
"Selalu saja, wanita itu yang menang. Aku yang Ibunya saja selalu kalah. Semenjak menikah dengan wanita itu, selalu saja istrinya yang diprioritaskan," gerutu Mama Ratih.
Nisa seperti mendengar suara mobil suaminya. Sampai-sampai dirinya ingin melihat kebenarannya, dengan menyibak gorden kamarnya.
"Benar itu suara mobil Mas Reynaldi. Tetapi kok belum naik ke kamar dari tadi?" Membuat Nisa bertanya-tanya. Ngapain dulu suaminya di bawah.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk turun dan mencari tahu. Benar saja, saat itu sang suami sedang beradu pendapat dengan mamanya.
"Mas, mau makan sekarang atau nanti?" tanya Nisa. Hal itu membuat Mama Ratih merasa kesal, karena sang anak langsung pergi meninggalkan dirinya.
Seperti biasa, Nisa selalu melayani suaminya dengan baik. Menyiapkan semua keperluan suaminya. Meskipun perutnya terasa lapar saat di jalan, dia lebih memilih makan di rumah, dan makan masakan sang istri.
Khanza pun ikut turun ke bawah karena Bunda dan Ayahnya di bawah. Kini dirinya menemani sang ayah makan di bawah. Pemandangan itu membuat Mama Ratih merasa tak suka. Dia benci melihat Rey harmonis dengan keluarganya.
"Ayah, aku senang. Karena kata Bunda, Sabtu ini aku menginap di rumah Kakak Nabila," ucap Khanza.
Ucapan Khanza, membuat mata Mama Ratih membulat dengan sempurna. Dia menguping percakapan anak, cucu, dan menantunya.
"Jadi, Reynaldi hanya pergi berduaan saja sama si Nisa? Tak bisa dibiarkan ini, kesempatan dia bikin anak," gumam Mama Ratih.
Dia berniat untuk menghubungi Viona, menyuruh Viona untuk membatalkan rencana kepergian Nisa dengan Reynaldi.
"Alhamdulillah, ya, Yang? Semua dipermudah. Khanza juga mengerti. Kita bisa berduaan," ujar Reynaldi yang kini memeluk tubuh istrinya. Ucapannya, seakan dirinya protes. Tak seperti orang pacaran yang bisa berduaan terus, menjadi hal pembeda saat dirinya dengan Viona.
Ternyata Viona masih saja penasaran, dia mencoba menghubungi Reynaldi. Namun, Reynaldi menolaknya. Dia mengatakan kalau dirinya saat ini sedang rapat. Reynaldi malas untuk melayani, dia yakin kalau Viona akan terus merengek untuk dikabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Brengsek! Bukannya diangkat, dia justru blokir nomor telepon gue. Cari ribut ini orang. Huh, selalu saja aku harus mengalah," gerutu Viona.
"Maafkan aku Vi, aku terpaksa blokir kamu. Aku tak ingin mendengar kamu menyuruh aku membatalkan rencana aku sama Nisa. Aku sudah berjanji kepadanya, aku tak ingin Nisa dan Khanza kecewa," ucap Reynaldi dalam hati.
Reynaldi yakin kalau saat ini pasti Viona sedang mengamuk, karena nomornya dia blokir. Reynaldi sangat tahu sifat Viona.
"Apa dia blokir kamu Vi? Benar-benar keterlaluan anak itu. Bukan kamu saja yang kesal Vi, sebelum Mama menyuruh kamu. Mama sempat meminta dia untuk mengantarkan Mama ke Bandung. Namun, hasilnya tetap sama. Dia menolaknya. Giliran sama istrinya, nurut banget," ucap Mama Ratih.
Mereka berdua tak berkutik, tak bisa menghalangi kepergian Reynaldi dengan Nisa. Mau tak mau mereka harus menerimanya.
Hari yang di nanti telah tiba. Reynaldi, Nisa, dan Khanza sudah bersiap-siap untuk berangkat. Sebelum pergi berbulan madu, Reynaldi dan Nisa akan mengantarkan anaknya terlebih dahulu ke rumah sang Kakak. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar dua jam, rumah sang kakak cukup jauh dari rumah mereka tinggal.
"Nanti, Khanza jangan rewel ya di sana! Khanza 'kan sebentar lagi mau jadi Kakak," ujar Reynaldi.
"Benar Ayah? Berarti di perut Bunda, sudah ada adik bayi dong. Halo Adik, ini Kakak," ucap Khanza sambil menciumi perut bundanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya sampai di rumah sang kakak. Kak Rania langsung menyambut kedatangan mereka.
"Kak, maaf ya! Nisa jadi merepotkan Kakak," ucap Nisa.
"Tidak apa-apa, Nis. Kakak justru senang kok, Nabila juga sudah kangen banget sama Khanza. Tuh lihat mereka langsung main, senang banget mereka," ujar sang kakak.
"Terima kasih ya Kak, sudah mau di titipkan Khanza," ujar Reynaldi.
Hubungan Reynaldi dengan keluarga Nisa sangat baik. Bahkan mereka kerap memuji sifat Reynaldi yang selalu bersikap romantis kepada adiknya. Reynaldi juga sangat perhatian kepada Kakak iparnya dan juga Ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ya sudah sana jalan! Nanti jalannya tambah siang lagi. Semoga lancar ya bikin dede bayinya," ujar Kak Rania membuat wajah Nisa memerah menahan malu.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju Puncak. Puncak menjadi pilihan untuk mereka berbulan madu kedua. Reynaldi tampak mesra kepada istrinya. Dia kerap menggenggam tangan istrinya, dan memandang wajah istrinya dengan penuh cinta.
"I Love You," ucap Reynaldi membuat Nisa tersenyum. Hatinya merasa bahagia. Perjuangannya selama ini tak sia-sia untuk mempertahankan pernikahan.
Sesekali Reynaldi tampak mencubit pipi dan dagu istrinya yang begitu menggemaskan. Memang, jika dibandingkan saat bersama Viona sangat berbeda. Mereka lebih berani melakukan aksi yang terbilang nekat. Berciuman sambil menyetir mobil, Viona memanjakan miliknya sambil menyetir, dan bahkan melakukan hubungan intim di dalam mobil.
Mereka kini sudah sampai di sebuah perkebunan teh. Menikmati pemandangan dan waktu berduaan. Mereka tampak mesra, seakan dunia milik berdua. Mereka juga kerap mengabadikan momen kebersamaan mereka.
"Satu untuk selamanya. Aku ingin menua bersama kamu, membesarkan anak-anak kita bersama," ucap Reynaldi dan Nisa mengiyakan.
"Aku mohon lupakan kenangan buruk dulu, aku janji tak akan mengulanginya lagi. Kita sambut hari yang baru, bahagia bersama," ujar Reynaldi sambil menggenggam tangan istrinya.
Berbeda halnya dengan Nisa dan Reynaldi yang sedang berbahagia, menikmati momen kebersamaan dirinya. Viona justru sedang mengamuk tak jelas. Viona sangat marah, karena sampai saat ini ponsel Reynaldi masih tak aktif.
"Mentang-mentang kamu sedang sama istri kamu, kamu lupakan aku!" umpat Viona, bahkan dirinya terlihat mengepalkan tangannya.
Apa dia lupa saat Nisa ke Yogyakarta? Reynaldi melakukan hal yang sama kepada Nisa. Kemarin dia bisa tersenyum puas dan bahagia, karena Reynaldi lebih membela dia. Tak ingin membuat dia marah, dan saat ini dia merasakan seperti Nisa waktu itu.
Setelah menikmati udara segar Puncak, dan makan siang. Mereka memutuskan untuk ke hotel yang sudah Reynaldi pesan. Saat itu jam menunjukkan pukul 15.00 WIB.
Nisa terkejut, dan bahagia karena mendapatkan kejutan dari suaminya. Suaminya memesan dekorasi kamar yang sangat indah, bertaburan kelopak bunga mawar dan juga bunga-bunga yang indah.
"Ya ampun Mas, sampai seperti ini segala. Kita ini 'kan bukan lagi malam pertama," ujar Nisa, yang tak habis-habisnya menyulam senyuman.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Karena aku ingin spesial, memberikan kejutan untuk kamu. Semoga kamu menyukainya," ucap Reynaldi.
"Terima kasih ya Mas, aku senang sekali," ucap Nisa sambil melabuhkan kecupan di kedua pipi suaminya.