Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Merasa Bersyukur


__ADS_3

"Mas, besok jam 09.00 pagi WIB aku ada undangan wawancara di kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia cabang Yogyakarta. Tadi ada dua orang perwakilan dari sana yang mendatangi aku, dan memberitahu kalau aku terpilih menjadi pengusaha wanita terbaik tahun ini," ungkap Nisa.


Saat ini mereka sedang duduk bersantai sambil menikmati secangkir teh hangat.


"Benarkah? Mas senang sekali dengarnya. Alhamdulillah ya, kerja keras kamu selama ini terbayar. Selamat ya Sayang, kamu memang pantas mendapatkannya," ucap Abi sambil mengelus rambut istrinya lembut.


"Tapi Mas, yang lebih hebat dari aku 'kan banyak Mas. Kok bisa ya aku yang menang? Rasanya aku tak pantas menyandang gelar itu. Aku juga 'kan merintis usahanya baru. Malahan dulu aku cuma punya usaha home industri, baru beberapa bulan terakhir ini merambah ke dunia pabrik. Memang si, produk aku sudah sampai ke luar negeri," sahut Nisa.


"Yang, namanya rezeki itu enggak ada yang tahu. Mungkin semua itu sudah menjadi jalannya kamu. Allah melihat jeri payah kamu selama ini, bagaimana kamu berjuang membuka usaha itu. Berawal dari 0, berawal kamu tak memiliki apa-apa hingga sedikit demi sedikit kamu bisa memilikinya. Bahkan kamu sebenarnya mampu untuk membeli rumah ini 'kan dari hasil jeri payah kamu?" jelas Abi, dan Nisa menganggukkan kepalanya.


Nisa bersyukur karena suaminya selalu memberikan support kepadanya. Membuat dirinya merasa tak sendiri menjalani kehidupannya saat ini. Namun sayangnya, Abi tak bisa menemani dirinya besok untuk melakukan sesi wawancara. Karena ada pasien yang tak bisa di tinggalkan.


"Maaf ya Sayang, semoga kamu bisa mengerti," ucap Abi sambil menciumi tangan istrinya.


"Iya Mas, enggak apa-apa. Aku ngerti kok. Banyak pasien yang bergantung nyawa sama Mas. Mas sudah support aku saja, aku sudah senang," sahut Nisa.


Obrolan mereka harus terhenti, karena Abi mengajak Nisa untuk tidur. Besok, jam 06.00 pagi Abi harus berangkat ke rumah sakit. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam dengan menggunakan motor. Sebenarnya Abi sudah mengajukan untuk pindah ke Yogya kota, tetapi belum ada ACC dari pimpinan rumah sakit dan pemerintah daerah. Saat ini Abi bekerja di rumah sakit pemerintah daerah.


"Aku lihat Khanza dulu ya Mas, nanti aku nyusul ke kamar," ujar Nisa dan Abi mengiyakan.


Nisa memasuki kamar sang anak, untuk mencium sang anak. Inilah hal yang selalu dia lakukan di kala sang anak tidur, dia begitu menyayangi sang anak. Untungnya Abi mau menerima sang anak dengan baik.

__ADS_1


"Selamat tidur anak Bunda yang cantik, semoga kebahagiaan selalu menyertai kamu. Bunda sayang kakak," ucap Nisa sambil memberikan kecupan di pucuk kepala sang anak. Kakak untuk panggilan Khanza sekarang, karena sebentar lagi Khanza akan menjadi seorang kakak dari kedua adiknya.


Setelah menyelimuti tubuh anaknya, Nisa pergi meninggalkan kamar sang anak, untuk masuk ke kamarnya bersama sang suami. Nisa membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya. Abi sudah menghidupkan MP3 murottal, berharap sang anak kelak menjadi anak yang sholeh dan sholeha.


"Assalamualaikum. Anak Papa lagi apa di perut Bunda?" Abi menyapa sang anak yang masih dalam kandungan sang istri. Nisa dan Abi sepakat, kalau anak-anak mereka memanggil Abi dengan panggilan papa. Agar tak ada pembeda dengan Khanza. Meskipun Reynaldi tak pernah peduli dengan Khanza. Bagi Nisa, ayah Khanza hanya satu yaitu Reynaldi, ayah kandung Khanza.


"Kalau hamil muda enggak boleh ehem-ehem dulu, Mas harus puasa dulu sampai kondisi kandungan kamu sudah kuat," ucap Abi.


Nisa tersenyum kala mendengar ucapan suaminya itu. Suaminya benar-benar sangat berbeda dengan mantan suaminya. Abi tipe suami yang tak egois, pengertian, sabar, dan enggak banyak nuntut. Saat di ranjang pun, Abi sangat berbeda dengan Reynaldi yang memiliki sensasi se*ks yang liar.


Suara adzan telah berkumandang. Nisa baru saja membuka matanya.


Nisa mencoba membangunkan suaminya. Setiap Abi di rumah, Nisa dan Abi selalu sholat berjamaah. Perlahan Abi membuka matanya, rasanya dia baru saja tertidur, tetapi sekarang dia harus membuka matanya kembali. Rasa lelah masih menyerangnya. Namun dia ingat akan tanggung jawabnya.


Abi dan Nisa sudah selesai sholat berjamaah. Abi terlihat sudah bersiap-siap, setelah sarapan Abi baru berangkat bekerja. Pagi ini Nisa tak sempat memasak, Abi pun sebenarnya tak pernah memaksa sang istri untuk masak makanan untuknya. Terlebih sekarang sang istri sedang hamil muda.


"Mas berangkat dulu ya Sayang, semoga lancar wawancaranya. Mas hanya bisa bantu berdoa, semoga kesuksesan selalu menyertai kamu. Amin," ucap Abi.


"Makasih ya Mas untuk segalanya. Mas hati-hati ya di jalan! Ingat jangan ngebut ya bawa motornya," ucap Nisa kepada sang suami.


"Papa berangkat dulu ya, Sayang. Belajarnya yang semangat ya, biar jadi anak yang pintar," ujar Abi kepada Khanza.

__ADS_1


Nisa mengantarkan sang suami sampai sang suami naik ke motornya. Seperti biasa, dia selalu mencium tangan suami kala sang suami akan berangkat dan pulang bekerja. Abi pun melakukan hal yang sama kepada sang istri.


Abi berencana membelikan sang istri rumah, dan rumah yang mereka tempati akan dia beli khusus untuk tempat usaha istrinya. Akan dia rombak total. Karena dia merasa kerepotan memarkirkan mobilnya, terlebih mereka sudah memiliki dua buah mobil. Mobil milik Abi, dan juga milik Nisa. Dari usahanya, Nisa bisa membeli sebuah mobil.


"Ka, sudah siap belum? Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Nisa. Setiap pagi, Nisa selalu mengantarkan sang anak ke sekolah. Namun, saat pulang sekolah, Khanza lebih sering di jemput oleh sang ART.


Jarak sekolah Khanza dari rumah mereka tak jauh, inilah salah satu alasan Nisa enggan pindah rumah. Dia kasihan sama Khanza yang harus pindah-pindah sekolah. Kalaupun dia ingin membeli rumah, Nisa pasti beli di sekitar sekolah dan tempat usahanya. Agar dia lebih mudah memantau usahanya dan juga sekolah anaknya.


"Bun, adik kembar kapan lahirnya?" tanya Khanza kepada sang Bunda.


"Masih lama Kak, masih butuh waktu 7 bulan lagi. Do'ain ya Kak, semoga adik kembar sehat dan selamat sampai lahir nanti," sahut Nisa.


Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah sampai di sekolah Khanza.


"Semangat ya belajarnya sayang," ucap Nisa, saat sang anak mencium tangannya.


"Nanti Bunda ada urusan, kamu di jemput Bi Susi ya pulang sekolahnya," ujar Nisa dan Khanza mengiyakan.


Nisa bersyukur dengan apa yang dia miliki sekarang ini. Rasa sakit dan penderitaan yang dia rasakan, sudah di bayar lunas oleh Allah.


__ADS_1


__ADS_2