
"Wajah kamu pucat banget. Apa kamu sudah periksa ke dokter? Kalau belum, biar aku antar ke dokter hari ini," ucap Reynaldi.
Mereka baru saja selesai sholat subuh. Reynaldi memandang wajah sang istri, saat Melani mencium tangannya. Melani akan berusaha menjadi istri yang baik, untuk Reynaldi.
"Tidak usah! Nanti juga akan membaik. Aku hanya butuh istirahat saja, kamu tak perlu khawatir! Aku minta tolong sama kamu, tolong handle dulu perusahaan sampai kondisi aku benar-benar pulih!" ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.
Tiba-tiba saja kepala Melani terasa sakit. Rasa sakit di kepalanya semakin hebat, bahkan dia hampir pingsan. Keringat dingin bercucuran membasahi wajah. Reynaldi langsung menggendong tubuh Melani, dan meletakkan Melani ke ranjang.
Melihat kondisi sang istri seperti itu, Reynaldi menjadi merasa bersalah. Mungkin, salah satu alasan Melani seperti itu karenanya. Masih dia ingat, saat Melani mendatangi rumahnya untuk meminta maaf kepadanya, dan memohon agar Reynaldi mengurungkan niatnya untuk bercerai. Namun, Reynaldi saat itu menolak Melani mentah-mentah. Dia begitu sakit hati dengan Melani.
Hal itu yang membuat kehidupan Melani menjadi tak karuan. Pola hidupnya menjadi kacau. Reynaldi baru melihat titik lemah sang istri. Sedikit banyak, dirinya sangat tahu sifat sang istri. Melani seorang pekerja keras, tak kenal lelah. Dia selalu bersemangat, sehingga dia bisa menjadi wanita yang sukses. Tapi saat ini, dia melihat sang istri yang begitu tak berdaya.
"Maafkan aku! Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Andai aku dulu memaafkan kamu, pasti hidup kamu tak seperti ini. Semoga kamu bisa segera sehat kembali. Aku ingin melihat semangatnya kamu seperti dulu. Aku merasa kagum dengan semangat kamu, bahkan aku seorang laki-laki kalah denganmu," ungkap Reynaldi.
Melani tampak tersenyum begitu manis. Dia terlihat bahagia, meskipun wajahnya tak secerah dulu. Namun, hal itu tak mengurangi kecantikannya. Melani senang, karena akhirnya dia bisa bersatu kembali dengan Reynaldi. Rasa cintanya kepada Reynaldi, tak bertepuk sebelah mata. Banyak laki-laki yang mencoba memilikinya. Tapi, hanya Reynaldi yang mampu menggetarkan hatinya. Saat mereka bertemu.
"Kamu tak salah! Apa yang kamu lakukan kepadaku, wajar. Kesalahan aku kepadamu begitu banyak, kamu pantas membalasnya. Aku juga ingin meminta maaf kepadamu, kalau selama ini aku sering kalo menyakiti hati kamu. Tak menghargai kamu sebagai seorang suami. Aku sudah sadar dengan apa yang aku lakukan dulu kepadamu. Aku akan berusaha untuk berubah, menjadi istri yang baik untuk kamu. Terima kasih sudah memberikan kesempatan untuk kedua kalinya," sahut Melani.
__ADS_1
"Iya, aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu. Kita mulai semuanya dari awal. Anggap saja, kemarin itu adalah tahapan kita untuk saling mengenal. Cepat sembuh ya istriku, aku mencintai kamu," ucap Reynaldi sambil melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening Melani.
Melani merasa terharu, dia tampak meneteskan air matanya. Mereka memutuskan untuk memiliki momongan. Melani berharap, dia segera sehat kembali. Agar dia bisa program kehamilan. Mengingat dirinya saat ini sudah berusia 35 tahun, dia khawatir sulit untuk hamil. Terlebih, kehidupannya masa lalunya begitu buruk. Dirinya kerap merokok dan minum-minuman keras. Pola kehidupannya pun tak teratur.
"Istirahatlah yang cukup! Agar kamu segera sehat kembali," ucap Reynaldi dan Melani mengiyakan.
"Aku siap-siap dulu ya untuk kerja. Kamu makan di kamar saja ya? Aku mau meminta bibi mengantarkan makanan ke kamar," Reynaldi berkata lagi kepada Melani.
"Tidak, kita makan di bawah saja! Aku kuat kok. Aku ingin menemani kamu sarapan, dan mengantarkan kamu sampai kamu pergi," sahut Melani.
Reynaldi turun ke lantai bawah, meminta sang ART menyiapkan sarapan untuk sang istri, dan mengantarkan makanan ke kamar. Setelah itu, Reynaldi kembali ke kamar, dan langsung mandi. Agar dia bisa langsung berangkat kerja, setelah sang istri selesai makan.
"Aku kangen," ungkap Melani dengan malu-malu, saat melihat Reynaldi yang baru saja keluar dari kamar mandi, dan hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Reynaldi tampak tersenyum, dan berjalan mendekati sang istri. Kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Sabar ya, Sayang! Sekarang, kamu fokus dengan kesehatan kamu dulu! Setelah kamu sehat, kita bisa langsung buat dede bayi," ucap Reynaldi sambil mengusap kepala Melani dengan lembut. Jika seperti itu, Melani terlihat manja kepada Reynaldi.
Reynaldi langsung mencium bibir Melani. Menunjukkan rasa cintanya kepada Melani. Ini pertama kalinya mereka bermesraan kembali, setelah kemarin sempat terpisah. Dia ingin membuktikan kepada sang istri, kalau dirinya sudah tak marah lagi, dan sudah menerima sang istri apa adanya. Agar sang istri merasa tenang, tak merasa bersalah terus menerus.
__ADS_1
Ciuman mereka harus terhenti, karena suara ketukan pintu, dan suara sang ART memanggilnya. Reynaldi langsung berjalan membuka pintu kamar, dan mengambil nampan yang berisi makanan untuk istrinya. Reynaldi meletakkan terlebih dahulu di meja yang berada di kamarnya, karena dia hendak memakai pakaiannya dulu. Setelah selesai berpakaian, dia langsung mengambil nampan itu, dan duduk di tepi ranjang.
Dia membantu sang istri untuk duduk, kemudian mulai menyuapi sang istri makan. Reynaldi menyuapi sang istri dengan telaten. Melani sangat bahagia, karena memiliki suami yang perhatian kepadanya.
"Hari ini kamu tak usah ke kantor ya! Aku masih ingin di temani kamu. Kamu juga 'kan harus menemui mama kamu di rumah sakit. Semoga Mama Ratih bisa segera sadar, dan kita bisa berkumpul bersama. Aku ingin menjadi menantu yang baik, tak seperti dulu," ungkap Melani.
"Yakin, aku tak usah ke kantor?" Reynaldi bertanya untuk memastikan kembali.
"Iya. Nanti juga kalau ada yang penting, mereka pasti menghubungi aku. Semoga saja aku bisa segera sehat, kalau di temani kamu terus. Aku jadi lebih semangat untuk sehat," ucap Melani sambil terkekeh. Reynaldi senang, melihat perubahan besar sang istri.
"Ya sudah, kalau kamu maunya aku seperti itu. Demi istriku tercinta, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Kamu harus makan yang banyak, agar cepat sehat," ucap Reynaldi kepada sang istri.
"Tapi, perutku mual. Aku belum bisa makan banyak. Kenapa aku seperti ini ya? Masa iya, kalau aku seperti ini karena sedang hamil? Semoga saja tidak, aku tak ingin hamil anak Vino. Karena waktu itu, aku melakukan dengannya juga," ungkap Melani. Wajahnya penuh rasa bersalah.
Melani berharap, hal terburuk itu tak akan pernah terjadi. Dia hanya ingin memiliki anak dari suaminya. Dia sangat takut kehilangan Reynaldi. Reynaldi tampak terdiam, dia menjadi teringat kembali kejadian waktu itu. Hatinya terasa begitu sakit, kala mengingat apa yang terjadi waktu itu.
"Kalau aku sedang hamil gimana? Aku berharap, hal itu tak terjadi. Sampai aku haid, dan melakukannya hanya denganmu," ungkap Melani yang kini menatap lekat wajah suaminya. Netra mereka saling bertemu. Reynaldi masih terdiam, membuat Melani merasa begitu bersalah.
__ADS_1