Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Menderita


__ADS_3

Hari ini Viona sudah di perbolehkan pulang. Namun, setiap bulan Viona harus melakukan kemoterapi. Semenjak itu, Reynaldi tak pernah lagi datang ke rumah sakit menengoknya. Membuat Viona merasa sedih, karena harus merasakan di posisi ini. Masa kejayaannya telah habis, kini dia harus menderita karena perbuatan jahatnya dulu kepada Nisa.


Namun sayangnya, sampai hari ini dia masih belum juga menyadari kesalahan yang dia perbuat dulu kepada Nisa. Viona harus menderita, melewati hari-harinya sendiri tanpa perhatian sang suami.


"Ayo Na, kita pulang! Mama yakin, kalau Reynaldi tak akan datang menjemput kamu. Dia bilang, dia tak bisa meninggalkan sang mama," ujar sang mama. Dengan perasaan kecewa, akhirnya Viona mengikuti ucapan sang mama untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah orang tuanya Viona.


"Sabar ya, Na! Reynaldi sudah cerita banyak sama Mama, tentang apa yang kalian lakukan dulu. Dia meminta Mama untuk selalu mengingatkan kamu untuk beribadah, dan bertobat. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa yang kamu perbuat dulu. Kamu harus ikhlas melewati semua ini, anggap saja sakit kamu ini sebagai pelebur dosa-dosa kamu dulu," ucap sang Mama.


Viona tampak terdiam. Entah apa yang harus dia lakukan. Dia pun tak tahu. Harapan indah bersama Reynaldi pupus sudah, kini berganti dengan penderitaan.


"Kamu tahu tidak dimana mantan istrinya sekarang berada? Alangkah baiknya kamu meminta maaf kepadanya, agar hidup kamu merasa tenang," ujar sang mama mengingatkan sang anak.


"Untuk apa Viona meminta maaf sama dia? Meskipun dulu Renaldi selingkuh sama Viona, Reynaldi enggak benar-benar meninggalkan dia. Reynaldi masih menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami, hanya saja dia tidak mau di poligami. Reynaldi pun tak pernah berniat menceraikan dia, dialah yang meminta bercerai karena tak mau di madu," jelas Viona.

__ADS_1


Sepertinya, Viona belum menyadarinya. Kalau dialah penyebab hancurnya rumah tangga Reynaldi dengan Nisa. Dia kembali, di saat Reynaldi telah menikah dan memiliki anak dari Nisa. Suatu kesalahan yang sangat besar. Jika dia tak masuk kembali di kehidupan Reynaldi, pastinya rumah tangga Nisa dan Reynaldi masih adem ayem.


Viona dan sang mama baru saja sampai di rumah. Wajahnya terlihat tak cerah, tak adalagi kecantikan di wajahnya. Bahkan kini rambut panjang dan indahnya telah hilang. Penyakit kanker yang di deritanya selama ini, membuat rambutnya rusak dan rontok.


"Lebih baik kamu beristirahat saja dulu! Ingat! Kata dokter kamu tak boleh stres dan capek, agar kamu umur panjang. Bebaskan saja Reynaldi, lebih baik sekarang kamu pikirkan kesehatan kamu," ujar sang mama.


"Iya, ma. Viona masuk dulu ya ma, mau istirahat dulu," sahut Viona.


Viona langsung membuka pakaiannya, sambil menatap tubuhnya di depan kaca yang besar. Air matanya menetes satu persatu. Tubuhnya tak seindah dulu, dia terlihat sangat kurus tak seksi lagi. Kini tangannya beralih memegang perutnya yang rata.


Dia langsung mengganti pakaiannya, dengan daster. Kemudian langsung mencari keberadaan ponselnya di dalam tasnya. Dia berniat menghubungi laki-laki yang menjadi suaminya. Selama 4 hari dia di rumah sakit, tak sekalipun sang suami menengoknya kembali. Bahkan menghubungi dirinya pun tidak. Dimanakah cinta yang dimiliki suaminya dulu untuknya?


Mendengar ponselnya berdering, Reynaldi langsung bergegas untuk melihatnya. Ternyata sang istri yang menghubungi dirinya.


"Angkat enggak ya teleponnya? Kalau enggak di angkat, nanti dia pasti sangat marah. Terlebih, aku tak pernah menghubungi dirinya selama dia di rawat di rumah sakit. Akhirnya, Reynaldi memutuskan untuk menerima panggilan dari istrinya.

__ADS_1


"Iya, halo Ay. Kamu sudah pulang atau masih di rumah sakit? Maaf ya, aku belum bisa menengok kamu. Soalnya mama enggak bisa aku tinggal terlalu lama," ujar Reynaldi.


"Enak banget kamu minta maaf. Pantas ya seorang suami bersikap tak peduli terhadap istrinya yang sedang berjuang keras melawan penyakitnya? Jadi ini balasan apa yang aku korbankan selama ini kepada kamu? Disaat aku sakit, dengan teganya kamu membuang aku seperti sebuah sampah yang sudah terpakai?" cerocos Viona.


"Bukan aku membuang kamu, Ay. Please, kamu jangan salah paham sama aku! Aku ini bingung. Mama tak ingin aku meninggalkan dia. Kemarin, sewaktu aku pergi membawa kamu ke rumah sakit, mama pingsan. Dia ketakutan di tinggal sendiri. Aku tak mungkin meninggalkan mama sendiri lagi. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu sama dia. Kamu 'kan tahu, kalau mama punya riwayat penyakit jantung. Aku takut dia terkena serangan jantung. Lagipula, kalau kamu disini, nanti kamu enggak ada yang urus. Aku tak mau sakit kamu bertambah parah. Lebih baik sekarang kamu fokus sama kesehatan kamu dulu!" Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


"Alah, itu mah hanya akal-akalan kamu saja! Bilang saja kamu bosan sama aku, karena aku tak bisa lagi membahagiakan kamu. Memuaskan kamu di ranjang, dan aku juga tak bisa memberikan kamu anak. Iya, kan? Bilang saja, enggak usah bohongi aku!" sahut Viona ketus.


"Mama kamu itu bukan seorang ibu yang baik. Dia pasti menyuruh anaknya untuk mencari wanita lain yang menjadi pilihannya. Aku kini merasakan, jadi Nisa. Mama kamu dulu sangat membenci Nisa, hingga dia berniat memisahkan kamu sama Nisa, dan sekarang pasti dia akan berusaha untuk memisahkan kamu dari aku," sindir Viona. Viona merasa geram, karena harus merasakan di posisi Nisa dulu.


Reynaldi memilih untuk diam, karena apa yang dibicarakan Viona memang benar. Sang mama telah menyuruhnya untuk menceraikan Viona, dan menikah dengan wanita yang sehat, dan bisa memberikan keturunan untuk Reynaldi. Reynaldi juga harus mencari wanita yang mau mengurus sang mama.


"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam dulu ya! Nanti, kalau aku sudah bisa keluar, aku pasti ke sana menemui kamu. Sabar dulu ya! Lebih baik kamu di sana dulu, biar ada yang mengurus makan kamu! Kamu juga enggak perlu capek-capek membersihkan rumah, karena di rumah mama 'kan ada ART," ucap Reynaldi.


Viona tampak kesal, akhirnya dia langsung mengakhiri panggilan dengan sang suami. Dia langsung melempar ponselnya ke kasur.

__ADS_1


"Breng*sek kamu Rey! Aku benar-benar kecewa sama kamu! Aku benci kamu!" umpat Viona. Viona juga melempar semua bantal, guling, dan selimut yang berada di ranjangnya. Meluapkan perasaan kecewanya karena merasa terbuang seperti sekarang ini.


__ADS_2