di belakang.
"Mau makan dulu tidak, Yang? Mumpung masih ada waktu. Khanza mau makan dulu tidak? Biar di kereta tinggal tidur," ujar Reynaldi.
Nisa setuju kalau dirinya dan Khanza makan dulu. Kini mereka berjalan mencari restoran yang berada di stasiun. Sedangkan Reynaldi justru terlihat tak makan, karena perutnya masih terasa kenyang. Hanya menemani istri dan juga anaknya.
"Selama Khanza sama Bunda tak ada di rumah, Ayah jadi harus tidur sendiri deh," ucap Reynaldi.
"Iya Ayah, Khanza perginya tak lama kok. Ayah sabar ya," ujar Khanza, sedangkan Nisa justru memilih untuk diam.
Setelah selesai makan, Nisa harus berpisah dengan Reynaldi. Dia harus menunggu di tempat keberangkatan. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 11.15 WIB, Nisa pamit kepada sang suaminya untuk berangkat. Nisa mencium tangan suaminya, dan dirinya langsung mendapatkan kecupan dari suaminya.
"Hati-hati di jalan! Nanti kalau sudah sampai Yogya, kabarin aku ya! Aku sayang kamu. Jangan pikir macam-macam ya di sana," ujar Reynaldi dan Nisa memilih tak menjawab.
"Kamu di mana, Ay? Katanya mau ke sini?" tanya Viona yang menghubungi Reynaldi lewat pesan chat whatsapp.
"Tunggu ya! Aku lagi nganter Nisa dulu. Sekarang masih di stasiun. Nanti kalau Nisa sudah berangkat, aku langsung pulang. Sabar dulu ya!" tulis Reynaldi.
Kereta yang membawa Nisa dan Khanza sudah berangkat, Reynaldi langsung menghubungi Viona.
"Iya, Sayang. Kamu kok jadi tak sabar sih? Iya, pokoknya aku akan ke sana Tetapi, aku harus mengambil pakaian kerja aku dulu ke rumah. Soalnya tadi tidak mungkin aku bawa," ujar Reynaldi.
"Ya sudah, tetapi ingat jangan lama-lama! Aku ingin mengajak kamu menonton bioskop. Sudah lama aku tak menonton bioskop," ucap Viona dan Reynaldi mengiyakan. Dirinya bebas melakukan apapun dengan Viona.
__ADS_1
Setelah menyiapkan pakaian kerjanya dan juga perlengkapan lainnya untuk selama satu minggu, Reynaldi langsung pamit berangkat.
"Mau sama Vi ya?" goda Mama Ratih, dan Reynaldi mengiyakan. Reynaldi menutup bibirnya dengan jari telunjuknya, agar sang mama merahasiakannya.
"Rey, berangkat dulu ya Ma! Kemungkinan Rey tak pulang ke rumah selama satu minggu," ucap Reynaldi.
Papa Faisal terkejut. Saat dirinya keluar dari kamar, dirinya melihat Rey sedang menarik kopernya.
"Mau kemana kamu?" tanya Papa Faisal menyelidik.
"Aku tiba-tiba ada tugas ke luar kota Pa. Aku pamit dulu ya," ucap Reynaldi yang memilih menghindar dari sang papa. Reynaldi yakin, papa-nya akan marah jika tahu dirinya berselingkuh. Papa Faisal memiliki sifat yang tegas, dan berwibawa. Namun, dirinya sangat menyayangi Nisa dan Khanza. Dia yang selalu membela Nisa di rumah itu.
Viona sejak tadi sudah gelisah menunggu kekasihnya datang, dia merasa khawatir kalau kekasihnya akan berubah pikiran. Seperti biasa, dia selalu menyambut kekasihnya dengan berpakaian seksi. Tentu saja tujuannya untuk menggoda Reynaldi.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Kok Kamu lama banget sih, Ay? Aku sudah menunggu kamu sejak tadi," ucap Viona kepada Reynaldi. Viona langsung memeluk tubuh kekasihnya, meluapkan perasaan rindunya.
"Iya, maaf ya! Tadi jalanan padat banget. Kamu seperti tak tahu saja, jalanan kalau hari Sabtu," ujar Reynaldi dan Viona akhirnya menganggukkan kepalanya, mengerti.
"Tas baju kamu mana? Kok kamu tidak bawa? Memangnya kamu tidak jadi menginap di sini?" tanya Viona kepada Rey, kini dirinya menatap serius wajah Reynaldi. Karena dirinya tak melihat Reynaldi membawa koper.
Viona langsung merajuk, melepaskan pelukannya, dan menyilangkan tangannya di dada. Saat Reynaldi menggoda dirinya dengan mengatakan kalau Reynaldi tak jadi menginap.
"Tuh 'kan bohongi aku. Aku lelah di bohongi kamu terus. Mungkin lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai sini saja," ancam Viona. Membuat Reynaldi melongo, betapa nekatnya Viona memilih untuk putus hanya karena dia tak jadi menginap.
__ADS_1
"Ya ampun, Ay. Aku 'kan hanya bercanda, kok kamu menanggapinya serius sih?"