
"Aku berangkat dulu ya Ay," pamit Viona kepada sang suami.
Viona bergantian dengan sang suami mengurus sang ibu mertua. Karena dia harus memeriksakan kondisi kesehatannya ke rumah sakit. Viona pergi dengan menggunakan ojek online menuju rumah sakit. Setelah sampai dia langsung mendaftar diri dengan menggunakan surat rujukan dari puskesmas.
Tentu saja prosesnya lebih ribet dibandingkan menggunakan asuransi kesehatan umum. Tetapi, Viona harus menyadarinya. Karena dia kini hidup dari kalangan menengah ke bawah, dia harus banyak bersabar melalui proses demi proses untuk bisa diperiksa.
"Sabar Vi, kamu pasti bisa melewatinya," ucap Viona yang memberi semangat pada dirinya sendiri.
Sudah dua jam lebih dia menunggu, tetapi belum juga mendapatkan giliran untuk dipanggil. Sampai akhirnya, Viona di panggil ke dalam untuk diperiksa.
Viona mulai menceritakan keluhan yang selama ini dia rasakan. Dokter menyarankan agar dia melakukan pemeriksaan secara detail, agar lebih jelas semuanya. Apa yang Viona ceritakan mengarah ke kanker.
Dokter menyarankan Viona untuk melakukan MRI ( Magnetic resonance imaging ). MRI adalah tes yang berfungsi untuk menemukan lokasi dan penyebaran kanker dalam tubuh. Selain itu, tes ini juga membantu dokter mempertimbangkan rencana pengobatan, seperti operasi atau radioterapi.
Selain itu, dokter juga menyuruh Viona melakukan tes darah Galleri. Tes ini berfungsi untuk mencari DNA abnormal pada darah. Darah yang dites melalui metode ini dapat memberikan sinyal bila ada kanker.
"Jadi menurut dokter saya ini terkena penyakit kanker?" tanya Viona.
"Saya belum bisa memastikannya, makanya perlu dilakukan pemeriksaan itu," jelas sang dokter.
Air mata Viona menetes satu persatu dan mulai membasahi wajahnya. Viona merasa takut kalau dirinya terkena penyakit kanker. Dia masih berharap semua itu hanya ketakutannya saja. Akan semakin menderita saja hidupnya. mungkinkah semua ini adalah sebuah karma yang dia dapat atas perbuatannya selama ini kepada Nisa.
Semua pemeriksaan telah dilakukan, besok Viona akan mendapatkan hasil dari pemeriksaan itu. Viona berjalan gontai keluar dari rumah sakit, hatinya terasa hancur.
"Ya Allah, mengapa hidupku begitu menderita? Aku pun ingin hidup bahagia," ucap Viona lirih.
Viona memesan ojek online untuk pulang ke rumah, dan besok dia akan kembali lagi ke rumah sakit. Dia terlihat tak semangat dan wajahnya terlihat murung.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu lama sekali Bukannya cepat-cepat pulang?" tanya Reynaldi saat Viona baru sampai rumah, melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Ada urusan penting," sahut Viona singkat. Dia memilih untuk langsung masuk ke dalam kamar. Mengganti pakaiannya, dan membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Enak banget kamu sampai rumah langsung tidur, sudah sana cepat kasih makan Mama!" Sindir Reynaldi.
"Kenapa harus nunggu aku sih kasih makan Mamanya, kamu 'kan bisa menyuapi Mama makan. Aku ini capek baru sampai rumah, aku ingin istirahat dulu," sahut Viona ketus.
Namu, Renaldi tak mempedulikan ucapan Viona. Dia tetap meminta Viona menyuapi mamanya makan. Hingga akhirnya Viona terpaksa menuruti keinginan suaminya itu.
"Aku tak ingin makan!" bentak Mama Ratih.
Mama Ratih langsung menepak piring makanan yang dipegang Viona, hingga akhirnya terjatuh dan berserakan di lantai. Membuat Viona sangat marah.
"Ya sudah kalau Mama enggak mau, dasar orang tahu diri. Harusnya Mama bersyukur, karena aku masih mau mengurus orang cerewet seperti Mama," sahut Viona ketus.
"Bisa-bisanya kamu berbuat kurang ajar sama Mama. Dimana letak rasa hormat kamu kepada Mama aku? Aku enggak terima, kamu perlakukan Mama aku seperti itu. Mama aku itu lagi sakit, coba dong kamu ngertiin, dan berusaha untuk sabar! Dia itu butuh dukungan dari kita, agar tetap semangat untuk hidup. Bagaimana kalau kamu jadi Mama yang merasakan lumpuh dan hanya bisa tidur di tempat tidur. Pastinya kamu enggak akan sanggup dan kuat menghadapinya," bentak Viona.
Dulu mama Ratih begitu baik sama Viona. Kini justru dia akan menjadi bumerang bagi pernikahan Viona dan Reynaldi. Bahkan diam-diam dia sudah menyuruh Reynaldi untuk menceraikan Viona.
Namun, Renaldi menolaknya dengan alasan Viona masih berfungsi untuk mengurusi rumah dan dirinya. Kondisinya saat ini tak memungkinkan ada wanita yang mau dengannya.
"Loh, kamu kok jadi marah-marah sama aku sih? Semua ini nih gara-gara Mama kamu. Harusnya kamu marahin Mama kamu, bukan aku. Kamu lihat 'kan, lantai berserakan sama piring pecah dan semua makanan untuknya tumpah. Kalau dia memang enggak mau makan, ngomong dong! Jangan seperti ini caranya! Sudah aku lagi capek, ditambah lagi dengan kelakuannya seperti ini," cerocos Viona. Iya merasa tidak terima dengan perlakuan Renaldi kepadanya.
"Aku capek kayak gini terus, sekarang aku balikin deh ke kamu. Kalau memang kamu udah enggak mau sama aku, ya sudah kita pisah saja. Aku lelah menjadi orang yang terus disalahkan," ucap Viona. Air mata Viona menetes satu persatu, dia sudah tak mampu menahan perasaannya lagi.
Tentu saja hal ini membuat Renaldi terlihat panik, karena kalau Viona bercerai darinya. Siapa nanti yang akan mengurus mamahnya, karena dia tak mungkin mengurus mamanya sendiri.
__ADS_1
"Maaf aku emosi. Aku mengaku salah, maafin aku ya, Ay! Aku enggak mau pisah sama kamu," ucap Reynaldi memohon, menggenggam tangan Viona. Kondisi emosi Viona pun saat itu sedang tidak stabil, dia takut kalau dirinya benar-benar mengidap penyakit kanker.
"Ya sudah aku maafkan. Tetapi lain kali kalau kamu begitu lagi, aku enggak akan segan-segan meninggalkan kamu. Aku yakin enggak akan ada wanita yang mau sama kamu, harus merasakan hidup susah, dan menderita," ucap Viona dan Reynaldi menganggukkan kepalanya.
Malam ini Viona terlihat gelisah, sejak tadi dia tak bisa memejamkan matanya. Padahal Reynaldi sudah tertidur pulas. Saat itu jam menunjukkan pukul 01.00 malam. Hatinya merasa tak tenang, untuk membaca hasil pemeriksaannya kemarin.
Viona bangun pagi-pagi dia hanya tidur beberapa jam saja, dia ingin segera masak dan merapikan rumah dari pagi. Agar dia bisa segera ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan kemarin.
"Ma, Mama makan dulu ya, biar Viona bisa suapi mama dulu. Soalnya, setelah ini Viona mau keluar dulu sebentar ada urusan. Viona ingin Mama mandi dulu sama makan, agar Viona merasa tenang tinggalin mama," ucap Viona. Viona berusaha untuk sabar.
"Sudah nanti saja mandinya! Aku juga belum lapar, Kalau kamu mau pergi, ya sudah pergi saja sana! Nanti, kalau aku lapar, aku bisa berteriak memanggil Reynaldi. Aku ingin anakku saja yang menyuapi aku," sahut Mama Ratih ketus.
"Tapi, Reynaldi sekarang masih tidur. Aku takutnya mama kelaparan dan Reynaldi masih terus tidur, tak Mendengar Mama memanggilnya," rayu Viona. Viona mencoba menghela napas panjang menahannya.
"Kalau aku bilang tidak mau, ya tidak mau! Kamu jangan memaksa aku! Apa mau aku lempar lagi makanan itu seperti kemarin? Sudah sana, lebih baik kau pergi saja, tak perlu urusin aku!" bentak Mama Ratih.
"Sabar Vi, lo harus sabar menghadapinya! Jangan sampai lo bertengkar lagi sama suami lo," ucap Viona dalam hati. Mama Ratih tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Akhirnya Viona menuruti keinginan Mama Ratih, dia langsung pergi meninggalkan Mama Ratih, dan masuk ke kamarnya. Mencoba membangunkan suaminya.
"Ay, bangun! Tadi aku sudah mencoba merayu Mama makan. Tetapi dia tetap enggak mau makan sama aku, katanya dia maunya makannya sama kamu. Aku mau pergi dulu sebentar, ada janji. Ada hal penting yang harus aku urus, soalnya kemarin belum selesai urusannya. Setelah urusan aku selesai, aku akan segera kembali. Ayo kamu bangun, gantian jagain Mama dulu," ucap Viona.
Reynaldi akhirnya bangun.
"Sebenarnya kamu itu ada urusan apa sih? Dari kemarin, sibuk terus," protes Reynaldi.
"Maaf, aku belum bisa menceritakannya sekarang. Urusan aku soalnya belum selesai," sahut Viona.
__ADS_1
"Ya sudah sana berangkat aja sekarang! Nanti, kalau sudah selesai, segera pulang!" pinta Reynaldi, Viona menganggukkan kepalanya dan mengiyakan ucapan suaminya.