
"Saya mohon, Dok! Jaga beritahukan penyakit ini kepada suamiku! Saya tak ingin dia merasa sedih. Saya akan berusaha keras, agar saya bisa sembuh dari penyakit ini. Kami baru saja menikah, sedang menikmati indahnya berumah tangga. Saya tak ingin merusak momen kebahagiaan ini dengan berita penyakit yang saya derita ini," ucap Melani di iringi isak tangis.
Hatinya begitu hancur, saat mendengar pernyataan dokter yang mengatakan kalau dirinya saat ini mengidap penyakit kanker stadium dua. Dia masih berharap untuk sembuh, Melani berencana melakukan pengobatan di Singapura. Tanpa sepengetahuan Reynaldi.
Saat itu Reynaldi sedang mengurus kepulangan sang mama ke rumah. Dokter sudah memperbolehkan pulang. Reynaldi akan memboyong mamanya, untuk tinggal di rumah Melani kembali.
"Ya Allah, mengapa engkau memberikan aku cobaan yang begitu berat kepadaku. Padahal, aku sedang merasa sangat bahagia. Merasakan indahnya berumah tangga, aku pun ingin hidup normal. Menjadi seorang istri yang baik, dan memiliki seorang anak," ucap Melani dalam hati.
"Rey tak boleh tahu ini. Aku tak ingin dia meninggalkan aku lagi. Jika nantinya takdir memisahkan aku dengannya, kami terpisah bukan karena perceraian. Tetapi, karena aku telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Paling tidak, selama aku hidup. Aku bisa merasakan hidup bahagia dengannya," ucap Melani lagi. Dia akan menutup rapat penyakitnya ini dari sang suami.
Melani tampak menghapus air mata yang sudah membasahi wajahnya, dia tak ingin menunjukkan kesedihannya di depan suaminya. Dia ingin menikmati hari-harinya bersama Reynaldi. Dia ingin segera menikah kembali dengan Reynaldi, dan melakukan honeymoon.
"Sayang, kamu gak tidur?" tanya Reynaldi yang baru saja datang.
"Kamu habis menangis? Mengapa mata kamu merah?" tanya Reynaldi lagi saat dirinya menatap ke arah sang istri.
"Ah, tidak! Aku tak habis menangis. Masa sih, mata aku merah? Aku baru saja bangun tidur. Memangnya sih tadi sewaktu aku bangun, aku merasa sedikit perih mataku. Duh, kenapa ya?" sahut Melani. Dia berpura-pura panik. Menutupi kebohongannya.
__ADS_1
Ingin rasanya Melani menangis, dan memeluk tubuh suaminya. Meluapkan perasaannya saat itu. Melani menatap Reynaldi dengan tatapan sendu, saat Reynaldi duduk di tepi ranjang memperhatikan matanya. Reynaldi begitu perhatian kepadanya.
"Ya Allah, mengapa engkau ingin mengambil nyawaku. Disaat aku sedang berbahagia hidup di sampingnya," ucap Melani dalam hati. Dia tampak menelan salivanya, berusaha menahan untuk tidak menangis di depan suaminya. Dadanya terasa sesak saat itu.
"Oh, iya. Urusan mama gimana? Apa sudah selesai? Mama dibawa langsung ke rumah 'kan?" Melani mencoba mengalihkan dengan mengajak bicara suaminya. Membahas hal lain. Dia juga mengatakan, kalau dirinya sudah tak merasa sakit. Melani tak sanggup berada di dekat suaminya berlama-lama.
"Iya, alhamdulillah sudah. Mama juga sudah di rumah kamu. Semoga saja, kamu juga bisa segera pulang. Kita bisa berkumpul. Cepat sehat ya, Sayang," ucap Reynaldi sambil mengusap kepala Melani dengan lembut, dia juga melabuhkan kecupan di kening Melani. Hingga membuat air mata Melani akhirnya jatuh menetes.
"Kok kamu menangis? Kenapa? Ucapan aku membuat kamu tersinggung ya?" tanya Reynaldi kepada sang istri dengan penuh kelembutan.
"Aku terharu. Makannya, aku sedih. Kamu begitu perhatian banget sama aku, padahal kemarin-kemarin aku pernah menyakiti hati kamu," sahut Melani. Padahal bukan itu yang sebenarnya, dia merasa sedih karena terpikir kalau dirinya harus terpisah selama-lamanya dengan sang suami.
"Ya ampun, Sayang. Aku kira kamu kenapa. Aku 'kan sudah sering mengatakan kepadamu. Apa yang aku lakukan ini, adalah wajar. Kamu itu istri aku, sudah sepantasnya aku memperlakukan kamu seperti itu. Sudah ya, jangan sedih lagi! Aku ingin kamu cepat sehat, jangan pikirkan yang aneh-aneh lagi ya! Oh iya, tadi dokter datang? Gimana hasilnya menurut dokter? Kamu sakit apa?" Reynaldi bertanya, membuat jantung Melani seakan terhenti seketika.
Tentu saja Melani tak akan mengatakan yang sesungguhnya. Dia memilih berbohong, dengan mengatakan kalau dia baik-baik saja. Dokter mengatakan, kalau dia tak boleh terlalu lelah, dan banyak berpikir. Agar penyakitnya tak kambuh.
"Tuh 'kan benar! Kamu itu terlalu lelah, otak kamu terus menerus dipaksa bekerja. Kamu juga kurang istirahat. Makanya aku bilang sama kamu, kurangi aktivitas bekerja kamu! Kamu harus pikirkan kesehatan kamu! Tubuh dan otak kamu sudah terlalu lelah, makanya sekarang kamu sakit seperti ini. Kalau kamu sayang sama aku dan ingin umur panjang, sayangi diri kamu! Kamu itu manusia, bukan robot," ucap Reynaldi yang mencoba mengingatkan sang istri. Melani tampak menganggukkan kepalanya. Meskipun hal itu sudah terjadi saat ini. Dia sudah mengidap kanker otak.
__ADS_1
Pantas saja akhir-akhir ini dia kerap merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya. Tubuhnya juga kerap merasa lemas, perutnya terasa mual, dan bahkan dia juga sering mengalami muntah-muntah. Seperti orang yang sedang mengidam.
"Kamu mau makan apa? Biar aku belikan," ujar Reynaldi kepada sang istri.
"Enaknya apa ya? Mual perut aku," sahut Melani.
"Iya, tapi harus dipaksakan! Agar kamu segera sehat. Memangnya, kamu mau terus menerus di rumah sakit? Ayo dong semangat, katanya mau menikah lagi sama aku? Mau berbulan madu, dan buat anak. Kalau kamu seperti ini terus, kapan bisa terlaksana," rayu Reynaldi.
Akhirnya Melani mengiyakan. Dia meminta Reynaldi membelikan bakso. Sudah cukup lama dia tak makan bakso. Semoga saja dia bisa menghabiskannya. Nikmat sehatnya sudah diambil Allah. Selama ini dia tak pernah memikirkan kesehatannya, yang dia pikirkan hanya mencari uang dan have fun ke clubbing. Kerap mengkonsumsi alkohol, pola hidup buruk. Kerap makan makanan junk food. Kini dia baru merasakan efek dari semua itu.
"Yang, kita jadinya menikah kapan? Aku ingin secepatnya sah lagi sama kamu," ucap Melani.
"Setelah kamu sehat saja! Sekarang yang terpenting, kamu sehat dulu! Pikirkan dulu kesehatan kamu!" sahut Reynaldi.
Melani takut, kalau umurnya tak panjang. Dia ingin sebelum dia pergi meninggalkan selama-lamanya, dia ingin resmi menikah lagi sama Reynaldi. Dia berusaha untuk bisa segera pulang dari rumah sakit. Dia ingin meminta kepada dokter, untuk segera memperbolehkan dia pulang ke rumah. Dia akan melakukan berobat jalan. Rencananya, setelah dia resmi menikah dengan Reynaldi. Melani akan terbang ke Singapura, tanpa Reynaldi. Dengan alasan urusan pekerjaan.
"Besok aku ingin pulang. Aku sudah merasa lebih baik kok, hanya butuh pemulihan saja. Nanti aku berobat jalan saja, jika masih ada yang di rasa," ungkap Melani.
__ADS_1
"Kamu yakin, sudah merasa lebih baik? Aku ingin, kamu sembuh total dulu! Baru kita pulang ke rumah," ujar Reynaldi.
Melani mengatakan kalau dia sudah merasa sehat, dan memaksa ingin segera pulang ke rumah. Hingga akhirnya, Reynaldi menuruti keinginannya. Dia akan mencoba berbicara sama dokter yang menangani Melani besok.