
"Dok, bagaimana kondisi Mama saya? Mengapa dia belum sadarkan diri sampai sekarang?" Tanya Reynaldi. Setelah operasi, hingga sekarang sang mama masih terbaring tak sadarkan diri. Mama Ratih masih mengalami koma.
"Kami sudah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan mama Anda. Seharusnya, pasien sudah bisa langsung sadar kembali. Berdoa saja, semoga ada keajaiban dari Tuhan," sahut dokter Yohanes dan Reynaldi hanya mengiyakan.
Hari ini Abi harus berangkat ke Jakarta, dia pergi dengan menggunakan pesawat.
"Mas, kamu enggak apa-apa 'kan, aku enggak sempat mengantarkan kamu ke bandara?" Tanya Nisa saat suaminya bangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah.
"Iya, enggak apa-apa. Aku paham kok. Lebih baik kamu fokus mengurus urusan kamu. Ingat, waktu kita tak banyak. Nanti di Jakarta Mas mau sekalian cari rumah kontrakan yang letaknya dekat rumah sakit. Sebenarnya, enak tinggal di apartemen. Sudah lengkap fasilitasnya, tak perlu beli perabot lagi. Sayang juga, kalau nanti kita kembali ke Yogya lagi," sahut Abi, dan Nisa mengiyakan. Nisa serahkan semuanya kepada sang suami. Bagaimana baiknya saja.
Setelah sholat subuh berjamaah, Nisa langsung pergi ke dapur untuk memasak. Dia ingin memasakkan sang suami makanan dulu, sebelum suaminya pergi. Tetapi sebelum itu, Nisa melihat sang anak dulu di kamarnya, mengingatkan sang anak untuk sekolah.
"Ka, bangun Ka! Ingat, sekolah! Ayo sholat dulu, nanti subuhnya kesiangan," ucap Nisa yang mencoba membangunkan sang anak.
"Iya, Bun." Perlahan, Khanza pun membuka matanya.
"Ayo sholat dulu bangun! Jangan malas!" Titah Nisa.
Sang anak sudah terbangun. Sang suami pun sudah duduk bersantai di depan TV, menonton tayangan televisi. Setelah selesai sholat, Khanza menghampiri sang papa. Saat bekerja, waktu Abi sangat sempit untuk bisa bersantai di pagi hari. Kini keduanya sudah di sofa yang sama. Sedang Nisa sedang masak di dapur, membuat sayur sop baso, tempe goreng, dan ayam goreng.
"Ka, hari ini papa berangkat ke Yogya. Papa titip bunda ya! Ingat, Bunda jagain ya!" pesan Abi kepada anak tirinya itu.
"Ok, siap. Jangan khawatir," sahut Khanza.
__ADS_1
Khanza pamit untuk mandi, karena dia hendak bersiap-siap mau ke sekolah. Makanan telah siap di meja makan, saatnya sarapan. Khanza terlihat sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahnya. Dia sudah duduk di kursi meja makan, untuk makan bersama dengan kedua orang tuanya. Kini mereka menikmati sarapan pagi bersama.
"Dua atau tiga hari saja, rasanya aku mau berpisah sama kamu seribu tahun lamanya. Aku pasti sangat merindukan masakan kamu," ucap Abi membuat Nisa tersenyum. Suaminya itu pandai menyenangkan hatinya.
Karena Abi masih memiliki waktu, dialah yang pergi mengantarkan Khanza ke sekolah. Nisa mengantarkan sang anak sampai depan rumah, sampai Khanza naik ke motor. Khanza mencium tangan sang bunda terlebih dahulu, sebelum dia berangkat.
Hari ini Nisa akan mengadakan pertemuan dengan pegawai di pabrik garment miliknya, sekaligus pamit untuk pergi ke Jakarta. Dia sudah menyuruh Rina untuk memesan nasi kotak untuk semua pegawainya, dan besok barulah dia mengadakan pertemuan dengan pegawai di tempat usaha konveksi home industri. Setelah semuanya sudah jelas, Nisa baru akan mengurus kepindahan sekolah Khanza.
"Aku mandi dulu ya," pamit Abi. Abi baru saja sampai di rumah, dan memilih untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat.
Nisa sudah menyiapkan 3 stel pakaian formil, kaos santai, celana pendek, pakaian dalam, celana panjang jeans, dan juga kaos berkerah yang dia masukkan ke dalam koper.
Abi sudah selesai mandi, dan langsung masuk ke kamar. Nisa sudah menyiapkan pakaian untuk suaminya berangkat. Abi langsung memeluk sang istri, rasanya begitu berat dia meninggalkan sang istri untuk pergi.
Abi melepaskan pelukannya dan melabuhkan kecupan di pucuk kepala, kening istrinya, dan di akhiri dengan ciuman di bibir. Abi mencium istrinya begitu bersemangat, dia juga sedikit menarik tengkuk istrinya untuk memperdalam ciuman mereka.
"Yang, main dulu yuk sebentar! Sebelum Mas jalan! Untuk bekal Mas," ujar Abi.
"Tapi pelan-pelan ya Mas, ingat sudah ada dede bayinya di perut," jawab Nisa dan Abi mengiyakan. Semenjak sang istri dinyatakan hamil, mereka belum melakukan hubungan suami istri lagi, dan baru hari ini.
Nisa langsung membuka daster yang dia kenakan dan juga pakaian dalam yang dia kenakan. Membuat tubuhnya sudah terlihat polos. Bagi Abi tubuh istrinya begitu seksi. Abi langsung mengarahkan sang istri untuk membaringkan tubuhnya di ranjang.
Keduanya tampak bergairah dan menikmati, Abi mampu membuat sang istri melayang. Menikmati sentuhan nikmat dari suaminya.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Papa izin tengok dulu ya!" ucap Abi sambil memberikan kecupan di perut istrinya.
Abi memasukkan jari tangannya ke milik istrinya, untuk mengeceknya. Di rasa milik istrinya sudah siap, Abi meminta sang istri mengulum miliknya. Agar memudahkan dia untuk memasukkan miliknya ke milik istrinya.
"Aku mulai ya sayang," ucap Abi. Dia sudah sangat menginginkannya, dan Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
Viona salah besar. Dia bilang Abi dulu egois, enggak pernah memberikan kepuasan, dan tak tahan lama. Buktinya dia bisa membuat Nisa terpuaskan, dan saat ini sedang hamil anak kembar. Titik kesalahan sebenarnya bukan pada Abi, tetapi pada Viona yang tak pernah bersyukur memiliki suami yang baik.
Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh mereka, hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan pelepasan. Napas keduanya masih terengah-engah.
"Makasih ya sayang, aku sangat mencintai kamu. Tak akan ada wanita lain yang akan menggantikan posisi kamu di hatiku," ucap Abi sambil melabuhkan kecupan di kening sang istri.
"Aku juga mencintai Mas, jaga hati dan diri kamu untuk aku ya," sahut Nisa.
"Ya sudah, Mas harus siap-siap. Takut ketinggalan pesawat," ujar Abi. Mereka sampai melupakan kalau mereka memiliki aktivitas masing-masing.
Nisa pun harus bersiap-siap untuk berangkat, karena pagi ini jam 09.00 WIB dia ada pertemuan. Dia mau ke pabriknya. Abi memilih mandi kembali agar lebih segar. Setelah itu barulah dia bersiap-siap. Setelah mengantarkan sang suami sampai sang suami naik taksi yang menjemputnya.
Setelah itu barulah Nisa bersiap-siap untuk berangkat. Dia langsung mandi, dan berdandan cantik.
"Bi, Ibu berangkat dulu ya ke pabrik. Jangan lupa Bibi jemput Khanza ya. Kemungkinan ibu pulang sore," ujar Nisa.
"Iya Bu, jamnya seperti biasakan 'kan bu?" Tanya sang ART dan Nisa mengiyakan.
__ADS_1
Nisa pergi dengan mengendarai mobil sendiri menuju pabrik miliknya. Semenjak bercerai dari Reynaldi, rezekinya bertambah mengalir. Kehidupannya justru lebih bahagia. Tak seperti dulu harus menahan perasaannya, mendengar sindiran ibu mertuanya.