
"Bunda, Bunda kenapa? Hiks ... hiks ... hiks," ucap Nisa sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang bunda. Namun sayangnya tak membuat sang Bunda membuka matanya.
Nisa terlihat panik, dia berteriak meminta tolong kepada tetangganya. Karena dia tak mungkin membawa Bundanya sendiri ke rumah sakit. Para tetangga yang mendengar, langsung berlari menghampiri Nisa yang saat itu sudah menangis histeris. Dia khawatir nyawa sang Bunda tak bisa tertolong.
Selama Nisa tinggal bersama sang Bunda, dia sudah merasa curiga melihat sang Bunda yang kerap tak napsu makan dan sering kali mengalami mual dan muntah. Konsentrasi sang Bunda pun menurun, banyak perubahan yang terjadi pada diri sang Bunda. Berkali-kali juga Nisa mengajak sang Bunda untuk memeriksakan kesehatannya. Namun, sang Bunda selalu mengatakan kalau dirinya hanya masuk angin atau kelelahan.
"Kenapa Nis?" tanya Bu Agus, tetangga sebelah rumahnya.
"Bunda pingsan," sahut Nisa diiringi isak tangis.
Nisa bersyukur, karena tetangganya baik kepada ibu dan dirinya. Karena Bunda Anita adalah orang yang baik. Meskipun dia hidup kekurangan, dia kerap berbagi ke tetangga. Setiap jumat, dia selalu masak sayur atau kue dalam porsi banyak dan membaginya ke tetangga terdekat.
"Bunda, aku mohon bertahanlah! Bunda tak mau kehilangan Bunda," ucap Nisa.
Nisa, Khanza, dan Bunda Anita kini sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jarang rumah ke rumah sakit cukup jauh, harus memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sejak tadi Nisa terus menerus memeriksa denyut nadi sang Bunda, dia tampak gelisah karena belum sampai juga ke rumah sakit.
"Tenang Bun! Aku yakin Nenek akan kuat," ujar Khanza.
Benar saja, perlahan Bunda Anita membuka matanya. Wajahnya terlihat pucat.
"Nisa ... dimana kita Nak?" tanya Bunda Anita dengan suara yang terdengar lemas.
"Kita mau ke rumah sakit, Bun. Bertahan ya Bun! Aku mohon," ucap Nisa.
__ADS_1
Bunda Anita tampak meraih tangan sang anak, membuat Nisa semakin menangis sesenggukan. Air matanya terus mengalir.
"Hanya Bunda dan Khanza, yang Nisa miliki saat ini. Nisa mohon, jangan tinggalkan Nisa," ungkap Nisa dan Bunda Anita tampak menganggukkan kepalanya lemah.
Sudah dua tahun lamanya, Bunda Anita mengidap penyakit gagal ginjal. Seharusnya, dua minggu sekali dia harus cuci darah. Namun, dia melupakannya. Hingga membuat kondisinya saat ini drop. Dia sudah merasa lelah, karena kondisinya tak juga membaik. Membuat dia memutuskan untuk tak mempedulikannya lagi.
Bunda Anita justru semakin semangat mencari uang, terlebih saat ini ada sang anak dan juga cucunya berada di dekatnya. Bunda Anita memilih menutupi penyakitnya dari sang anak. Dia tak ingin menambah kesedihan sang anak. Karena sang anak sudah cukup menderita dengan permasalahan hidupnya.
"Kamu harus kuat ya Nak, jika Bunda tak ada lagi disamping kamu! Ingat, ada Khanza yang membutuhkan kamu," ucap Bunda Anita.
"Enggak! Bunda harus sehat! Nisa akan melakukan apapun demi Bunda. Nisa sayang Bunda. Nisa mohon, jangan tinggalkan Nisa," ucap Nisa sambil memeluk tubuh sang bunda. Pelukan itu semakin lama semakin erat.
Akhirnya mobil yang membawa mereka sudah sampai di rumah sakit paling terdekat, rumah sakit tempat biasa Bunda Anita periksa. Nisa akan langsung membawa sang Bunda ke IGD.
Namun, Pak Amir menolak uang yang diberikan Nisa kepadanya. Dia ikhlas menolong Nisa dan ibunya. Nisa memasukkan uang lima puluh ribu ke dalam saku kemeja Pak Amir. Nominal yang tak besar, hanya sebagai bentuk ucapan terima kasih.
"Tolong jangan ditolak Pak, hanya sebagai pengganti bensin untuk Pak Amir saja," ungkap Nisa.
Nisa memapah sang Bunda ke IGD. Dia ingin sang Bunda menginap dulu di rumah sakit, sampai keadaannya pulih. Nisa ingin, sang Bunda melakukan pemeriksaan secara keseluruhan. Agar dia tahu penyakit yang di derita sang Bunda. Awalnya Bunda Anita menolak, karena dia khawatir rahasianya selama ini terbongkar. Kalau dia mengidap gagal ginjal stadium 4. Dokter Abimanyu menyarankan untuk melakukan Hemodialisa atau biasa dikenal cuci darah setiap 1 minggu sekali. Karena kondisi ginjal Bunda Anita sudah tak berfungsi dengan baik.
Dokter IGD mulai melakukan tes darah, untuk mengetahui penyakit yang di derita Bunda Anita. Bunda Anita tampak menatap wajah sang anak, dan bertanya dalam hati.
"Apa sebaiknya aku ceritakan saja ya sama Nisa, penyakit yang aku derita saat ini? Aku hanya perlu cuci darah, untuk memperpanjang umur aku," ucap Bunda Anita dalam hati.
__ADS_1
Rasanya dia tak sanggup mengatakan hal ini kepada sang anak.
"Nis ...," panggil Bunda Anita. Namun, tiba-tiba lidah dia merasa kelu untuk melanjutkan ucapannya. Membuat Nisa menatap sang Bunda bingung dan berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan sang Bunda.
"Ya Bun, ada apa? Katakanlah Bun! Tak perlu Bunda tutupi dari aku. Meskipun hal itu sangat pahit untuk aku," ucap Nisa yang kini menatap lekat wajah sang Bunda.
Bunda Anita tampak terdiam. Mendengar pasiennya masuk IGD, dokter Abimanyu langsung menemui Bunda Anita saat selesai bertugas di poli. Membuat Bunda Anita terlihat gugup, dia takut Dokter Abimanyu akan menjelaskan penyakitnya kepada sang anak.
"Ibu Anita, apa kabar? Ibu kok ...," Bunda Anita mencoba menghentikan ucapan Dokter Abimanyu dulu. Mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Maaf Dok, sebentar. Saya ingin meminta anak saya membelikan teh manis hangat untuk saya," ucap Bunda Anita.
"Bun, bisa tidak? Aku belinya nanti. Setelah aku bicara sebentar sama dokter?" tanya Nisa lembut.
"Sudah sana! Bunda yakin, kalau Bunda hanya sakit biasa kok. Bunda minta sekarang, badan Bunda lemas banget," ujar Bunda Anita membuat Nisa merasa bingung.
"Khanza jaga nenek ya disini! Bunda beli teh manis dulu untuk nenek," ujar Nisa dan Khanza mengiyakan.
Nisa akhirnya pergi meninggalkan sang Bunda, untuk membelikan teh manis hangat.
"Ibu, ini penyakit Ibu bukan penyakit sembarangan. Ibu tak boleh telat cuci darah. Jadinya seperti ini 'kan? Ibu bisa anfal. Tolong ibu perhatikan! Terus, kenapa ibu tutupi penyakit ini? Seharusnya, anak ibu tahu tentang penyakit ibu," jelas Dokter Abimanyu.
"Maaf Dok, saya tak ingin menambah beban anak saya. Dia sedang ada masalah besar dalam hidupnya. Saya tak tega. Saya sudah pasrah Dok," ungkap Bunda Anita.
__ADS_1
Nisa tampak meneteskan air matanya, dia tercengang mendengar penuturan sang Bunda dengan dokter Abimanyu. Tadinya Nisa hendak mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja. Namun, dia menjadi mengurungkan niatnya. Dia memilih untuk tidak masuk ke dalam, dia ingin bicara dengan dokter Abimanyu tanpa sepengetahuan sangat Bunda.