Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pengusaha Wanita Terbaik


__ADS_3

"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, maaf ada perlu apa ya?" Tanya sang ART.


"Kami dari Asosiasi Pengusaha Indonesia. Kedatangan kami kesini untuk bertemu Ibu Annisa Rahmah. Apa benar ini kediaman Ibu Annisa?" tanya seorang perwakilan dari organisasi tersebut.


Sang pembantu tampak bingung, karena dia tak mengetahui jelas nama panjang Nisa. Dia hanya tahu kalau majikannya itu bernama Nisa. Bi Sumi menyuruh dua orang tamu yang datang itu untuk duduk di teras rumah. Dia mencoba menemui Nisa yang kini berada di kantor usaha konveksinya yang letaknya berada di sebelah rumah.


Semenjak dinyatakan hamil, Abi melarang Nisa untuk tidak bekerja di butik milik Fina. Nisa hanya sesekali saja datang untuk memantau perkembangan usaha sepupu sekaligus sahabatnya itu. Untungnya Fina mengerti, sekarang ini dia sudah memiliki seorang asisten untuk menggantikan posisi dia dikala dia tak ada di Indonesia.


Bi Sumi mengetuk pintu ruangan Nisa, dan membuka pintu itu. Ruangan itu berada di dalam tempat usaha itu.


"Permisi Bu. Di depan ada dua orang yang mencari Ibu Annisa Rahmah. Apa itu ibu?" tanya Bi Sumi.


"Iya Bi, itu saya. Darimana ya?" Tanya Nisa.


Nisa beranjak bangkit dari tempat duduknya, dan berniat menghampiri kedua tamu itu. Berjalan keluar menemui mereka. Nisa kini sudah berada di hadapannya

__ADS_1


"Permisi Ibu, kami dari Asosiasi Pengusaha Indonesia. Kami ingin berbincang dengan ibu, apa ibu bisa meluangkan waktunya sebentar untuk bisa mengobrol dengan kami?" tanya Astri.


Nisa mengajak kedua tamu itu masuk ke ruangannya. Nisa tampak begitu ramah. Dia juga sempat memperkenalkan usahanya kepada kedua orang tersebut. Banyak hal yang Nisa ceritakan tentang usahanya itu.


"Silahkan duduk Ibu dan Bapak. Maaf ruangannya minimalis, hanya seadanya saja," ujar Nisa sambil tersenyum. Nisa meletakkan dua buah botol air mineral yang sudah di siapkan di ruangannya.


"Sebelumnya kami meminta maaf, kalau kedatangan kami mengganggu aktivitas Ibu Nisa. Kedatangan kami kesini untuk menyampaikan kalau Ibu berhasil menjadi pengusaha wanita terbaik tahun ini. Kami meminta kesediaan Ibu untuk datang ke kantor kami di jalan Diponegoro No. 20, untuk melakukan sesi wawancara," ucap Amril.


Nisa dibuat tercengang, dengan penuturan Amril. Dia masih merasa tak percaya.


"MasyaAllah, benarkah? Kok bisa si ya? Padahal masih banyak pengusaha wanita lain yang lebih hebat. Saya hanya punya usaha konveksi home industri dan pabrik, tetapi rasanya kurang tepat kalau saya yang memenangkan pengusaha wanita terhebat tahun ini. Takutnya ini kesalahan," ujar Nisa.


Nisa langsung meneteskan air matanya, dia benar-benar tak percaya. Dia menjadi teringat mendiang bundanya yang telah tiada. Semua seperti sebuah mimpi, setelah rasa sakit dan penderitaan yang dia rasakan selama ini. Kini dia bisa meraih kesuksesan.


"Pastinya Ibu sangat terharu. Karena kita tak pernah menyangka ya Bu, saat kita memulainya dari awal," ujar Amril. Semua ini adalah hasil kerja kerasnya dia dan juga Fina sang sahabat. Fina 'lah yang banyak membantu dirinya, dan juga memperkenalkan produk hasil karya usahanya ke luar negeri, khususnya negara suaminya berada.


"Iya, saya benar-benar terharu. Saya juga teringat mendiang Ibu saya yang telah tiada. Sayang dia tak bisa melihat, saat saya dinobatkan sebagai pengusaha wanita terbaik," sahut Nisa. Perasaannya saat itu campur aduk, ada perasaan sedih dan senang saat dinobatkan pengusaha wanita terbaik.

__ADS_1


"Jadi, Ibu bersedia ya untuk melakukan sesi tanya jawab dengan kami? Percakapan kita nanti akan di tayangkan di televisi. Agar mereka tahu, siapa pengusaha wanita terbaik tahun ini," jelas Amril dan Nisa mengiyakan.


Setelah perbincangan selesai, mereka pamit pulang. Besok mereka akan bertemu kembali di kantor mereka pukul 09.00 pagi WIB. Nisa mengantarkan keduanya kembali keluar ruangannya. Amril sempat melakukan dokumentasi tempat usaha Nisa.


"Ya Allah, semua seperti mimpi aku bisa meraihnya. Terima kasih atas semua anugerah yang engkau berikan kepadaku, termasuk kedua bayi dalam kandungan aku. Semoga aku bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Bunda, Nisa kangen. Kenapa Bunda meninggalkan Nisa? Nisa sayang sama Bunda, terima kasih atas doa yang Bunda panjatkan untuk keberhasilan aku. Aku berhasil Bun meraih kesuksesan," ucap Nisa lirih.


Masa lalu atas pengkhianatan yang Reynaldi lakukan, membuat dirinya kini menjadi sosok wanita yang kuat. Dia justru kini berada di puncak kejayaan. Pastinya Reynaldi akan sangat menyesal, saat dia mengetahui wanita yang dia buang dulu kini meraih kesuksesan. Bahkan dia pun tak mampu menandingi kesuksesan Nisa.


Berbeda halnya dengan Nisa yang selalu diliputi perasaan bahagia, Reynaldi justru tampak stres. Karena sampai saat ini dia belum juga mendapatkan pekerjaan lagi. Viona pun sudah berusaha untuk melamar pekerjaan untuk bekerja kembali, tetapi sampai saat ini tak ada satu perusahaan yang menerima dirinya.


"Ya Allah, aku harus mencari pekerjaan kemana lagi? Mengapa hidup ini terasa begitu sulit? Kapan semua cobaan ini berakhir. Aku lelah dengan hidupku yang penuh dengan penderitaan. Apa salahku, hingga aku merasakan benar-benar berada di titik terendah seperti ini? Tolong bantu aku untuk bangkit, berilah aku pekerjaan untuk menafkahi istri dan ibuku," doa Reynaldi.


Reynaldi sedang duduk di pinggir jalan, sedang menikmati es untuk menghilangkan rasa dahaga yang dia rasakan saat ini. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh. Rasanya hidup begitu sulit dia jalani.


Reynaldi membuka galeri di ponselnya. Dia pandangi foto kebersamaan dirinya dulu bersama Nisa dan juga Khanza anaknya. Sudah cukup lama dia tak pernah berkomunikasi dengan sang anak. Rasa dendam kepada Nisa atas laporan yang telah Nisa lakukan, membuat dia jauh kepada sang anak.


"Andai kamu tak pergi meninggalkan aku dulu, mungkin hidup aku tak akan sehancur seperti sekarang ini. Kamu sama Khanza ada dimana? Bagaimana keadaan kalian? Maafkan aku, karena telah menjadi ayah yang tak bertanggung jawab. Semua ini karena salah kamu yang melaporkan aku, membuat aku kehilangan pekerjaan aku. Hingga aku tak bisa menafkahi Khanza. Aku ingin bertemu kalian, tapi aku malu dengan keadaan aku sekarang. Pasti kamu merasa senang, saat melihat kondisi aku yang seperti sekarang ini," ucap Reynaldi.

__ADS_1


Masih dia ingat, saat dia hidup bahagia dulu bersama Nisa dan Khanza.



__ADS_2