Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Khanza sayang Papa Abi


__ADS_3

"Siapa Mas yang telepon?" Tanya Nisa kepada sang suami, yang baru saja mengakhiri panggilan telepon dengan seseorang.


"Oh itu, telepon dari rumah sakit. Dia memberi kabar, kalau besok mau ada acara penyambutan aku sebagai dokter di rumah sakit situ. Ada acara potong tumpeng saat makan siang, aku di suruh datang jam 11.00 siang. Kamu besok ikut ya ke rumah sakit, biar teman-teman sejawat kenal sama istri aku," jelas Abi dan Nisa mengiyakan. Besok dia akan mendampingi sang suami saat acara.


Besok, Khanza sudah mulai sekolah. Dia sekolah jam 07.00 pagi sampai dengan jam 15.30 WIB. Besok Nisa dan Abi yang akan mengantarkan Khanza ke sekolah. Karena Abi masih belum mulai praktek, dia hanya datang saat acara peresmian.


"Kita cari sarapan yuk, sekalian jalan-jalan!" ajak Abi kepada istri dan juga Khanza.


"Sekalian antar aku ke pasar ya Mas, aku mau sekalian nyetok sayur dan lauk untuk beberapa hari. Aku takut malas keluar," ujar Nisa.


"Iya. Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Abi. Mereka langsung bersiap-siap untuk berangkat. Meskipun kehamilan Nisa yang sekarang tak bermasalah, Nisa tetap memperhatikan kondisi kehamilannya. Dia tak mau bekerja terlalu capek.


Kini ketiganya sudah dalam perjalanan mencari tempat sarapan, mereka pergi menggunakan mobil Abi. Kini mereka sudah sampai di tempat kuliner yang letaknya tak jauh dari apartemen mereka tinggal.


"Khanza sama Bunda mau makan apa?" Tanya Abi kepada kedua wanita yang dia cintai.


"Makan soto ayam suroboyo enak kali ya? Segar pakai jeruk nipis," sahut Nisa.


"Aku mau bubur ayam aja Pa," sahut Khanza.


Abi langsung memesan dua porsi soto ayam untuk dia dan juga Nisa dan satu porsi bubur untuk Khanza. Abi senang melihat Nisa makan dengan lahap.

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka langsung pergi ke pasar. Abi sempat bertanya ke pedagang tentang lokasi pasar. Kini mereka sudah sampai di pasar. Abi dan Khanza ikut turun menemani Nisa berbelanja. Nisa ingin membeli bahan-bahan pokok untuk memasak selama 1 minggu.


Besok sang ART sudah sampai di Jakarta. Karena Nisa juga harus sudah mulai bekerja di rumah, memantau usahanya. Setelah semuanya sudah di beli, mereka memutuskan untuk kembali ke apartemen.


"Pa, Khanza boleh renang enggak si di situ?" Tanya Khanza. Mereka sudah dalam perjalanan pulang ke apartemen.


"Boleh dong. Kita 'kan sekarang penghuni di situ. Jadi, bebas kalau mau berenang," sahut Reynaldi.


Abi dan Khanza berniat berenang setelah sampai di apartemen. Untuk hari ini Abi juga tak mengizinkan Nisa untuk masak. Abi ingin mengajak Nisa dan Khanza ke Mall. Sudah cukup lama Nisa dan Khanza menginjakkan kakinya di Jakarta.


Ketiganya baru saja sampai di apartemen. Khanza membantu sang bunda merapihkan barang-barang belanjaan ke kulkas dan juga tempatnya. Setelah itu Khanza langsung memakai pakaian renang. Abi juga langsung memakai boxer dan kaos dalaman putih yang tipis.


"Bunda nanti nyusul aja. Papa kesana duluan ya sama Khanza," ujar Abi dan Nisa mengiyakan. Khanza dan Abi terlihat kompak. Abi sangat menyayangi Khanza.


Abi terlihat sedang mengajarkan anak tirinya berenang. Sesekali Abi pun terlihat berenang. Sejak dulu Abi memang menyukai olahraga renang. Kepuasan tersendiri bagi Abi, karena bisa memberikan tempat yang nyaman untuk keluarganya. Meskipun dia harus mengeluarkan nominal dua kali lipat dari menyewa sebuah rumah.


"Terima kasih ya Allah, karena engkau memberikan aku dan Khanza kebahagiaan yang tak terhingga. Aku sangat bersyukur," ucap Nisa dalam hati. Dia ikut bahagia, melihat Khanza yang bisa tersenyum bahagia.


"Anak kamu sudah bertambah besar Mas, tetapi tak sedikitpun kamu mengingatnya. Jangan salahkan Khanza, jika suatu saat nanti dia tak mempedulikan kamu. Karena kamu yang buat dia menjauh dengan kamu," Nisa bermonolog dalam hati.


Setelah puas berenang, mereka kembali ke unit apartemennya. Namun sebelumnya, mereka memilih mengganti pakaiannya dahulu. Agar tak basah, jika kembali ke tempat mereka.

__ADS_1


"Kakak besok sudah mulai sekolah. Persiapkan dari sekarang ya perlengkapannya," ujar Nisa kepada sang anak. Nisa berusaha untuk selalu memperhatikan Khanza, di tengah-tengah kesibukannya berkarier.


Siang ini Abi mengajak Nisa dan Khanza ke Mall, mengajak makan di Mall. Menuruti keinginan mereka. Abi memanfaatkan waktunya selama meraka di Jakarta. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka sudah terlihat rapi.


"Khanza masih enggak menyangka, kalau Khanza bisa ke Jakarta lagi," ucap Khanza.


"Khanza mau bertemu Ayah Rey enggak? Kalau mau, nanti Papa antarkan sama Bunda," ujar Abi. Dia ingin Khanza tak membenci ayah kandungnya, meskipun dia juga menyayangi Khanza.


"Tidak! Ayah Rey saja tak ingat sama aku. Mungkin dia sudah melupakan aku. Biarkan saja. Lagipula sekarang aku sudah punya Papa yang sangat menyayangi aku," sahut Khanza.


"Iya. Tapi, Ayah Rey tetap menjadi ayah kandung Khanza. Khanza tak boleh melupakannya," Abi mencoba memberi pengertian.


Mereka kini sudah sampai di Mall. Perbincangan mereka harus terhenti. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka bertiga masuk ke dalam Mall.


"Khanza sama Bunda ada yang mau di beli enggak?" Tanya Abi. Keduanya menggelengkan kepalanya kompak.


"Ya sudah. Bunda mau makan apa? Papa ingin menuruti permintaan Bunda, mumpung papa masih libur," ujar Abi.


Nisa memutuskan untuk makan ramen, dia ingin makan yang pedas. Khanza pun memesan ramen. Dia menyukai makanan pedas, seperti sang Bunda. Sedangkan Abi justru memilih paket bento dan juga beef teriyaki. Kini mereka bertiga sedang menikmati makan bersama.


Setelah selesai makan. Abi mengajak Khanza ke tempat arena bermain, untuk bermain bersama. Keduanya terlihat begitu kompak. Tawa ruang terpancar dari wajah keduanya. Sedangkan Nisa lebih memilih untuk duduk dan memperhatikan suami dan anaknya bermain bersama.

__ADS_1


"Tak ada rasa bahagia, selain aku bisa melihat kalian berdua begitu kompak. Terima kasih sudah menerima Khanza seperti anak kandung sendiri. Terima kasih sudah menyayangi Khanza," ucap NIsa dalam hati.



__ADS_2