
Sang ibu mertua baru sampai di rumah sakit dan dia melihat Reynaldi yang sedang duduk termenung di kursi depan ruangan Viona. Saat ini Viona sudah dipindahkan ke ruang rawat inap kelas 3. Untuk sementara waktu, Viona harus dirawat di rumah sakit.
"Rey, bagaimana keadaan Viona sekarang?" tanya sang ibu mertua.
"Alhamdulillah, sekarang sudah mulai membaik mah. Tetapi dokter belum mengizinkan Viona untuk pulang. Dia masih harus menginap di rumah sakit, selama beberapa hari. Dokter akan melakukan observasi. Jika menurut dokter sudah memungkinkan dia boleh pulang, dokter baru akan memperbolehkan Viona untuk pulang," jelas Reynaldi.
Sang ibu mertua, menanyakan kembali lebih jelas tentang apa yang terjadi dengan sang anak.
"Makanya, kamu itu kalau melakukan hubungan suami istri pelan-pelan. Lagipula, istri sakit masih saja terus di hajar," cerocos sang ibu mertua.
Reynaldi tampak terdiam, dia mengakui kesalahannya. Andai saja dia tak melanjutkan waktu itu, mungkin Viona tak akan masuk rumah sakit.
Reynaldi mencoba membela diri, dia tak ingin di salahkan seperti ini. Karena semua ini bukan kesalahan dia sepenuhnya. Reynaldi mengatakan kalau Viona tak bilang, kalau dia mengidap penyakit kanker serviks. Reynaldi tak akan senekat itu. Menggagahi istrinya yang sakit.
Seharusnya, Viona bisa melarangnya. Karena Viona pasti sudah tahu, wanita yang memiliki penyakit itu dilarang untuk berhubungan suami istri lagi. Karena tadi, Reynaldi pun di jelaskan seperti itu. Akhirnya, sang ibu mertua mengerti. Karena ini kesalahan anaknya juga. Yang tetap ingin menutupi penyakitnya dari suaminya, dan masih saja mengikuti keinginan suaminya untuk bercinta.
"Kasihan sekali nasibnya Viona. Pernikahannya, selalu berakhir menderita," ucap sang ibu mertua.
Reynaldi tak mampu berkata-kata. Dia terlihat hanya diam. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan, dia tak memiliki kekuatan.
"Dia itu butuh dukungan kamu, agar selalu semangat untuk hidup," pinta sang ibu mertua.
__ADS_1
"Iya, Ma. Jujur, Reynaldi bingung. Ini juga Rey ingin pamit pulang. Soalnya di rumah mama sendiri, tidak ada yang menjaga. Tadi aku terpaksa meninggalkannya sendiri di rumah, karena harus membawa Viona ke rumah sakit. Mama sekarang lumpuh enggak bisa bangun dari tempat tidur. Dia hanya terbaring lemah di ranjang, Rey harus mengurusnya. Rey titip Viona sama Mama dulu ya. Saran Rey kalau nanti Viona pulang, sebaiknya Viona tinggal di rumah Mama dulu. Biar dia ada yang mengurus, dan tak capek," ujar Reynaldi.
Sang ibu mertua menatap ke arah Reynaldi. Dia tahu, pasti rasanya sangat pusing berada di posisi Reynaldi.
"Ya sudah sana kalau kamu mau pulang! Biar Viona Mama yang urus, jadi kamu bisa beristirahat dulu. Memang, ada benarnya juga kata kamu. Tapi, Mama mohon sama kamu. Tolong jangan ceraikan Viona, kasihan dia! Pasti dia sangat down, kalau sampai kamu meninggalkan dia. Dia butuh dukungan kamu," ujar sang Mama, tetapi dia pun tak bisa banyak menuntut menantunya itu.
"Entahlah ma, saat ini aku belum bisa berkata apapun. Kepalaku rasanya mau pecah. Satu masalah belum selesai, tetapi sudah muncul masalah baru. Mungkin Allah murka padaku dan juga Viona," ucap Reynaldi.
Reynaldi mulai menceritakan atas apa yang mereka lakukan dulu kepada mantan istrinya dulu. Reynaldi juga menceritakan penyesalannya. Padahal dulu, dia memiliki segalanya. Kini, Allah benar-benar mengambil semuanya.
"Aku menyadari, kalau apa yang aku lakukan dulu dengan Viona salah besar. Menghalalkan segala cara untuk bisa berzina. Setelah menikah, Allah justru tak memberikan kami anak. Rezeki aku juga seret, kami harus merasakan di titik terendah," jelas Reynaldi.
"Aku mohon sama Mama, tolong ingatkan Vi untuk terus memohon ampun kepada Allah. Aku pun akan melakukan seperti itu. Kami telah lalai sebagai umat islam, kami tak pernah menjalankan sholat," ucap Reynaldi, sang ibu mertua hanya menganggukkan kepalanya.
Reynaldi pamit pulang, karena dia khawatir dengan sang mama. Dengan menaiki ojek online, akhirnya Reynaldi sampai di rumah. Keadaan rumah sangat sepi, karena sudah sangat malam.
Reynaldi langsung menghampiri sang mama ke kamarnya. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat sang mama yang tak sadarkan diri.
"Ma, bangun Ma! Bangun! Jangan tinggalkan Reynaldi!" Reynaldi mencoba membangunkan sang Mama. Dia terlihat panik. Reynaldi mencoba mencari minyak angin, untuk dia tempelkan di hidungnya sang Mama.
Reynaldi terus memantau denyut nadi sang Mama. Dia takut kalau sang Mama pergi meninggalkan dirinya. Reynaldi dapat bernapas lega, saat melihat Mama Ratih perlahan membuka matanya.
__ADS_1
"Syukurlah mama sudah sadar. Tadi Rey takut banget, takut mama pergi ninggalin Rey. Sebenarnya, Mama kenapa? Kok Mama sampai pingsan seperti itu," ucap Mama Ratih.
"Rey, jangan tinggalkan Mama lagi. Mama takut. Hiks ... hiks ... hiks," ucap Mama Ratih diiringi isak tangis.
"Iya Ma, maafin Rey ya! Jujur, situasi seperti ini membuat Rey merasa bingung harus seperti apa. Viona mengidap kanker serviks ma, makanya dia mengalami pendarahan saat semalam berhubungan intim sama Rey. Dia tak bilang sama aku, kalau dia sakit itu. Kalau aku tahu, aku tak mungkin menggauli dia. Dokter sudah menjelaskan kepada aku, kalau aku tak boleh melakukan hubungan suami istri lagi sama dia. Aku sudah tak bisa punya anak sama dia," jelas Reynaldi.
"Ya sudah, kamu ceraikan saja istri tak berguna seperti itu. Jadi menambah beban kamu saja, hanya menambah susah kamu saja. Mama menyesal, menyuruh kamu menikah dengannya. Mama kira, dia wanita yang cocok untuk kamu," cerocos Mama Ratih.
"Rey bingung. Dokter bilang bilang dia tak boleh stres, kalau Rey ceraikan dia pasti dia stres berat. Di saat dia membutuhkan orang yang selalu support dia, Reynaldi justru meninggalkan dia," jelas Reynaldi.
"Kalau kamu sudah bercerai dari dia, dia bukan menjadi tanggung jawab dan urusan kamu lagi. Terserah dia saja, mau milih mati cepat atau bertahan hidup. Masa iya kamu harus memendam hasrat kelelakian kamu terus, yang ada nanti kamu impoten. Kamu juga 'kan butuh seorang anak. Anak kamu yang dulu, sudah tak ingat sama kamu sama sekali. Dia lebih berat ke ibunya," ujar Mama Ratih.
Reynaldi merasa tak suka, saat mendengar sang Mama menjelekkan sang anak. Karena semua ini murni kesalahannya, dalam hal ini Khanza tak salah.
"Ini karma untuk aku. Karena aku telah menyia-nyiakan Nisa dan juga Khanza. Hingga aku harus kehilangan segalanya," ujar Reynaldi lirih. Terlihat sekali penyesalan di wajah Reynaldi.
"Bukan karma. Tapi Nisa memang sengaja membuat kamu menderita. Siapa suruh dia melaporkan kamu ke pimpinan kamu, jadinya 'kan kamu tak bisa menafkahi anak kalian," sahut Mama Ratih.
"Kenapa si Mama tak pernah berubah dan menyadarinya kesalahan yang kita perbuat selama ini kepada Nisa dan Khanza? Selalu saja Mama menyalahkan Nisa dalam hali ini. Apa Mama tak menyadari, mengapa Allah membuat Mama harus mengalami seperti ini," ucap Reynaldi ketus.
"Mama seperti ini gara-gara Viona malas menyikat kamar mandi, jadinya jatuh. Bukan karena Mama kena karma," ucap Mama Ratih membela diri.
__ADS_1