
Setelah pemecatan yang dialami Reynaldi. Rumah mereka berubah menjadi neraka. Tak ada keharmonisan antara Viona dan juga Reynaldi. Benar apa yang dikatakan banyak orang. Pernikahan tak selalu indah seperti saat berpacaran. Terlebih kini Reynaldi masih menjadi pengangguran.
"Ay, bangun! Kamu itu kerjaannya tidur terus. Bagaimana kamu bisa cepat dapat pekerjaan, kalau kamu terus santai-santai begini," protes Viona.
Viona mulai stres karena sang suami sudah dua minggu lamanya belum juga mendapatkan pekerjaan. Padahal, untuk urusan makan mereka masih tak kelaparan. Karena Reynaldi masih memiliki sedikit tabungan. Namun perlahan, tabungan itu lama kelamaan akan habis, jika tak memiliki pendapatan.
"Apa, kamu bilang aku santai-santai? Apa kamu tak lihat, kerja keras aku? Sampai-sampai aku kerap begadang karena harus melihat-lihat lowongan kerja di aplikasi online. Aku juga tak ingin seperti ini, aku bosan harus melihat kamu di rumah yang kerjaannya hanya mengoceh dan menyalahkan aku terus. Kamu juga dong cari pekerjaan, bantu suami! Jangan hanya maunya enaknya saja. Giliran suami menganggur, di perlakukan seperti ini. Nyesel aku menikahi kamu. Kalau aku dulu tak menjalin hubungan sama kamu lagi, pasti sampai saat ini aku masih sama Nisa dan anakku," cerocos Reynaldi membuat Viona membulatkan matanya dan merasa geram.
"Nisa ... Nisa ... Nisa lagi yang kamu bela. Apa kamu tak menyadari, siapa yang membuat kita seperti ini? Jika dia tak mengadu, kita tak akan seperti ini. Semua ini, gara-gara dia," cerocos Viona.
"Sudahlah terserah kamu saja! Aku malas membahasnya," sahut Reynaldi yang memilih untuk tidur.
Akhirnya Viona memilih untuk meninggalkan suaminya dan turun ke lantai bawah. Ternyata saat ini ada ibu mertuanya yang sedang menunggu dirinya di bawah.
"Vi, akhirnya kamu turun juga. Bisa tidak, tolong kerokin mama. Sepertinya mama masuk angin. Kepala mama juga dari tadi pusing," ucap Mama Ratih.
"Maaf Ma, aku tak pernah kerokin orang. Mama minta tolong sama Bi Surti saja," sahut Viona cuek. Setelah Viona menikah dengan Rey, Mama Ratih merasa Viona berubah sikapnya kepadanya. Terlebih saat Reynaldi menganggur.
Mama Ratih hanya diam, melihat sikap menantu pilihannya, yang tak peduli sedikitpun kepadanya. Tak sekalipun Viona memasakkan makanan untuknya. Karena bagi Viona, sudah ada Bi Surti.
Kehidupan mereka semakin terpuruk, pemecatan Reynaldi memberikan dampak yang buruk untuk kehidupan mereka. Bahkan hari ini Rey terpaksa memberhentikan Bi Surti, ART yang sudah mengabdi kepada keluarganya bertahun-tahun.
__ADS_1
"Bi, Rey minta maaf sama Bibi. Untuk saat ini Rey tak sanggup membayar gaji Bibi. Bibi istirahat dulu ya di kampung. Nanti, kalau Rey sudah bekerja lagi. Rey akan hubungi Bibi lagi, untuk bekerja kembali di sini," ucap Reynaldi. Inilah posisi terendah dalam hidup Reynaldi, bahkan untuk membayar gaji Bi Surti saja dia tak mampu. Karena dia pikir, uangnya lebih baik dia gunakan untuk makan dia, istrinya, dan juga mamanya.
Sebenarnya Viona tak terima Reynaldi memberhentikan Bi Surti. Karena mau tak mau dialah yang nantinya akan mengurus rumah, menggantikan Bi Surti.
"Sudah jangan mengeluh! Kalau kamu ingin memakai ART, ya kamu kerja dong biar bisa bayar gaji ART. Kondisi keuangan kita lagi tidak memungkinkan untuk memakai ART, untuk makan sehari-hari saja harus di irit yang penting makan. Dari pada mengoceh terus mulut kamu, lebih baik kamu sekarang ke tukang sayur belanja. Mulai hari ini kita berhemat, kamu harus masak setiap hari," ujar Reynaldi.
Rasanya, Viona ingin pergi meninggalkan Reynaldi. Menyesal menikah dengan Reynaldi, kalau akhirnya akan hidup susah seperti ini.
"Kenapa diam? Sudah sana pergi, aku lapar," tegur Reynaldi.
"Aku tak pernah masak, enggak tahu caranya masak. Ya sudah mama saja yang masak," ujar Viona yang kini beralih menatap mertuanya.
Dia pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya, dengan perasaan kesalnya.
"Gue mimpi apa ya? Mau hidup enak, malah menderita seperti ini. Kenapa sih hidup gue menderita terus. Punya suami enggak pernah bikin senang," cerocos Viona.
Viona sudah sampai di tukang sayur. Dia mulai memilih-milih sayuran. Sikap Viona menjadi pusat perhatian ibu-ibu di sana. Karakter Nisa dan Viona sangat berbeda. Viona terlihat angkuh, berbeda dengan Nisa yang ramah. Tetangga pun sedikit banyak tahu kalau rumah tangga Nisa dengan Reynaldi hancur karena hadirnya pelakor di rumah tangga mereka.
"Mba kok tega sih merebut Reynaldi dari Nisa. Padahal Mba sama-sama wanita, kok bisa ya enggak punya perasaan begitu," sindir Bu Rina. Hubungan Bu Rina sangat baik dengan Nisa. Tentu saja dia merasa tak suka dengan Viona, terlebih Viona menunjukkan sikap tak bersahabat.
"Ibu tak tahu permasalahannya, jangan sok tahu ya! Jangan usil jadi orang, urusin saja urusan keluarga sendiri," sahut Viona ketus. Membuat dia menjadi bahan mereka memperolok-olok.
__ADS_1
"Iya, saya enggak habis pikir. Kenapa si Reynaldi bodoh banget jadi laki-laki. Nisa 'kan cantik, ramah, lembut, sempurna banget. Saya saja sampai iri sama dia. Kok bisa ya tergoda sama wanita seperti itu," sindir ibu yang satunya. Hingga akhirnya Viona naik pitam, dan dia langsung mendorong Ibu itu dengan kasar, membuat Ibu itu terjatuh. Tentu saja hal itu membuat orang-orang di sana merasa tak terima. Mereka ikut menyerang Viona, membuat Viona lari terbirit-birit untuk sampai di rumah.
Sampai-sampai dia ngos-ngosan. Ternyata ibu-ibu itu mengejar Viona sampai ke rumah Reynaldi. Berteriak-teriak menyuruh Viona keluar. Membuat Mama Ratih dan Reynaldi merasa bingung.
"Dasar pelakor! Keluar kamu!" teriak seorang ibu, diikuti ibu-ibu lainnya.
"Ada apa sih Ay? Mengapa ibu-ibu seperti itu?" tanya Reynaldi.
"Semua itu gara-gara Nisa. Mereka membela Nisa, dan merasa tak suka aku menjadi istri kamu," ungkap Viona. Membuat Reynaldi bertambah pusing.
Mama Ratih keluar menghampiri ibu-ibu yang berteriak menyuruh Viona keluar.
"Maaf Ibu-ibu, sebenarnya ada apa? Ada apa dengan menantu saya?" tanya Mama Ratih.
"Bu Ratih apa tak menyesal? Memilih menantu seperti itu? Lebih baik Nisa ke mana-mana Bu. Kok ibu malah menyetujui hubungan anak ibu sama pelakor. Asal Bu Ratih tahu, tadi menantunya mendorong Bu Fina sampai terjatuh," ungkap Bu RT. Hal itu membuat Mama Ratih merasa malu.
"Maaf, Bu. Saya mewakilinya untuk meminta maaf sama Ibu Fina, kalau menantu saya membuat Ibu terjatuh. Mungkin dia terbawa emosi dengan ucapan ibu-ibu. Saya mohon jangan bully menantu saja, mereka memang saling cinta. Mungkin Reynaldi tak berjodoh dengan Nisa. Biar semua ini menjadi urusan kami," ucap Mama Ratih.
Hingga akhirnya perkumpulan ibu-ibu pergi meninggalkan rumah Mama Ratih.
"Bodoh banget jadi orang, bukannya menghalangi anaknya menikah sama pelakor. Ini malah mendukung. Saya yakin Bu Ratih akan menyesal memilih wanita ular itu," cerocos Bu Rina. Namun masih terdengar Mama Ratih.
__ADS_1