
"Istri aku semakin cantik saja," puji Abi saat melihat sang istri yang sudah berdandan rapi dengan pakaian muslimah. Aura kecantikan Nisa semakin terpancar. Tentu saja pujian sang suami membuat Nisa tersenyum.
Abi pun sudah terlihat tampan dan gagah menggunakan kemeja berwarna navy senada dengan celana panjang yang dia kenakan.
"Ayo kita berangkat!" ajak Abi. Nisa langsung mengambil tasnya dan menentengnya. Mereka pergi dengan bergandengan tangan dengan mesra. Sungguh kebanggaan bagi Nisa bisa mendampingi suaminya.
Karier Abi semakin berkembang pesat, setelah menikah dengan Nisa. Kini dia menjadi dokter spesialis penyakit ginjal, di rumah sakit Jakarta. Dulu, saat bersama Viona. Abi hanya menyandang status dokter umum, dan baru mengambil spesialis.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jarak apartemen ke rumah sakit tak jauh, hanya butuh melakukan putaran jalan. Karena letak rumah sakit itu, berada di sebrang apartemen.
Nisa dan Abi baru saja sampai di rumah sakit, Abi menggandeng tangan istrinya dengan mesra memasuki rumah sakit. Mereka menuju tempat acara akan di laksanakan.
"Nanti kamu periksa dan melahirkannya di sini saja. Dekat dengan apartemen," ujar Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.
Abi dan Nisa di sambut hangat oleh pihak manajemen. Pemilik rumah sakit pun hadir di acara penyambutan itu. Ada kebanggan tersendiri bagi Abi, dia begitu di hormati di rumah sakit itu.
Acara di mulai, Abi di minta memberikan sambutan. Saat itu, dia mengungkapkan rasa syukurnya atas bisa di terima di rumah sakit tersebut. Tak lupa ucapan terima kasih kepada sang istri yang selalu memberikan support untuknya, hingga kini dia berada di posisi saat ini. Dia yakin kalau kesuksesan yang dia raih saat ini, karena dukungan dan doa dari sang istri dan juga orang terdekatnya yaitu orang tua dan anaknya.
Jika melihat Abi sukses seperti ini, pasti dia akan merasa sangat menyesal karena dulu meminta ceria dari Abi. Padahal Abi adalah laki-laki yang baik, dan selalu menjadi laki-laki yang setia.
__ADS_1
Di tempat yang sama, tetapi di ruangan yang berbeda. Reynaldi terlihat begitu senang, karena akhirnya dia di terima bekerja di rumah sakit itu. Meskipun hanya sebagai seorang cleaning service. Reynaldi merasa bersyukur, karena akhirnya dia bisa memiliki penghasilan untuk bertahan hidup dengan sang mama. Dia juga bisa memberikan sedikit uang untuk wanita yang masih menyandang statusnya sebagai seorang istri.
Sepulang dari sini, dia berniat menemui Viona. Reynaldi berniat menjenguk sang istri, karena sudah lama dia tak melihat kondisi istrinya. Reynaldi sudah mempekerjakan satu orang ART untuk mengurus sang mama. Reynaldi bersyukur, meskipun posisi dia hanya sebagai seorang cleaning service, gaji yang di tawarkan di sana UMR. Gaji itu bisa untuk membayar gaji ART dan kebutuhan dia sehari-hari. Hidup Reynaldi sekarang sangat prihatin.
"Semoga berkah," ucap Reynaldi. Dia berharap, gaji yang dia terima mendapatkan keberkahan. Bisa tercukupi, meskipun tak besar seperti dulu saat dia menjabat sebagai seorang manager.
Jantung Reynaldi seakan terhenti, saat melihat seorang wanita yang wajahnya terlihat mirip dengan mantan istrinya. Reynaldi terlihat bengong menatap kepergian seorang wanita yang sedang di gandeng dengan seorang pria. Reynaldi masih bertanya-tanya dalam hati, apakah wanita itu mantan istrinya dulu atau bukan. Karena Reynaldi hanya melihat dari samping, saat Nisa. menengok ke arah Abi. Tetapi hanya sebentar. Ingin rasanya dia berlari mengejarnya, tetapi dia takut kalau dia salah. Karena yang dia tahu, saat ini mantan istrinya tinggal di Yogyakarta.
"Mengapa wajah wanita itu sangat mirip dengan Nisa? Tapi ..., rasanya tak mungkin. Nisa 'kan tinggalnya di Yogyakarta. Aku yakin, kalau aku salah. Mungkin karena aku merindukan dan kepikiran dia, makanya sampai terbawa seperti sekarang ini," Reynaldi tampak bermonolog.
Kini Reynaldi sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Viona. Namun, Rey berniat mampir ke toko roti terlebih dahulu, dia ingin membelikan sang istri roti. Rey kini memberhentikan sepeda motornya di depan sebuah toko roti. Dia memarkirkan motornya terlebih dahulu, setelah itu barulah dia masuk ke dalam toko roti untuk membeli 10 buah roti dengan rasa yang berbeda.
"Assalamualaikum," Rey mengucap salam, sambil menekan bel rumah itu. Sang ART pun keluar dari rumah.
"Bi, Viona ada?" Tanya Rey kepada sang istri.
Sang ART langsung membukakan pintu pagar, dan mempersilahkan Reynaldi masuk ke dalam. Mendengar suara suaminya, Viona langsung keluar dari kamarnya.
"Aku kira kamu sudah tak ingat, kalau kamu masih memiliki seorang istri. Tak biasanya kamu ingat padaku," sindir Viona.
__ADS_1
"Iya, aku salah. Maaf ya aku baru bisa menengok kamu. Soalnya, selama ini mama enggak ada yang jaga. Tapi, mulai hari ini sudah ada ART yang bekerja di rumah. InsyaAllah besok aku sudah mulai bekerja. Ya ..., meskipun hanya sebagai seorang cleaning service. Aku sudah sangat bersyukur. Meskipun gaji yang di dapatkan tak sebesar, saat aku bekerja sebagai seorang manager. Yang terpenting berkahnya," ujar Reynaldi.
Dia terlihat begitu antusias, meskipun dia harus menghilangkan perasaan gengsinya. Karena harus bekerja seperti itu. Yang terpenting pekerjaan itu halal, dan bisa membuat mereka bertahan hidup. Rey menunjukkan tanggung jawabnya, meskipun masih dengan keterbatasan.
"Memangnya kamu kerja dimana?" Tanya Viona.
"Di rumah sakit yang tak jauh dari rumah, rumah sakit tempat kamu periksa," jelas Reynaldi.
"Bikin malu saja! Menyesal aku menikah sama kamu. Kalau akhirnya akan seperti ini. Malu aku memiliki suami seorang cleaning service," cerocos Viona.
"Kamu itu, enggak berubah ya? Masih saja bersikap sombong. Apa kamu tak ingat pengorbanan aku kepada kamu? Gara-gara aku membela kamu, aku harus kehilangan kamu. Jika memang kamu malu, ya sudah kita pisah saja. Istri macam apa kamu. Bukannya mendoakan dan bersyukur. Ini malah bicara seperti itu. Harusnya kamu bersyukur, aku bisa memberikan kamu nafkah. Meskipun tak besar," protes Reynaldi.
Reynaldi tampak kesal dengan sikap Viona. Yang tak pernah menyadari apa yang terjadi.
"Mama dan Viona memang sebelas dua belas. Sifatnya sama. Sombong dan dan tak pernah menyadari kesalahannya. Ah Nisa, aku begitu menyesal karena menyia-nyiakan kamu. Andai aku tak selingkuh, pasti saat ini aku masih memiliki segalanya. Aku masih hidup bahagia bersama kamu dan juga Khanza," ucap Reynaldi dalam hati.
Dia tak ingin berdebat dengan sang istri. Reynaldi memilih untuk pamit pulang. Paling tidak dia sudah ada itikad baik untuk menengok istrinya.
__ADS_1