Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kepergian Reynaldi


__ADS_3

"Rey, sini Mama mau bicara sama kamu," panggil Mama Ratih saat sang anak baru sampai di rumah.


Mama Ratih menarik tangan anaknya, untuk mengajak anaknya mengobrol di dalam kamarnya.


"Ada apa sih Ma? Rey capek baru pulang, laper juga ingin makan," gerutu sang anak.


"Iya, sebentar. Mama mau tanya, apa benar tadi kamu meninggalkan Viona di Mall sendiri? Terus kamu hanya memberikan dia uang 10 juta?" tanya Mama Ratih memastikan.


"Iya, benar. Memangnya kenapa? Soalnya aku pusing, si Viona itu banyak maunya. Maunya minta barang-barang yang mahal, bisa bangkrut aku kalau nuruti kemauan dia. Lagi pula, aku takut Nisa curiga kalau aku menemani Viona belanja sampai selesai. Yang penting 'kan uangnya, ya sudah aku transfer saja dan dia bisa cari sendiri. Mah, uang segitu besar. Aku 'kan gajinya cuma 30 juta. Aku harus menyisihkan untuk Nisa dan keperluan lain. Lagian tadi aku sudah membelikan dia satu set perhiasan," jawab Reynaldi.


"Besar? Cukup untuk apa? Semua barang mahal," cerocos Mama Ratih.


"Dulu saja aku beliin untuk Nisa, bisa untuk beli macam-macam. Dia itu istri sah aku loh, masa iya yang hanya istri siri aku, dia minta yang lebih banyak. Aku tadi sudah bilang sama dia, untuk tidak boros dan gunakan uang sebaik mungkin," jelas Reynaldi.


"Rey, Viona itu bukan wanita kampungan model istri kamu. Dia itu wanita high class, tak akan cukup uang segitu," bela Mama Ratih.


"Terserah saja, siapa suruh dia mau menjadi istri aku. Aku hanya mampu segitu saja. Ya sudah, aku ke atas dulu. Aku sudah lapar. Aku juga takut Nisa merasa curiga kalau terlalu lama ngobrol di sini sama Mama. Oh ya, Minggu depan aku akan menikah, mama siap-siap saja ya," ujar Reynaldi.


Reynaldi langsung meninggalkan sang mama untuk menemui istri dan anaknya. Saat itu Nisa sedang mengajarkan sang anak belajar. Saat ini Khanza sudah duduk di bangku sekolah dasar.


Lusa Reynaldi dan Viona akan menikah. Reynaldi berniat untuk bilang kepada istrinya sekarang, kalau besok malam dia akan berangkat ke Medan untuk tugas kantor. Rencananya dia akan pergi selama tiga atau empat hari.

__ADS_1


"Yang, nanti tolong siapkan pakaian aku ya. Besok malam aku harus berangkat ke Medan. Kemungkinan tiga atau empat hari di sana. Oh ya, tolong siapkan pakaian santai juga ya Yang, takut aku mau jalan-jalan mengenal kota Medan," ujar Reynaldi. Nisa tak tahu kalau dirinya bukan untuk menyiapkan suaminya tugas luar. Tetapi dia menyiapkan untuk suaminya menikah dengan wanita lain.


Reynaldi baru saja sampai di perusahaan, dua hari lagi dirinya akan menyandang suami dua istri. Saat ini Viona sedang melakukan perawatan tubuh dari atas hingga bawah, dia ingin memberikan servis terbaik untuk suaminya saat malam pertama mereka menjadi pasangan suami istri.


"Akhirnya, lusa besok aku resmi menikah dengannya. Semoga pernikahan kami selalu di liputi rasa bahagia," ucap Viona dalam hati sambil menikmati rendaman bunga marah dan juga minyak esensial untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya.


Besok siang Mama Ratih berangkat lebih dulu ke hotel. Reynaldi menyewa satu kamar hotel untuk dirinya besok menginap di hotel. Karena mereka harus bersiap-siap sebelum berangkat ke rumah Viona.


"Bu, Ini sudah semua ya Bu untuk seserahannya," ucap Mba Asri tetangga depan rumah orang tua Reynaldi.


"Iya Mba Asri, makasih ya. Bagus-bagus banget. Mba Asri memang hebat," puji Mama Ratih.


Mba Asri kerap membuat hiasan untuk barang-barang seserahan.


"Unik-unik banget Mba buatannya," ucap Nisa yang ikut nimbrung. Nisa sekadar basa-basi karena dia cukup dekat Mba Asri. Dulu, waktu dia nikah dengan Reynaldi. Mba Asri juga yang membuatnya.


"Iya dong, 'kan untuk orang spesial," sahut Mama Ratih.


Jika orang itu bukan Mba Asri, pastinya Nisa tak akan peduli dengan urusan mertuanya.


"Ya sudah, nanti kalau ada yg butuh jasa Mba. Aku kasih nomor telepon Mba ya. Sukses ya Mba. Oh ya, Nisa pamit ke atas dulu ya Mba," ucap Nisa. Nisa memilih untuk naik ke atas. Lebih baik dia bersiap-siap untuk berangkat menjemput Khanza di sekolahnya.

__ADS_1


Malama ini Reynaldi akan mulai menginap di hotel, Mama Ratih sudah berangkat lebih dulu. Semua mereka lakukan agar Nisa tak curiga.


"Sayang, semuanya sudah 'kan?" tanya Reynaldi memastikan. Dia membawa baju ganti untuk selama dia bersama Viona.


"Mas, bawa mobil? 'Kan Mas mau tugas ke Medan. Nanti mobilnya di taro di mana? Kenapa tak di rumah saja," ujar Nisa.


Reynaldi mencoba mencari alasan agar istrinya tak curiga. Reynaldi mengatakan kalau mobilnya dia taro di kantor, dan mobil itu nanti akan di bawa ke kantor oleh supir kantor. Nisa ber oh Ria, tetapi bukan berarti dia tak curiga. Alasan yang logis, tetapi tetap mengganjal di hati Nisa.


"Ya sudah, Mas berangkat dulu ya! Soalnya Mas harus ke kantor dulu bareng yang lain berangkatnya. Hati-hati ya Sayang di rumah! Mas titip Khanza ya! Mas sayang sama kalian," ucap Reynaldi sambil memeluk tubuh istrinya erat. Dia juga melabuhkan kecupan di pucuk kepala, kening, kedua pipi istrinya dan mereka sempat berciuman sebentar saat Khanza sedang ke kamar mandi.


Nisa dan Khanza mengantarkan Ayah dan juga suaminya sampai depan rumah, sampai Reynaldi naik ke dalam mobil. Nisa dan Khanza tampak melambaikan tangannya melepas kepergian Reynaldi.


Nisa terkejut, saat gelas yang dia pegang untuk minum terlepas dari genggamnya. Perasaannya jadi tak enak.


"Ya Allah, ada apa ini? Mengapa perasaan hati aku tak karuan? Ya Allah tolong lindungi suamiku," ucap Nisa.


Dia khawatir, karena suaminya akan berangkat malam ini ke Medan. Nisa mencoba menghubungi suaminya, melakukan panggilan video untuk menceritakan firasat hatinya. Saat itu Reynaldi sedang dalam perjalanan menuju hotel dan baru saja keluar dari gerbang perumahan.


"Ya Allah Sayang, aku tahu kamu pasti kangen 'kan aku tinggal. Makanya kamu meminta aku untuk membatalkan kepergian aku malam ini ke Medan? Sabar ya Sayang! Setelah urusan aku di Medan, aku pasti akan segera pulang. Waktu tiga atau empat hari tak lama kok," sahut Reynaldi saat Nisa menghubungi dirinya dan meminta untuk membatalkan rencana kepergiannya ke Medan.


"Bukan gitu. Aku yakin ini sebuah firasat, bukan karena kebetulan atau alasan apapun Mas. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu. Aku tak mau kehilangan kamu," ungkap Nisa yang sudah terisak tangis. Reynaldi pun melihatnya. Dia tahu kalau istrinya begitu mencintainya dan takut kehilangnya.

__ADS_1


"Sayang, dengar aku! Aku yakin semua akan baik-baik saja! Kamu doakan aku ya! Kamu tenangkan hati kamu ya! Aku yakin, kamu hanya terbawa perasaan saja. Ya sudah, sabar ya! Jangan panik atau khawatir yang berlebihan. Lebih baik kamu sekarang sholat dan beristirahat sama Khanza. Nanti kalau aku sudah sampai di Medan, aku kabarin kamu ya. Jangan pikir macam-macam ya! Aku sayang sama kamu," ucap Reynaldi mencoba menenangkan hati Nisa dan akhirnya Nisa sudah terlihat sedikit tenang dia menganggukkan kepalanya dan mengakhiri panggilan video dengan suaminya.


__ADS_2