Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Merasa Dikhianati


__ADS_3

Viona merasa cemburu melihat kedekatan Reza, dengan Meli. Meli mendapatkan tawaran pekerjaan di Jakarta, tetapi di Jakarta dia tidak memiliki sanak saudara. Tante Hesti ibu dari Meli teringat kalau Reza saat ini bekerja di Jakarta, hingga akhirnya dia berniat untuk menitipkan Meli kepada Reza. Tante Hesti meminta nomor telepon Reza kepada ibunya.


Tentu saja dengan senang hati sang mama memberikan nomor telepon Reza. Dirinya berharap sang anak bisa dekat dengan Meli dan akhirnya Reza meninggalkan Viona.


Saat ini Reza sedang bersama Viona. Karena hari ini adalah hari Sabtu, hari kebersamaan mereka. Mereka kini sedang makan malam bersama di sebuah kafe di Jakarta. Ponsel Reza berdering memampangkan nomor yang tidak dikenal.


"Nomor siapa ya?" ucap Reynaldi dengan penuh tanda tanya.


Awalnya Reza memilih mengabaikannya, karena dia malas menerima telepon dari nomor yang tak dikenal. Namun, Viona menyuruh dirinya untuk menerima panggilan itu karena takut ada yang penting. Hingga akhirnya Reynaldi mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Nak Reza. Ini Tante Hesti, teman mama kamu yang waktu itu kita sempat bertemu di rumah kamu," ucap Tante Hesti.


"Waalaikumsalam. Oh iya Tan, ada apa ya?" tanya Reza sopan.


Mendengar Reza menyebutkan tante, tentu saja membuat Viona menjadi penuh tanda tanya. Viona mencoba menyimak ucapan suaminya dengan wanita yang mengaku tante.


"Begini Nak Reza, Meli 'kan ada panggilan kerja di daerah Sudirman Jakarta. Tetapi Tante tak punya sanak keluarga di sana. Tante bisa tidak minta bantuan kamu untuk membantu Meli selama di sana? Soalnya Tante khawatir, dia belum pernah pergi jauh dari Tante," jelas Tante Hesti.


"Memangnya Meli mau ke Jakarta kapan, Tan? Iya aku bisa bantu kok, Tante tenang saja! Nanti dia langsung ke kosan saya saja, di sini ada kosan harian juga buat tamu yang hanya untuk singgah atau mungkin Meli ingin kos di tempat saya," ucap Reza.

__ADS_1


Mendengar nama Meli disebut, tentu saja Viona langsung menatap Reza dengan tatapan tajam. Merasa tidak terima dengan keputusan Reza yang tidak memikirkan perasaan dirinya. Viona merasa dikhianati dan tidak dihargai oleh Reza.


Viona seperti orang yang kebakaran jenggot. Terbakar api cemburu. Baru seperti itu saja sudah merasa dikhianati, lantas bagaimana perasaan Nisa dulu dengan hubungan dirinya dengan Reynaldi.


Setelah Reza mengakhiri panggilan dengan Tante Hesti, Viona langsung memberondong dengan berbagai macam pertanyaan.


"Mau ngapain sih dia menitipkan Meli sama kamu? Kamu itu 'kan punya istri. Tolong dong jaga perasaan aku! Kalau memang dia tak berani bekerja di Jakarta, ya tak usah melamar ke Jakarta. Pokoknya aku tidak suka dia kos di tempat kosan kita," protes Viona.


"Kasihan Meli. Dia tak punya saudara di Jakarta. Wajar 'lah aku bantu dia. Lagian paling awal-awalnya saja, nanti selanjutnya dia juga akan pintar sendiri. Aku 'kan hanya menolong saja, memangnya aku ngapain sama dia? Sudah jangan berpikir yang macam-macam," jelas Reza.


"Ya sudah, bicara sama kamu mah susah! Selalu ingin menang. Meli itu 'kan belum menikah, lagi pula mama kamu memang sudah berniat ingin menjodohkan kamu sama dia," sahut Viona ketus, dia merasa kecewa dengan sikap suaminya.


"Sudah berkali-kali aku bicara sama kamu. Hormati mamaku! Lagi pula balik lagi ke individunya. Sudah tak usah curiga begitu. Aku paling tak suka dicemburui," ujar Reza ketus.


Tetapi di sisi lain, Reza contoh suami yang asyik dan tidak pernah mengekang keinginan istrinya. Dia selalu memberikan kebebasan kepada istrinya. Secara materi pun dia selalu mencukupi kebutuhan istrinya. Dirinya sudah cukup mapan. Hanya saja saat ini dia belum ada kepikiran untuk membeli sebuah rumah.


Dia memilih untuk menempati kosan yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Dia masih nyaman hidup seperti sekarang, mengingat dirinya belum memiliki anak. Dia tak pernah menuntut Viona untuk tinggal bersamanya, dia membebaskan Viona. Viona lebih banyak tinggal di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum. Kak, besok pagi aku berangkat dari Bandung pukul 10.00 WIB, naik bus jurusan Bandung-Jakarta," tulis Meli di pesan chat.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Iya, Mel. Aku tunggu di terminal kampung rambutan, nanti Kakak jemput di sana ya," balas Reza. Dia sengaja tidak memberitahu hal ini kepada Viona. Karena dirinya malas jika harus bertengkar terus dengan istrinya.


Sesuai janjinya kepada Reza, tepat pukul 10.00 WIB, dirinya berangkat ke Jakarta. Meli diantar ayahnya sampai terminal Leuwi Panjang. Sesuai rencana, Meli akan berangkat ke Jakarta sendiri. Tekadnya sudah bulat untuk menggapai kariernya di Jakarta.


Rencananya dia akan bekerja sebagai asisten HRD di sebuah perusahaan di daerah Sudirman. Gaji yang ditawarkan yaitu sebesar 7 juta rupiah. Bagi Meli seorang fresh graduate, tentu saja gaji segitu cukup besar dibandingkan dirinya harus bekerja di daerah Bandung yang rata-rata hanya mendapat gaji 4 juta rupiah setiap bulannya.


"Kak, aku sudah sampai Jatibening. Nanti Kakak jadi 'kan jemput aku di Kampung Rambutan? Aku soalnya takut Kak, belum pernah ke Jakarta sendiri," tulis Meli dengan emoticon menangis.


Saat pesan masuk, Reza sedang pergi keluar untuk membeli makanan untuk Viona dan dirinya. Reza pergi tak membawa ponsel. Melihat ada pesan yang masuk di ponsel suaminya, Viona langsung mengintip notifikasi yang masuk. Tetapi dia tidak berani membukanya. Karena Reza paling tidak suka privasinya terganggu.


"Oh, ternyata kalian sudah bertukar nomor telepon di belakang aku? Kamu mencoba bohongin aku ya?"


Viona merasa dikhianati oleh Reza, karena suaminya tidak berbuat jujur kalau mereka sudah saling chat. Semua yang dia lakukan dengan Reynaldi di belakang Nisa, sekarang dia yang rasakan.


Reza baru saja sampai di kosan, dan mendengar ponselnya berdering. Tentu saja dirinya segera meraih ponselnya, dan menerima panggilan dari Meli.


"Oh gitu, ya sudah kamu tunggu dulu ya di sana! Kamu cari tempat yang aman, dan jangan menanggapi orang jika ada yang mengajak bicara. Kakak berangkat sekarang ya dari kosan! Kamu tunggu ya," ucap Reza membuat Viona melongo karena suaminya begitu perhatian. Bahkan dengan dirinya yang istrinya, Reza tak sampai seperti itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Viona ketus.

__ADS_1


"Aku mau jemput Meli dulu, tak mau berdebat! Kasihan dia sudah lama menunggu aku di terminal. Takut ada yang ganggu. Ya sudah aku berangkat dulu ya," sahut Reza dengan santainya.


Membuat Viona melongo. Suaminya tak menganggap dirinya, dan lebih membela Meli dibandingkan perasaan hatinya.


__ADS_2