
"Kalian mau kemana? Sudah bersiap-siap gitu?" Tanya sang mama saat sarapan pagi bersama.
"Nisa mau main ke rumah Fina, Ma. Mumpung kami di sini, karena belum tahu lagi kapan sempat main kesini lagi. Dua bulan lagi, Nisa juga 'kan mau lahiran," jelas Abi kepada sang mama.
"Iya. Ya sudah, salam untuk Fina ya," ujar sang mama dan Abi mengiyakan.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 08.30 Nisa, Abi, dan juga Khanza pamit untuk berangkat. Mereka akan pergi ke rumah Fina. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Fina. Mereka pergi dengan menggunakan mobil orang tua Abi.
"Mas, nanti pulangnya mampir dulu ya ke Malioboro. Aku mau beli oleh-oleh untuk gurunya Khanza. Kamu mau beli oleh-oleh juga enggak untuk orang-orang rumah sakit?" Tanya Nisa kepada sang suami.
"Aku itu, kalau bawa oleh-oleh harus banyak. Soalnya orangnya 'kan banyak. Sudah beli untuk gurunya Khanza saja," ujar Abi dan Nisa akhirnya mengiyakan.
Mereka baru saja sampai di rumah Fina. Abi menekan klakson mobilnya, agar ART Fina segera membuka pintu gerbang rumah Fina.
"Aku turun saja deh. Mungkin ART-nya Fina enggak dengar," ujar Nisa. Tetapi Abi tak mengizinkan, dia kasihan dengan istrinya yang sudah tak lincah bergerak. Hingga akhirnya Abi menekan klaksonnya kembali agar sang ART Fina keluar.
"Tuh 'kan keluar," ujar Abi membuat Nisa tersenyum.
Abi tak membiarkan sang istri berjalan. Setelah mobil dia masuk, barulah Nisa di perbolehkan untuk turun dari mobil. Fina langsung menyambut kedatangan sahabat, keponakan, dan sepupunya itu.
"Assalamualaikum." Nisa mengucapkan salam dan langsung berpelukan dengan sang sahabat.
"Bumil tambah cantik saja semakin hari. Udah mau tiga aja, kalah deh gue," ucap Fina.
"Ya udah, buat deh! Semoga aja kembar," sahut Nisa.
__ADS_1
"Iya, masa kalah sama mas si. Sekali gol langsung dua," Abi ikut bicara.
Abi tentu saja senang memperistri Nisa, Nisa sangat akrab dengan sepupu terdekatnya. Berbeda halnya saat bersama Viona dulu. Viona justru jarang mau ikut, kalau Abi main ke rumah Fina.
Fina meminta ART-nya untuk membuatkan orange jus untuk Nisa, Abi, dan juga Khanza. Mereka kini mengobrol di ruang tamu. Saatnya mereka untuk mengobrol, karena kemarin mereka tak sempat mengobrol banyak hal.
Fina merasa kagum dengan sahabatnya itu. Hanya dengan beberapa bulan saja dia sudah bisa mengembalikan uang pinjaman modal kepadanya. Fina sedang, karena bantuan yang dia berikan mampu mengubah hidup sahabatnya itu.
"Fin, tahu enggak? Pelakor di rumah tangga sahabatmu itu, almarhumah mantan istri mas. Viona yang kita maksud itu orang yang sama. Belum lama ini dia meninggal, terkena kanker serviks," ujar Abi.
"Ya ampun Mas, dunia sempit banget si. Ini namanya jodoh kalian tertukar ceritanya. Alhamdulillah akhirnya menyatukan kalian, orang baik dipasangkan dengan yang baik. Kasihan juga si ya. Tapi dulu semasa hidupnya sombong banget si. Aku masih ingat banget, saat dia bilang ke aku. Sepupu lo itu mandul, gue enggak tahan sama dia. Tapi nyatanya apa? Sekarang Nisa lagi hamil, bahkan kalian di beri dua anak sekaligus. Dia sama si Reynaldi punya anak enggak? Lo maafin dia Nis?" cerocos Fina.
"Itulah takdir. Kita enggak pernah tahu jalan hidup kita. Mas juga enggak pernah menyangka, kalau anak pasien mas ternyata jodoh terbaik untuk mas. Dia sama Reynaldi enggak punya anak juga. Ya sudahlah enggak perlu di bahas lagi. Kasihan, orangnya juga sudah enggak ada. Yang terpenting mas sekarang sama Nisa sudah bahagia," sahut Abi. Nisa dan Fina mengiyakan.
Tak terasa mereka berbincang selama dua jam. Sekarang mereka sedang menikmati makan siang bersama. Fina sudah menyiapkan makanan untuk sahabat, keponakan, dan sepupunya.
Fina ikut merasa bahagia melihat sahabat dan sepupunya bahagia. Sedikit banyak, dia tahu perjalanan cinta sahabat dan sepupunya itu. Setelah rasa sakit yang mereka rasakan, kini mereka hidup bahagia.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan sholat zuhur berjamaah. Abi yang menjadi imam. Khanza pun merasa betah main di rumah Fina, bermain dengan anaknya Fina.
"Yang, kita pulang sekarang saja yuk!" Ajak Abi. Setelah selesai sholat zuhur, Abi mengajak sang istri pulang.
"Mau kemana si buru-buru banget. Kapan lagi coba bisa ngobrol gini. Enggak sabaran banget si mas, ingat itu perutnya sudah gendut," protes Fina. Membuat Abi terkekeh mendengar penuturan sepupunya itu.
"Yeay, emangnya mas mau ngapain. Pikirannya ngeres terus. Tadi katanya Nisa ingin jalan-jalan dulu, sekalian mau beli oleh-oleh untuk gurunya Khanza. Lagian kalau audah gendut. Emangnya enggak boleh?" sahut Abi.
__ADS_1
"Doyan ya Nis, Mas Abi? Itu keren banget bisa langsung dua aja," ujar Fina membuat wajah Nisa memerah. Membuat Abi langsung menoel kening Fina.
"Lihat tuh wajah Nisa udah memerah, malu bahas gituan. Sudah ah, Mas sama Nisa pamit pulang. Nanti, kalau Nisa melahirkan kamu main ke Jakarta ya. Sekalian beliin kado yang bagus untuk twins," ujar Abi dan Fina mengiyakan.
Akhirnya Nisa dan Abi pamit pulang. Fina mengantarkan sahabat dan sepupunya sampai mereka akan masuk ke mobilnya.
"Semoga di berikan kelancaran ya, Nis! Twins juga diberikan kesehatan. Amin. Insya Allah nanti gue main ya ke Jakarta, kabarin saja ya kalau sudah lahir," ujar Fina, mereka langsung berpelukan.
"Mas pulang ya, sampai ketemu lagi nanti," pamit Abi kepada sepupunya.
Abi menekan klakson mobilnya, sebagai tanda dia pamit untuk pulang. Nisa dan Fina sama-sama melambaikan tangannya.
Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju Malioboro, untuk membeli oleh-oleh untuk gurunya Khanza.
"Aku baru ingat, kenapa kamu enggak kasih produk dari usaha kamu saja. Kamu 'kan ada produk mukena, baju batik juga. Jadi kamu tinggal belikan cemilan saja. Sekalian guru-guru Khanza tahu, kalau Bundanya Khanza wanita yang hebat. Aku yakin mereka juga pasti ada yang tahu, pernah melihat tayangan di televisi saat kamu wawancara.
"Sebenarnya aku merasa tak enak, mengemban sebagai pengusaha wanita terbaik. Seharusnya aku harus sosialisasi, dan memberikan motivasi kepada pengusaha lainnya yang berusaha untuk maju. Ini aku malah di Jakarta," ucap Nisa.
"Ya habis gimana. Kamu 'kan sekarang tinggalnya di Jakarta, dan aku tak mengizinkan kamu kalau ke Yogyakarta sendiri. Apalagi sekarang perut kamu sudah besar seperti itu. Lagi pula, usaha kamu 'kan tetap berkembang pesat. Meskipun kamu tak berada di sana. Kamu pun di Jakarta tetap bekerja, memantau dari Jakarta," ujar Abi, memberi masukan kepada sang istri.
Nisa setuju dengan saran suaminya itu, dia hanya membeli beberapa cemilan untuk mereka di Jakarta, dan juga guru-guru Khanza. Nisa juga membeli daster untuk dirinya dan juga Khanza.
"Mau makan gudeg enggak? Mumpung lagi di sini. Biar enggak penasaran," ujar Abi.
"Iya deh, boleh. Mumpung di sini. Sekalian beli untuk mama dan papa," sahut Nisa.
__ADS_1
Akhirnya mereka ke restoran gudeg yang terkenal di sana. Mereka kini sedang menikmati makan bersama. Khanza memilih menu makanan lainnya.