Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Persiapan Kelahiran


__ADS_3

"Kita siap-siap berangkat sekarang saja ke Mall-nya. Khanza sudah bangun belum? Coba kamu lihat ke kamarnya!" Ujar Abi dan Nisa mengiyakan. Nisa langsung beranjak turun dari ranjang dan keluar dari kamar.


Kemudian dia langsung masuk ke kamarnya. Ternyata sang anak masih tertidur nyenyak. Nisa berjalan menghampiri sang anak, dan duduk di tepi ranjang. Dia berniat untuk membangunkan sang anak, untuk mengajaknya pergi ke Mall.


"Kak, bangun yuk! Biar tak terlalu kesorean ke Mall-nya. Jadi, masih ada waktu banyak untuk pilih-pilihnya," ucap Nisa dan akhirnya perlahan Khanza membuka matanya.


"Bunda mau mandi dulu dan siap-siap. Kakak bangun ya! Setelah bunda selesai, gantian kakak yang mandi," ujar Nisa dan Khanza mengiyakan.


Nisa melihat sang suami yang sedang duduk di sofa depan TV.


"Gimana? Khanza-nya sudah bangun belum?" Tanya Abi saat sang istri keluar dari kamar anak sambungnya.


"Iya, sudah. Aku mandi dulu ya, terus habis itu langsung siap-siap untuk berangkat. Nanti Khanza mandinya setelah aku selesai mandi," jelas Nisa.


"Iya, mandi deh duluan! Nanti aku mandinya setelah Khanza mandi," ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


Nisa langsung masuk kamar mandi untuk mandi, setelah 15 menit dia keluar dengan wajah yang terlihat sudah segar.


"Kak, mandi! Bunda sudah selesai!" panggil Nisa kepada sang anak. Akhirnya Khanza beranjak turun dari ranjang dan langsung ke luar untuk mandi. Setelah Khanza, Abi yang bergantian untuk mandi.


Nisa sudah selesai memakai pakaian dan juga jilbab. Sekarang, dia hanya menggunakan bedak dan juga lipgloss berwarna peach. Dia hanya tinggal menunggu Khanza dan juga Abi. Nisa pun membawa serta sang ART, yang nantinya bisa membantu sang suami membawakan barang-barang belanjaan. Selain itu, agar ART-nya tak merasa bosan hanya di dalam apartemen saja.


Keempatnya sudah terlihat siap. Mereka memutuskan untuk segera berangkat ke Mall. Kini mereka melangkahkan kakinya keluar dari unit apartemennya. Nisa menunggu sang suami di depan lobby apartemen bersama Khanza dan juga sang ART. Sedangkan Abi mengambil mobil ke parkiran mobil yang berada di basement.

__ADS_1


"Itu mobil papa, yuk keluar!" Ajak Nisa kepada Khanza.


Mereka bertiga langsung keluar dari lobby, dan berjalan masuk ke dalam mobil Abi. Kini mereka berempat sudah dalam perjalanan menuju Mall yang letaknya tak jauh dari apartemen mereka.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di Mall. Abi menurunkan sang istri, anak, dan juga ART-nya di lobby. Agar sang istri tak banyak berjalan. Setelah menurunkan di lobby, Abi lanjut ke parkiran mobil.


Nisa, Khanza, dan sang ART langsung menuju ke tempat baby shop untuk membeli perlengkapan kedua bayi mereka. Setelah memarkirkan mobil, Abi langsung menyusul istri dan anaknya.


Ponsel Nisa berdering. Ternyata sang suami yang menghubungi dirinya, mencari keberadaan dirinya. Nisa langsung menerima panggilan telepon dari suaminya, dan langsung memberitahu keberadaan dirinya.


Khanza terlihat senang, memilihkan barang-barang keperluan untuk kedua adiknya. Mereka membeli perlengkapan dengan dua warna yang berbeda, karena kedua bayi itu memiliki jenis kelamin yang berbeda.


"Wah, kakak senang banget ini. Lucu-lucu ya Kak? Papa juga ikutan semangat ini, mau ikut memilihkan. Gimana kalau kita bagi tugas. Kakak pilih untuk adik bayi yang cewek, dan papa pilihkan untuk adik bayi yang cowok. Gimana setuju enggak? Kalau bunda tugasnya hanya memastikan barang-barang apa saja yang harus di beli," ucap Abi.


Nisa tersenyum kala melihat antusias Abi dan Khanza untuk menyambut kedua bayi yang bulan depan akan lahir. Raut wajah mereka terlihat bahagia. Abi tak sayang, mengeluarkan uang yang jumlahnya tak sedikit untuk biaya persiapan kelahiran kedua buah hatinya.


"Mas, box bayinya enggak satu saja belinya?" Ujar Nisa. Nisa pikir takut mubazir. Dia ingin membeli yang ukuran jumbo, agar bisa cukup untuk dua anak sekaligus. Mengirit biaya juga.


"Beli dua saja, sayang. Kasihan kembar, nanti tidurnya sempit. Enggak bisa bebas. Semakin lama nanti 'kan mereka semakin besar. Lagi pula, aku ada uangnya kok. Tak apa ya beli dua saja. Kalau stroller baru beli yang untuk dua anak, jadi sekalian dorongnya. Pokoknya kamu tak usah memikirkan masalah biaya ya! Untuk urusan anak, biar aku yang pikirkan. Uang kamu untuk kamu. Uang aku untuk kamu dan anak-anak," jelas Abi membuat Nisa tersenyum.


Abi memang suami idaman, karena Reynaldi pun dulu tak seperti Abi. Nisa hanya diberi jatah setiap bulannya. Reynaldi yang mengaturnya, makanya dia bisa memberikan uang untuk Viona, dan bisa berfoya-foya dengan Viona


"Coba kamu cek lagi! Kira-kira masih ada yang kurang enggak? Biar sekalian pas ada di sini," ujar Abi.

__ADS_1


Nisa mencoba mencocokkan barang-barang yang dibeli dengan catatan yang dia buat. Semua sudah dibeli. Bahkan untuk jumlah baju yang dibeli lebih banyak.


"Sudah, tak apa-apa! Biar bisa ganti-ganti. Aku suka dan Khanza juga suka," ucap Abi.


Semua perlengkapan kembar sudah di beli. Ada beberapa yang nantinya di kirim ke apartemen, karena Abi repot membawanya. Lagi pula, mereka akan lanjut untuk makan bersama, dan belanja ke supermarket. Nisa ingin sekalian membeli buah, susu ibu hamil, dan kebutuhan rumah lainnya.


"Kalian mau makan apa?" Tanya Abi kepada istri dan anaknya.


"Kakak mau apa? Bunda si apa saja. Ikut kakak saja," sahut Nisa. Kedua orang tuanya mengikuti keinginan Khanza.


Khanza tampak berpikir, makanan apa yang dia inginkan. Hingga akhirnya, pilihan dia jatuh pada steak. Abi dan Nisa tentu saja menuruti keinginan Khanza. Kini mereka sudah berada di restoran steak.


Meskipun nantinya sudah ada kembar, mereka akan selalu menyayangi Khanza. Nisa dan Abi akan selalu mendukung dalam mengurus ketiga anak mereka.


Makanan sudah datang, mereka langsung menikmatinya. Sang ART tampak senang, karena bisa mencoba makanan steak. Dia juga senang bekerja dengan Nisa dan Abi, karena Nisa dan Abi adalah contoh majikan yang tak sombong. Yang tak bertindak semena-mena.


Setelah selesai makan, mereka melanjutkan ke supermarket.


"Sayang, aku sama Khanza ke toko buku ya! Kamu tak apa-apa 'kan di temani bibi?" Ujar Abi dan Nisa mengiyakan.


"Ya, sudah! Bi, tolong titip ibu ya! Jangan angkat yang berat-berat! Jalannya hati-hati ya, Yang!" Pesan Abi.


Abi ingin membelikan peralatan sekolah atau apapun yang Khanza inginkan. Mumpung mereka lagi ke Mall. Nanti, kalau Nisa sudah melahirkan. Mereka akan menahan diri untuk tidak berpergian dulu, sampai kembar lumayan besar.

__ADS_1



__ADS_2