
"Breng*sek itu nenek-nenek, bikin gue emosi saja. Untung saja anak lo masih bermanfaat untuk gue, kalau tidak sudah dari dulu gue tinggalkan anak lo. Sebel banget gue direndahkan begini. Apa Mungkin karena gue kemarin-kemarin minum pil KB kali ya? Makanya sampai sekarang, gue belum bisa punya anak," umpat Viona geram dalam hati.
Selama Viona menjalin hubungan dengan Reynaldi dulu, dia selalu mengkonsumsi pil KB agar dirinya bermain aman dengan Reynaldi. Tiga bulan setelah menikah, dirinya sudah menghentikannya. Dia berniat ingin memberikan seorang anak untuk suaminya. Terlebih ibu mertuanya selalu ribut tentang anak.
Viona masih bersikap tenang, meskipun dirinya merasa kesal. Mungkin jika dia bukan ibu mertuany , Viona pasti sudah menampar orang itu. Namun, karena ini ibu mertuanya, mau tak mau dirinya harus sabar menghadapinya.
Baru semalam saja Viona menginap di rumah orang tua Reza, dia merasa seperti di neraka. Ibu mertuanya menjadi berubah kepadanya, karena dirinya belum juga memberikan anak untuk suaminya. Awalnya Viona tidak mempedulikannya, karena Viona masih mengharapkan Reynaldi kembali kepadanya.
"Wah mama masak rendang, mantap ini," ucap Reza sambil mengambil lauk dan nasi untuk di letakkan di piringnya.
"Kasihan banget sih kamu, Nak. Harus mengambil makan sendiri. Sudah tak bantuin buat makanan kesukaanmu. Gimana mau punya anak, orang pemalas seperti itu. Kebanyakan tidur. Tak seperti anak Tante Hilda si Meli, sudah rajin masak, saleha lagi. Coba dulu mama jodohkan sama dia," sindir sang mama mertua.
"Ma, Reza sama Viona pamit pulang dulu ya. Insya Allah minggu depan Reza menginap lagi di sini," ungkap Reza saat mereka sarapan pagi bersama.
Viona yang merasa tidak suka, langsung membalas ucapan ibu mertuanya. Viona merasa tidak terima dengan ucapan ibu mertuanya.
"Bu, tolong jaga ucapannya ya! Maksud Ibu apa sih bicara seperti itu? Bagaimanapun saya ini masih istri sah anak Ibu. Saya juga punya hati dan perasaan Bu. Tolong jangan banding-bandingkan saya dengan wanita lain, saya tidak terima!" Viona meluapkan kemarahannya membentak ibu mertuanya.
"Kurang ajar ya kamu! Tak punya sopan santun bicara sama orang tua. Padahal kedua orang tua kamu itu orang yang baik, tak disangka anaknya seperti ini," ucap mamanya Reza ketus.
Reza dan ayahnya mencoba melerai perdebatan mereka. Tetapi keduanya sama-sama bersikeras merasa benar. Viona merasa kesal dengan Reza. Seharusnya sebagai seorang suami, dia membela dirinya bukan justru menasehati untuk sabar. Viona memiliki sifat keras kepala, dia selalu menginginkan semua keinginan terwujud sesuai harapannya.
Viona langsung meninggalkan meja makan dan memilih untuk masuk ke kamar untuk bersiap-siap pulang. Viona terlihat sangat marah, karena Reza masih saja terus makan. Tak sedikit pun suaminya membela dirinya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," sahut Mamanya Reza sambil berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu melihat ada tamu siapa.
__ADS_1
"Eh Mba Hesti sama Meli. Ayo, silakan masuk!" ucap Mamanya Reza mempersilakan masuk.
"Baru saja dibicarakan, eh orangnya datang," ucap Mamanya Reza sambil tertawa ringan.
"Waduh, kita diomongin apa Mba? tanya Mba Hesti.
"Bicara sama Reza, coba Meli yang saya jodohkan dulu sama Reza. Sudah cantik, saleha lagi. Perawan lagi. Menyesal saya tak kepikiran dari dulu," ungkap Mamanya Reza.
Mamanya Reza pamit sebentar kepada Mba Hesti untuk masuk ke dalam sebentar untuk memanggil Reza. Awalnya Reza menolak untuk menemui teman ibunya dan anak dari temannya. Namun, Mamanya terus memaksa.
Viona yang sudah siap langsung keluar mencari keberadaan suaminya untuk mengajak pulang. Namun, dirinya justru tersulut api kemarahan. Viona menjadi bertambah emosi. Dia langsung kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tas dan barang miliknya.
Viona pergi melewati ruang tamu tanpa permisi. melihat Viona seperti itu, Reza langsung memanggil Viona. Hingga akhirnya Viona menghentikan langkahnya.
Viona pikir, Reza memanggil dirinya karena ingin mengajak dirinya pulang. Meminta maaf kepadanya. Tetapi pikiran Viona salah. Justru Reza menghentikan dirinya karena merasa kesal dengan sikap Viona yang tidak sopan kepada orang tuanya.
"Kamu mau kemana? Apa kamu sudah tak menganggap aku sebagai suami kamu? Bagaimanapun dia itu ibuku, ibu mertua kamu! Harusnya kamu hormati dia," ucap Reza dengan suara yang terdengar tinggi.
"Hebat ya sekarang, sudah berani membentak aku. Bukannya membela istrinya, ini justru malah nambahin. Sudah merasa bosan ya sama aku? Atau karena sudah ada wanita pengganti? Wanita murahan yang ibu kamu ingin jodohkan dengan kamu," sindir Viona
Tanpa sadar Reza menampar wajah Viona. Tamparan yang sangat kencang meskipun hanya satu kali tamparan. Namun meninggalkan rasa panas dan merah di wajahnya.
"Tutup mulut kamu! Aku tak mengerti. Mengapa mulut kamu sekarang seperti wanita yang tak berpendidikan? Aku 'kan sudah bicara sama kamu tadi. Hormati ibuku, kalau kamu masih mau menjadi menantunya," bentak Reza.
"Eh, yang seharusnya tutup mulut itu kamu! Coba kalau kamu di posisi aku bagaimana? Tak usah mengancam aku, kalau kamu sudah tak mau sama aku. Ceraikan, aku!" sahut Viona yang tak mau kalah.
Viona terlihat sangat marah dan langsung pergi meninggalkan Reza dengan penuh kecewa. Viona tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia langsung meluapkan kesedihannya.
__ADS_1
Dia tidak pernah menyangka dirinya akan merasakan kecewa lagi. Reza mencoba mengejar dan memanggil Viona. Dia merasa khawatir dengan Viona, karena bagaimanapun Viona masih istrinya.
Reza berhasil menghentikan istrinya.
"Dengarkan aku! Aku tak berniat menyakiti kamu! Aku mohon, jangan keras kepala seperti ini! Kita bisa bicarakan baik-baik. Maaf, karena aku tadi sempat menampar wajah kamu. Aku sayang sama kamu," ucap Reza.
Reza memeluk tubuh istrinya, mencoba menenangkan dan memberi pengertian kepada istrinya.
"Aku merasa tak dihargai. Tak ada sedikit pun pembelaan yang kamu lakukan di hadapan ibu kamu," ungkap Viona diiringi isak tangis.
"Iya, aku akui aku salah. Aku minta maaf sama kamu. Ayo pulang, kita siap-siap pulang ya ke Jakarta," ucap Reza.
Amarah Viona akhirnya mereda. Dia mau memaafkan suaminya. Meskipun dirinya masih merasa kecewa dengan apa yang sempat diperbuat suaminya.
"Dikira, tak akan kembali lagi," sindir Mamanya Reza.
Saat ini Viona merasakan apa yang dirasakan Nisa saat itu sampai sekarang. Mertuanya tak menyukai dirinya. Jika seperti ini, Viona merasa menyesal. Karena dulu menyia-nyiakan Reynaldi. Kini hidupnya semakin tak karuan.
Viona menahan perasaannya saat ini. Sebenarnya dia masih merasa kesal. Namun, dia teringat ucapan suaminya. Jika dirinya masih ingin bersama anaknya, mau tak mau dia harus menghargai ibunya. Meskipun mertuanya tak pernah menginginkan dirinya.
"Reza pamit pulang dulu ya, Ma," ucap Reza. Reza langsung mencium tangan sang mama untuk pamit pulang. Dia juga pamit kepada Tante Hesti dan Meli. Meli menjadi tak enak hati, karena Viona menatap dirinya dengan tatapan tajam. Viona pergi begitu saja, tanpa pamit kepada mertuanya dan juga Tante Hesti beserta Meli.
Reza dan Viona telah pergi meninggalkan rumah. Tentu saja sikap tak sopan dia, menjadi pembicaraan sang mertua dengan Tante Hesti
"Iya, saya juga tak suka sama istrinya Reza. Kurang ajar. Makanya saya berharga mereka akan segera bercerai, dan Reza bisa sama Meli. Meli mau 'kan?" tanya mamanya Reza dan Meli tampak menganggukkan kepalanya malu-malu.
Selama perjalanan, Viona memilih untuk dia. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibirnya. Sedangkan Reza sesekali tampak melirik ke arah Viona yang terlihat cuek kepadanya.
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Ayu Andila