Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Karma Untuk Mama Ratih


__ADS_3

Reynaldi baru saja sampai di rumah. Dia merasa sangat lelah. Semenjak bercerai dari Nisa, kehidupannya benar-benar hancur. Reynaldi memilih untuk langsung mandi dan sholat isya.. Setelah itu, dirinya langsung ke dapur untuk membuat kopi. Reynaldi memilih untuk duduk di teras, menikmati heningnya malam dengan ditemani secangkir kopi, dan juga rokok.


Reynaldi tampak termenung di heningnya malam. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.30 WIB. Memikirkan hidupnya yang semakin terpuruk. Lusa dia harus pindah dari kontrakan ini. Rumah yang dia tempati bersama sang mama selama satu tahun. Satu tahun yang lalu, sang mama terpaksa harus menjual rumahnya. Untuk menyelamatkan dirinya, membebaskan dirinya dari jerat hukum.


Tak ada lagi yang patut mereka sombongkan lagi. Mereka sudah tak memiliki apapun. Hanya nyawa dan jiwa yang kuat. Selama nyawa itu masih bernapas, Reynaldi masih akan terus berjuang demi sang mama.


Malam semakin larut, Reynaldi memutuskan untuk masuk. Reynaldi berjalan menghampiri sang mama yang berada di kamarnya. Tatapannya kini ke arah sang mama yang sedang tertidur nyenyak.


Tanpa sadar air mata Reynaldi menetes satu persatu. Dadanya terasa sesak.


"Maafkan Rey, ma! Rey sudah membuat hidup mama susah. Rey belum bisa membahagiakan mama, di usia tua mama. Selama kaki ini mampu berpijak, dan selama napas ini masih ada. Rey akan berusaha keras. Agar Rey, bisa segera mendapatkan pekerjaan yang lebih layak lagi untuk kita. Rey, sudah putuskan untuk pindah tempat kerja. Agar Rey bisa melupakan Nisa, dan menatap hidup baru. Jika Rey masih terus bekerja di sana, Rey masih akan terus bertemu. Melihat kemesraan Nisa dengan suami barunya yang lebih segalanya dari aku.


Malam ini dia memutuskan untuk tidur bersama sang mama. Reynaldi membaringkan tubuhnya di sebelah sang mama. Dia tampak memeluk sang mama. Reynaldi sangat menyayangi sang mama. Tak butuh waktu lama, Reynaldi akhirnya terpejam. Kini dia sudah tertidur nyenyak. Mama Ratih terbangun, saat merasa ada yang memeluk dirinya.


Air matanya menetes, kala melihat anak kebanggaannya yang sedang tidur begitu nyenyak. Mama Ratih menangis, dia begitu menyesal. Dia sudah menyadarinya sekarang. Betapa jahatnya dia dulu, hingga membuat kehidupan sang anak hancur.


Andai dulu, dia tak membenci Nisa, dan tak menghancurkan rumah tangga sang anak dengan Nisa. Pasti, nasib mereka tak akan sehancur ini. Reynaldi masih hidup bahagia dengan Nisa dan juga Khanza. Reynaldi juga masih menjabat sebagai seorang manager.


"Maafkan mama Rey, semua gara-gara mama. Hingga kamu harus merasakan berada di titik paling terendah," ucap Mama Ratih di dalam hati.


Jam alarm di ponsel Reynaldi sudah berbunyi. Reynaldi harus membuka matanya. Saat itu jam menunjukkan pukul 05.00 pagi WIB. Reynaldi bergegas untuk turun dari ranjang.


"Rey, kamu mau ke mana?" Tanya sang mama.

__ADS_1


"Rey mau sholat, ma. Mama mau sholat juga? Sholat di tempat tidur saja. Hari ini Rey mulai akan packing barang-barang yang akan di bawa," ujar Rey kepada sang mama.


Rey juga sudah melelang barang-barang milik orang tuanya seperti sofa, ranjang yang Reynaldi tempati, AC, meja makan, mixer, dan juga microwave. Rey hanya bawa mesin cuci, lemari pakaian, ranjang sang mama, AC di kamar sang mama, kulkas, TV dan meja TV, dan peralatan dapur termasuk kompor, blender, tempat beras, dan juga dispenser.


Rey sudah izin dua hari tidak bekerja, hari ini dia akan mulai packing, dan besok mereka akan pindah ke kontrakan yang Reynaldi sudah booking. Reynaldi akan menyewa satu mobil pick up untuk membawa barang-barang. Untuk membawa sang mama dan baju-baju, Reynaldi akan menyewa taksi online untuk membawanya.


Reynaldi terpaksa menyewa kontrakan petakan yang cukup jauh dari tempat kerjanya. Karena dia mencari tempat yang terjangkau dengan keuangannya. Kontrakan yang berada di gang sempit.


Reynaldi begitu telaten membantu sang mama untuk sholat. Dia senang, sang mama mulai terbuka hatinya untuk sholat. Mama Ratih baru saja selesai sholat. Dia sudah terlihat lebih segar. Rey langsung mencium tangan sang mama.


"Rey, sayang mama. Semoga mama selalu diberikan kesehatan, untuk terus mendampingi Rey sampai Rey bisa sukses kembali," ucap Rey.


"Iya, Rey. Mama akan selalu mendoakan kamu. Semoga Allah memberikan kamu kesehatan dan juga rezeki yang melimpah," ujar Mama Ratih.


Reynaldi pamit kepada sang mama. Dia dan sang ART ingin mulai packing barang-barang yang dibawa pindah besok. Hari ini Rey juga menunggu pembeli yang akan membeli barang-barang dia.


Reynaldi merasa sedih, karena harus pindah dari rumah yang dia tempati sekarang Padahal, dia sudah merasa betah tinggal di situ. Tapi sayangnya, dia tak mampu untuk membayarnya.


"Bibi jangan berhenti ya! Saya minta tolong sama bibi, untuk terus menjaga mama saya, sampai mama saya pergi untuk selamanya. Karena saya harus bekerja, dan harus ada yang mengurus mama saya Bi," ujar Reynaldi, untungnya sang ART baik kepada Rey. Dia tetap ikut pindah ke kontrakan, padahal selama ini Mama Ratih selalu bersikap sombong kepada sang ART. Dia belum juga berubah, dan bahkan semakin jadi pemarah.


Barang-barang yang Rey jual, sudah di ambil. Dari hasil penjualan Reynaldi mendapatkan uang 6 juta rupiah. Padahal, barang-barang itu adalah barang-barang mahal. Tetapi, Reynaldi memilih mengikhlaskannya. Karena dia tak mungkin membawa barang-barang itu ke kontrakan barunya, dan uang itu justru lebih bermanfaat untuknya. Untuk kelangsungan hidupnya selanjutnya.


"Kamu harus semangat Rey, jangan patah semangat! Kamu pasti bisa Manfaatkan uang itu sebaik mungkin.

__ADS_1


" Rey ... Rey ... Rey," panggil Mama Ratih kepada sang anak.


Mendengar sang mama memanggil dirinya Reynaldi langsung menghentikan yang sedang dia lakukan, dan bergegas menghampiri sang mama.


"Ada apa ma?" Tanya Reynaldi kepada sang mama.


"Rey, tolong lihat punggung mama! Tolong kamu balikkan mama! Kok mama perih banget ya punggungnya, coba lihat ada luka apa enggak si!" Ujar Mama Ratih.


Selama ini sang ART tak kuat membalikkan tubuhnya.


"Astaghfirullah, Mama," Reynaldi tak mampu lagi melanjutkan ucapannya saat di mengangkat baju sang mama hingga ke atas. Air mata Rey langsung menetes satu pesan. Dia langsung menunjukkan wajah sedih.


"Kenapa Rey? Ada apa Rey? Katakan sama Mama!" Mama Ratih tampak penasaran. Menatap serius ke arah sang anak. Dia terlihat panik.


Rey masih terlihat shock. Dia masih terlihat diam, lidahnya terasa kelu tak mampu berkata-kata. Mungkin selama ini mama Ratih hanya terbaring di ranjang, tak pernah membalikkan badannya. Hingga akhirnya dia mengalami luka begitu besar di punggung. Bahkan sampai bolong.


"Punggung mama, punggungnya bolong," ungkap Reynaldi. Keduanya tampak langsung saling berpelukan. Nangis bersama. Reynaldi tampak sedih, karena dia menjadi anak yang tak berguna bagi sang mama. Dia hanya bisa menghabiskan uang, tetapi dia tak bisa membawa sang mama ke rumah sakit.


"Maafin Rey ma, Rey memang anak yang tak berguna. Rey hanya bisa menyusahkan mama, dan Rey tak mampu mengobati penyakit mama," ungkap Reynaldi. Reynaldi yakin, kalau sang mama pasti sangat sedih, harus berada di posisi itu.


"Sabar ya, Ma! Rey yakin, semuanya akan berubah. Reynaldi akan berjuang keras, untuk hidup kita yang lebih baik lagi," ucap Reynaldi.


Reynaldi langsung menyuruh sang ART untuk membeli obat di apotek, untuk menyembuhkan luka sang mama. Reynaldi begitu peduli dengan sang mama.

__ADS_1



__ADS_2