Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pulang Kampung


__ADS_3

"Mas, aku ingin pulang kampung. Entah mengapa perasaanku tak enak dari kemarin. Aku takut terjadi sesuatu sama Bunda," pinta Nisa. Wajahnya terlihat sedih.


"Kamu itu sedang besar. Sebentar lagi akan melahirkan. Kalau nanti lahir di jalan bagaimana? Bagaimana kalau nanti si dede sudah lahir dan sudah agak besar, sekalian kita liburan," ujar Reynaldi. Dia mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


Namun, Nisa tetap bersikukuh. Karena dirinya terus kepikiran bundanya di kampung. Terlebih sang bunda di sana tinggal sendiri. Karena kedua anaknya hidup merantau ke Jakarta, dan menetap di Jakarta.


"Ya sudah, aku akan coba ambil cuti. Semoga disetujui. Mas tak tega kalau kamu naik kereta dalam keadaan hamil besar dan juga membawa Khanza," ungkap Reynaldi.


Sesampainya di kantor, Reynaldi mencoba mengajukan cuti. Untungnya pihak kantor menyetujuinya. Reynaldi mengambil cuti selama empat hari untuk mengantarkan istrinya ke Yogyakarta.


Reynaldi baru saja sampai rumah, dan saat itu ada sang Mama sedang duduk bersantai. Reynaldi langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya. Dia berniat memberitahu rencana kepergian dirinya ke Yogyakarta, untuk mengantarkan istrinya pulang kampung.


"Ma, besok aku sama Nisa mau ke Yogyakarta. Nisa mau menengok Bundanya," ujar Reynaldi.


Meskipun Mama Ratih selalu bersikap tak suka dengan istrinya. Reynaldi tetap menghargai mamanya.


"Sudah tahu lagi hamil, masih saja tak tahu diri. Perjalanan ke sana 'kan jauh, dan dia sudah mau melahirkan. Kalau nanti mau melahirkan di jalan bagaimana? Sepertinya dia tak benar-benar menginginkan anak itu," sindir Mama Ratih.


"Makanya Ma, Rey akan ambil cuti selama 4 hari. Perjalanan dengan naik mobil sendiri 'kan bisa jalan pelan-pelan, kalau mules bisa langsung ke rumah sakit," jelas Reynaldi.


"Terserah kalian saja, urusan kalian," ucap Mama Ratih ketus. Dia selalu kesal tak jelas, jika sedang membahas masalah Nisa.


Nisa, yang mendengar percakapan mertua dan suaminya dari atas. Menjadi tak enak hati. Membuat dirinya menjadi serba salah. Sebenarnya, ada benarnya juga apa yang diucap mertuanya.


Nisa berniat menghubungi sang bunda, untuk mengetahui kondisi bundanya. Semoga kegelisahannya saat ini, hanya rasa rindunya kepada sang bunda.


"Assalamualaikum, Bun."


"Waalaikumsalam,"

__ADS_1


"Bunda bagaimana kabarnya? Bunda sehat 'kan?" tanya Nisa kepada sang bunda.


"Alhamdulillah Bunda sehat kok. Bagaimana kehamilan kamu yang sekarang? Kapan kamu akan melahirkan?" tanya Bunda Anita.


Nisa mengatakan, kalau kehamilan yang sekarang lebih manja. Dia lebih sering mengalami mual dan muntah, tak seperti saat hamil Khanza. Untungnya sang suami selalu berada di sampingnya, memberikan perhatian lebih kepadanya. Dia juga selama ini harus bedrest.


"Syukurlah, kalau Reynaldi kembali seperti dulu lagi. Bunda sangat senang mendengarnya. Semoga rumah tangga kalian, tidak ada masalah lagi. Amin," ucap sang bunda dan diaminkan oleh Nisa.


"Nisa juga senang mendengar Bunda sehat, semoga Bunda selalu dilindungi Allah, diberikan kesehatan, dan umur panjang," ungkap Nisa dan diaminkan oleh Bunda Anita.


Nisa mengakhiri panggilan dengan sang bunda, kala suaminya masuk ke kamar mereka.


"Kamu baru selesai telepon siapa?" tanya Reynaldi kepada sang istri.


"Oh itu, aku baru saja selesai telepon Bunda. Menanyakan kondisi dia saat ini. Alhamdulillah katanya Bunda sehat," ungkap Nisa.


Nisa mengurungkan niatnya untuk berangkat ke Yogyakarta, dia mengungkapkan kepada suaminya. Namun, Reynaldi mengatakan kalau dirinya sudah mengambil cuti untuk menemani istrinya pulang kampung.


"Tentu saja tidak, Sayang! Aku 'kan cinta sama kamu, selama ini aku melewatkan kesempatan aku untuk memberi perhatian ke kamu," ungkap Reynaldi, tentu saja membuat hati istrinya merasa senang.


Hingga akhirnya mereka tetap memutuskan untuk berangkat ke Yogyakarta.


"Ma, Rey pamit berangkat dulu ke Yogyakarta. Tak lama di sana. Paling tiga atau empat malam saja. Insya Allah Sabtu kami sudah kembali lagi," ujar Reynaldi sambil mencium tangan sang mama.


"Nisa juga pamit ya Ma," ucap Nisa. Namun sayangnya, sang mama mertua tak menerima uluran tangan dari menantunya. Seakan dirinya merasa jijik untuk berjabat tangan dengan menantunya.


Reynaldi hanya bisa mengelus punggung istrinya, untuk bersabar. Padahal Papa Faisal sudah berulang kali untuk memperingatkan istrinya, untuk tidak bersikap seperti itu.


"Enak tidak posisi seperti ini? Pokoknya aku ingin kamu senyaman mungkin," ujar Reynaldi.

__ADS_1


Nisa sengaja tak memberi kabar kepada sang bunda, dia ingin memberi kejutan kepada sang bunda. Khanza dan Nisa tampak senang menikmati perjalanan. Kali ini rasanya berbeda, tak seperti saat dirinya pergi naik kereta.


"Kita mampir makan siang dulu yuk, sekalian aku ingin istirahat dulu," ujar Reynaldi kepada istrinya.


Mereka akhirnya memilih berhenti dulu di rest area, untuk beristirahat dulu dan makan siang. Khanza meminta makan di restoran ayam kriuk yang berada di rest area.


"Khanza senang sekali bisa pulang kampung sama Ayah lagi. Kasihan Bunda, Yah. Waktu kita ke sana tanpa Ayah, Bunda banyak menangis selama di sana. Ayah jahat sih, selama kita di Yogyakarta. Ayah jarang sekali menghubungi kami," ungkap Khanza.


"Iya, maafkan Ayah ya Sayang! Ayah janji tak akan mengulangi kesalahan yang dulu. Apalagi sekarang sudah ada Dede di perut Bunda. Membuat Ayah semakin cinta sama Bunda dan juga kalian berdua," sahut Reynaldi di kala mereka menikmati makanan.


Nisa bersyukur karena suaminya benar-benar berubah seperti dulu lagi, dia sudah mendapatkan cinta suaminya lagi.


Setelah selesai makan, salat zuhur, dan beristirahat sejenak. Mereka melanjutkan perjalanan kembali menuju Yogyakarta. Mereka masih harus menempuh perjalanan sekitar 5 jam. Karena dari kota Yogyakarta, mereka masih memerlukan waktu 1,5 jam untuk sampai di rumah Bunda Anita.


Nisa dan Khanza tampak tertidur pulas, Khanza tidur di belakang karena Nisa sudah hamil besar.


"Bukan kalian saja yang bahagia, aku pun merasa bahagia karena bisa merasakan momen seperti ini. Aku masih memiliki kesempatan untuk merasakan bahagia kembali memiliki keluarga yang utuh," ucap Reynaldi dalam hati.


"Sama halnya dengan aku, kamu pun sudah hidup bahagia sama dia Ay. Mungkin takdir kita memang seperti ini, maafkan aku yang pernah menyakiti hati kamu," gumam Reynaldi dalam hati.


Pikirannya kini melayang kepada sosok wanita kedua yang sempat menemani dirinya selama beberapa bulan saja. Sekuat apapun mereka bertahan, jika tidak berjodoh. Pada akhirnya mereka tak bisa bersatu.


Nisa terbangun, dan melirik ke arah sang suami yang sedang fokus menyetir. Namun, dirinya curiga kalau saat ini sang suami sedang memikirkan Viona.


"Apa kamu masih memiliki perasaan dengan dia, Mas? Semoga, kamu tak pernah berpikir lagi untuk mengkhianati cinta aku, Mas," Nisa bermonolog dengan hatinya.


"Mas, ngantuk tidak?" tanya Nisa tiba-tiba, membuat lamunan Reynaldi terhenti.


"Alhamdulillah tidak, Yang. Sebentar lagi juga sampai kok. Kamu sudah bangun?" ujar Reynaldi.

__ADS_1


Sambil menunggu up, mampir yuk di karya Alinatasya21



__ADS_2