Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kemarahan Reynaldi


__ADS_3

Semenjak kepergian sang anak, Nisa menjadi sosok yang pendiam dan juga sering kali marah tak jelas. Seakan dirinya tak terima atas apa yang terjadi. Dirinya seakan dendam kepada ibu mertuanya.


"Iya, aku mengerti perasaan kamu. Aku pun sangat geram, saat mendengar apa yang mama lakukan kepada kamu. Hingga kita harus kehilangan anak kita. Aku akan menegurnya, kamu sabar ya! Kasihan Khanza kalau kamu terus menerus seperti ini, dia menjadi ketakutan. Padahal dia tak salah apa-apa," Reynaldi mencoba memberi pengertian kepada istrinya. Nisa menjadi tak bisa mengontrol amarahnya.


Hari ini Nisa sudah diperbolehkan pulang ke rumah, hanya tinggal tahap pemulihan saja. Namun, psikis Nisa saat ini terganggu. Reynaldi berusaha untuk sabar menghadapi sang istri yang kerap mengamuk secara tiba-tiba.


Selama Nisa di rawat di rumah sakit, tak sekalipun Mama Ratih menengok dirinya. Bunda Anita kemarin sempat datang menengok sang anak, memberikan kekuatan untuk sang anak. Namun, hari ini dia harus kembali ke Yogya. Mungkin jika Nisa sudah memiliki rumah, pasti ceritanya akan berbeda. Bunda Anita merasa tak nyaman jika menginap di rumah mertuanya Nisa.


"Nis, kamu harus kuat ya! Semua itu sudah diatur Allah. Kamu harus mengikhlaskannya! Kasihan Khanza, dia juga butuh kamu. Dia jangan jadi korban. Bunda pulang dulu ya. Semoga kamu lekas sehat. Memang semua ini bukan suatu hal yang mudah untuk kamu, tetapi mau tak mau harus kamu lalui. Kamu harus tetap semangat ya Sayang," ujar Bunda Anita dan Nisa menganggukkan kepalanya. Meskipun dirinya belum tahu apa yang terjadi nanti.


Mereka sudah dalam perjalanan pulang, Reynaldi merasa kasihan melihat kondisi istrinya saat ini. Tak ada keceriaan di wajah Nisa, dirinya terlihat rapuh.


Mobil yang membawa mereka sudah sampai di halaman rumah Reynaldi. Dengan sabar Reynaldi membantu sang istri jalan, untuk sementara waktu Nisa akan tidur di kamar tamu yang berada di bawah.


"Sayang, kamu tidurnya di sini dulu ya untuk sementara waktu sampai kamu sudah kuat turun naik tangga," ujar Reynaldi lembut dan Nisa menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Reynaldi menatap sinis wajah mamanya, yang menatap istrinya istrinya sinis. Hati Reynaldi sudah merasa panas, melihat sikap mamanya yang tak pernah berubah.


"Ma, ada hal yang ingin Rey bicarakan sama mama. Ayo kita mengobrol di taman belakang," ajak Reynaldi kepada sang mama. Mama Ratih yakin kalau sang anak akan membahas masalah yang terjadi dengan Nisa.


Mama Ratih mencoba untuk bersikap biasa, menghadapi sang anak. Dia yakin pasti terjadi sesuatu dengan cucu yang tak pernah dia anggap. Karena Reynaldi belum bicara sama mamanya, kalau anaknya meninggal dalam kandungan, kemarin-kemarin dia lebih fokus sama Nisa di rumah sakit.


"Ma, sebelumnya Rey minta sama mama. Jujur Rey sangat kecewa dengan mama. Kenapa sih Ma, Mama selalu saja mengusik Nisa. Berkali-kali Rey jelaskan kepada mama, kalau kandungan Nisa bermasalah. Mengapa mama tak pernah mau dengar ucapan Rey? Mama tau tidak? Gara-gara ulah mama, Rey dan Nisa harus kehilangan anak kami. Anak yang sembilan bulan kami nantikan, anak yang Rey sangat inginkan. Mengapa mama begitu tega kepada aku? Dimana letak perasaan mama?" ungkap Rey yang sudah bergelimang air mata. Hatinya terasa sakit, kala mengingat dirinya saat menguburkan anak yang tak berdosa, yang harus pergi meninggalkan dirinya tanpa bisa melihat dunia sebelumnya.


Mama Ratih tampak diam, tak ada kata maaf atau penyesalan dari mulutnya. Membuat Reynaldi bertambah kesal.


"Tidak! Mama tak mau kamu pergi dari rumah ini. Kamu hanya menjadi milik mama. Kalau wanita itu yang pergi dari rumah itu, silahkan saja! Justru bagus. Tetapi kamu tetap disini bersama mama," akhirnya Mama Ratih membuka omongan.


"Ma, Rey sudah menikah. Tolong mama pahami ini! Lagi pula, meskipun Rey sudah menikah dengan Nisa. Rey tetap menyayangi mama, mama adalah cinta pertama aku," sahut Rey yang langsung memeluk tubuh sang mama.


Mama Ratih tampak menangis, entah mengapa dia takut Nisa mengambil Rey dari hidupnya. Suatu ketakutan yang berlebihan dan tak jelas. Padahal Nisa tak pernah melakukan hal itu. Mungkin, dia merasa kalau kasih sayang Reynaldi tercurah kepada Nisa, dan kecemburuan yang berlebihan membuat dia memiliki penyakit hati.

__ADS_1


"Rey, jangan tinggalkan Mama! Mama enggak mau kehilangan Rey. Hanya Rey yang mama miliki," ungkap Mama Ratih. Semenjak dia kehilangan Papa Faisal, Mama Ratih semakin posesif kepada sang anak hingga penyakit hatinya kepada Nisa semakin menjadi.


"Makanya Mama berubah ya! Tolong terima Nisa menjadi menantu mama. Kasih sayang Rey kepada mama tak akan berubah. Rey menyayangi kalian, baik mama, Nisa, maupun Khanza. Jika mama tak juga berubah, Rey akan membawa anak dan istri Rey dari sini," ancam Rey dan Mama Ratih menganggukkan kepalanya. Entah dia benar-benar melakukannya atau hanya bersandiwara menyenangkan hati anaknya.


"Rey, ingin lihat perubahan mama," ucap Rey lagi sebelum dia kembali kepada istrinya.


Setelah obrolan dengan sang mama selesai, Rey kembali ke kamar istrinya. Menemani istrinya. Ternyata saat itu Nisa sedang menangis. Rey merasa terpukul melihat kondisi istrinya.


"Ya Allah mengapa istriku yang harus menanggung semua ini, karena kesalahan ya aku perbuat dulu kepadanya? Tolong kembalikan keceriaannya seperti dulu. Aku merindukan sosok istriku yang dulu. Aku tak ingin dia menjadi korban, karena perbuatan yang aku lakukan," ucap Rey dalam hati.


Rey tampak memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Maafkan aku sayang," ucap Rey. Rey menarik napas panjang, dia tak ingin ikut menangis. Dia harus berusaha tegar di depan istrinya.


Kondisi Nisa, belum juga berubah. Namun, Reynaldi selalu sabar mengurus istrinya. Setia mendampingi istrinya. Bahkan Reynaldi membawa sang istri ke psikiater agar istrinya kembali normal. Kondisi Nisa seperti ini, membuat Khanza harus diurus oleh Bi Surti.

__ADS_1


Reynaldi tak tahu, kalau ibunya masih saja tak berubah saat dia tak ada. Hal itu yang membuat Nisa semakin menderita. Mungkin Mama Ratih berniat ingin membuat Nisa sakit jiwa hingga harus di rawat di rumah sakit jiwa dan anaknya akan meninggalkan Nisa. Dia berbohong kepada Reynaldi.


__ADS_2