Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Rencana Aqiqahan Azzam dan Azzura


__ADS_3

Tak terasa sudah tiga hari Nisa dirawat di rumah sakit untuk pemulihan pasca operasi sesar, dan kini kondisinya sudah lumayan membaik. Hari ini Nisa sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Abi sudah mengurus administrasi kepulangan Nisa dan juga twins.


Orang tua Abi dan juga Khanza membantu Abi merapikan barang-barang yang akan dibawa pulang ke apartemen. Khanza terlihat begitu senang, karena sebentar lagi dia akan berkumpul dengan kedua adiknya, bundanya, dan juga papanya.


Sebelum pulang, Abi mengecek terlebih dahulu secara keseluruhan. Untuk memastikan tak ada satupun barang yang ketinggalan. Abi ataupun kedua orang tua Abi, tak memperbolehkan Nisa melakukan apapun. Bahkan saat pulang pun, Abi tak membiarkan sang istri berjalan.


Dia menyuruh Nisa duduk di kursi roda. Setelah Nisa duduk di kursi roda. Sedangkan Azzura dan Azzam di letakkan di stroller. Mamanya Abi yang mendorongnya. Untuk barang-barang bawaan Nisa, sang ART yang membawanya, dan dibantu oleh papanya Abi.


"Tunggu dulu ya di sini! Aku ambil mobil dulu sama papa," ujar Abi kepada Nisa dan juga sang mama. Nisa, mamanya Abi, sang ART, dan juga Khanza menunggu di lobby.


Abi memarkirkan mobilnya di lobby. Dia langsung turun dari mobil membantu sang istri untuk naik ke mobil, setelah itu memberikan Azzura ke Nisa. Khanza dan mamanya Abi pun naik. Azzam tertidur nyenyak, tampak nyaman dalam gendongan Mamanya Abi.


Mamanya Abi sangat sayang kepada Nisa, tak seperti mantan mertuanya itu. Masih Nisa ingat, saat dia melahirkan Khanza dulu. Yang harus berjuang hanya berdua Reynaldi. Bahkan sang mantan mertua 'lah yang membuat dia kehilangan anak keduanya. Mantan mertuanya itu benar-benar tak ada hati. Tak sedikitpun dia peduli dengan Nisa.


Mereka kini sudah sampai di apartemen. Abi memarkirkan mobilnya di lobby, dan membantu sang istri untuk turun dari mobil.


"Kamu kuat enggak sayang? Kalau enggak kuat, kamu tunggu di sini saja dulu! Aku parkir mobil dulu. Bibi juga, enggak usah dibawa semua ya barangnya! Semampunya Bibi saja, biar nanti saya saja yang bawa. Papa juga, jangan bawa banyak-banyak!" Pesan Abi kepada mereka.


"InsyaAllah kuat, aku coba jalan pelan-pelan," sahut Nisa.


"Ya, sudah! Hati-hati ya!" Ujar Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya. Suaminya itu begitu perhatian padanya. Nisa berusaha untuk kuat, agar bisa mengurus ketiga buah hatinya. Dia berusaha menikmati rasa sakit yang dia rasakan setelah pasca sesar.

__ADS_1


Abi langsung kembali ke mobil, untuk memarkirkan mobilnya ke basement apartemen. Sedangkan Nisa, Khanza, Mamanya, Abi, dan sang ART berjalan ke lift menuju lantai unit apartemen mereka. Sedangkan papanya Abi, saat ini menunggu Abi di lobby. Menjaga barang-barang yang belum dibawa.


Kini mereka sudah di depan unit kamar mereka. Sang ART langsung membuka pintu apartemen.


"Assalamualaikum." kata mereka bersamaan. Saat masuk ke dalam.


Nisa dan Mama Abi langsung masuk ke kamar Nisa, Nisa meminta Khanza untuk membersihkan ranjang, dan juga kedua box bayi dengan sapu lidi. Setelah itu, Nisa dan Mamanya Abi meletakkan Azzam dan Azzura secara pelan-pelan di box.


"Ka, titip Azzam sama Azzura dulu ya! Bunda mau ganti pembalut dulu sama daster," ujar Nisa. Tentu saja Khanza dengan senang hati mengiyakan permintaan sang bunda.


Nisa langsung ke luar menuju kamar mandi. Mamanya Abi masuk kembali ke kamar Nisa, setelah berganti pakaian. Dia tersenyum kala melihat Khanza yang menatap lekat wajah kedua adiknya.


"Eh, nenek. Nek, Azzam ganteng ya? Azzura juga cantik," ucap Khanza, saat sang nenek datang menghampiri dirinya.


Hari telah malam Abi dan Nisa sudah berada di kamar. Azzam dan Azzura tampak tertidur nyenyak setelah menyusu dengan sang bunda. Kini keduanya sudah di ranjang, untuk beristirahat. Karena besok pagi Abi masuk kerja.


"Yang, bagaimana kalau kita mengadakan Aqiqahan Azzam dan Azzura di panti asuhan? Aku ingin berbagi rezeki kepada mereka," Usul Abi kepada sang istri.


"Kamu enggak keberatan 'kan?" Tanya Abi untuk memastikan.


"Kenapa harus keberatan Mas? Aku justru setuju banget. Aku berharap, kelak Azzam dan Azzura akan menjadi anak yang sholeh dan sholeha. Mereka akan menjadi anak yang dermawan, kepada orang-orang yang membutuhkan, dan bersikap rendah hati kepada sesama," sahut Nisa dan di aminkan oleh Abi.

__ADS_1


Mereka sepakat untuk mengadakan Aqiqahan Azzura dan Azzam di panti asuhan. Mereka akan mengundang ustadz untuk memimpin acara. Acara Aqiqahan akan di adakan tiga hari lagi. Tujuh hari setelah kelahiran Azzam dan Azzura. Tentu saja sangat singkat untuk melakukan persiapan. Tetapi, Abi dan Nisa sepakat untuk mempercepat acara itu.


Nisa akan mulai mencari tempat terdekat yang menjual menu untuk Aqiqahan. Abi akan membeli tiga ekor kambing, dua untuk Azzam dan satu untuk Azzura. Dia juga akan memesan kue untuk di masukkan dalam dus. Nisa dan Abi juga akan memberikan amplop berisi uang seratus ribu rupiah, amplop itu akan dibagikan satu persatu kepada anak-anak panti. Dia juga akan menyiapkan uang dua juta rupiah untuk membantu kebutuhan panti.


"Ya sudah, ayo kita tidur! Mumpung Azzura dan Azzam tidur. Kamu butuh istirahat. Mas juga, besok 'kan kerja," ujar Abi.


"Mas tidur duluan saja! Aku mau pumping ASI dulu untuk stock ke di freezer. Jadi, aku ada cadangan ASI, kalau aku lagi mandi atau pergi," sahut Nisa.


"Yang, sepertinya kita harus pindah tempat tinggal. Kita harus cari rumah yang lebih besar. Paling enggak ada empat kamar. Kalau seperti ini repot juga ya? Si bibi kasian enggak ada kamar. Kamu juga kayanya butuh baby sister yang akan membantu kamu. Kasihan kamu, pasti repot banget. Kasihan bibi juga. Dia 'kan sudah disibukkan dengan pekerjaan rumah. Masa iya, harus mengurus bayi juga. Makanya, kita harus nyewa rumah yang banyak kamar," ujar Abi dan Nisa setuju.


Nisa mengambil pompa ASI, untuk memompanya. Abi tampak memperhatikan sang istri.


"Yang, itu kamu kok jadi tambah besar. ASI nya banyak ya?" Ujar Abi. Dia mencoba menahan hasrat kelelakiannya.


"Iya, banyak. Makanya ukurannya jadi lebih besar. Udah ah jangan bahas seperti ini. Mas mesum ih," sahut Nisa membuat Abi terkekeh.


"Masa sama istri sendiri enggak boleh? Biasanya, berapa lama si?" Tanya Abi.


"Dua tahun! Itu juga, kalau aku sudah siap," ujar Nisa.


"Ya ampun lama banget? Tega banget si kamu sama aku. Jangan gitu dong," rayu Abi. Kini giliran Nisa yang menertawakan ekspresi wajah suaminya yang baginya begitu menggemaskan. Wajah Abi terlihat memelas.

__ADS_1



__ADS_2