
Reynaldi mengajak Melani ke kamar sang mama.
"Ma, Melani hamil anak Rey. Sebentar lagi Mama akan punya cucu lagi. Adiknya Khanza," ungkap Reynaldi. Wajah Melani terlihat sumringah.
"Alhamdulillah. Mama sangat senang mendengarnya. Selamat ya, akhirnya kalian akan memiliki seorang anak di tengah-tengah rumah tangga kalian. Semoga, rumah tangga kalian semakin mesra. Cinta kalian semakin kuat," ucap Mama Ratih dan diaminkan oleh Melani dan juga Reynaldi.
"Untuk Melani, kamu jangan capek-capek bekerja! Pikirkan kondisi kesehatan kamu dan anak dalam kandungan kamu. Mama do'akan kamu selalu sehat, dan dilancarkan sampai persalinan nanti," ucap Mama Ratih.
"Makasih ya Ma do'anya! Melani sayang mama," ucap Melani yang langsung memeluk tubuh ibu mertuanya. Reynaldi senang melihat kedekatan mamanya dengan istrinya.
Reynaldi dan Melani pamit, dia ingin ke rumah sakit. Untuk memastikan lebih jelas lagi, Melani ingin melakukan pemeriksaan di rumah sakit.
Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Melani terlihat bahagia, karena akhirnya do'anya terkabul.
"Nanti, setelah pulang dari rumah sakit. Kita ke rumah mama ya! Pasti Papa dan Mama senang, kalau tahu aku sedang hamil," pinta Melani.
"Iya, Sayang!" sahut Reynaldi sambil tangannya mengusap kepala istrinya lembut. Melani melebarkan senyumannya.
Melani bersyukur, karena Allah telah memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup bahagia. Dia bisa merasakan menjadi seorang mama.
Mobil mereka sudah memasuki area rumah sakit. Reynaldi langsung menuju parkiran. Setelah itu, barulah mereka masuk bersama menuju bagian administrasi pendaftaran.
Setelah selesai mendaftar, mereka langsung menuju poli OBGYN. Kini mereka menunggu giliran Melani diperiksa.
"Semoga anak kita sehat ya, Yang!" ucap Melani.
"Iya, Sayang. Insya Allah sehat. Kamu juga harus sehat. Aku sayang sama kamu. Gak mau melihat kamu sakit lagi!"
Kini saatnya Melani yang diperiksa. Reynaldi mendampingi sang istri masuk ke dalam. Melani memilih periksa di rumah sakit tempat mereka melakukan bayi tabung.
__ADS_1
"Iya, Dok. Alhamdulillah. Program bayi gabungnya berhasil. Saya saat ini sedang hamil. Tadi saya sudah sempat melakukan pengetesan dengan alat tes kehamilan. Ini hasilnya!"
Melani langsung mengeluarkan testpack yang tadi dia gunakan, kemudian menunjukkannya kepada sang dokter.
Dokter menyuruh Melani membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit. Dokter mulai mengoleskan gel USG di perut Melani, kemudian meletakkan transducer ke perut Melani.
Dokter mulai menggerakkan alat itu sambil memperhatikan layar monitor. Kondisi calon anaknya tumbuh dengan sehat. Calon papa dan mama tampak bahagia. Tujuh bulan lagi, anak mereka akan lahir ke dunia.
Setelah selesai berkonsultasi. Mereka memutuskan untuk pulang. Namun, mereka tak langsung pulang. Mereka akan langsung ke rumah orang tua Melani. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Melani.
"Alhamdulillah, si dede sehat. Aku sudah tak sabar ingin melihat dia terlahir di dunia. Aku akan menjadi wanita yang bahagia. Hidupku menjadi sempurna," ungkap Melani.
Akhirnya, mereka sampai di rumah orang tua Melani. Sudah lama mereka tak kesana. Melani turun lebih dulu, sedangkan Reynaldi masih harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
"Assalamualaikum."
Sang mama merasa senang, saat melihat anaknya datang. Mereka langsung berpelukan. Dia senang melihat kondisi anaknya yang sudah sehat.
"Tumben, kamu ingat mama kamu Mel," sindir sang mama, saat dirinya datang mencium tangan sang mama.
Melani tampak cengengesan, karena apa yang dikatakan sang mama benar.
"Iya, maafkan Mel ya! Mel sibuk banget. Kalau hari Sabtu atau minggu lebih sering bermalas-malasan di rumah. Malas kemana-mana. Oh iya, Melani ada kejutan untuk mama dan papa," ucap Melani kepada sang mama.
Sang mama tampak mengerutkan keningnya. Dia menjadi penasaran, ingin tahu apa maksud ucapan sang anak.
"Memangnya, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya sang mama.
Melani langsung menunjukkan testpack dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Ya Allah Mel, kamu hamil?"
Sang mama langsung memeluk tubuh sang anak. Dia sampai meneteskan air mata penuh haru, karena akhirnya sang anak akan menjadi seorang ibu, dan dia akan menjadi seorang nenek.
"Iya, Ma. Alhamdulillah Melani hamil. Melani akan menjadi seorang ibu dan mama akan menjadi seorang nenek. Akhirnya, impian Melani tercapai. Melani bisa menjadi wanita yang sempurna."
Keduanya sama-sama menangis. Reynaldi ikut merasa sedih. Dia sangat tahu perjuangan istrinya untuk mencapai garis dua, dan melawan penyakit yang dia derita waktu itu. Meskipun melalui proses bayi tabung.
"Mama dan Papa do'akan, semoga kamu selalu diberikan kesehatan sampai nanti melahirkan. Jangan capek-capek!" ujar sang mama dan Melani mengiyakan.
Melani terlihat tak nak*su makan, meskipun sudah tersedia aneka macam makanan di meja. Dia justru menginginkan buko pandang dan juga salad. Tentu saja Reynaldi akan mengabulkan keinginan istrinya. Dia akan mencari orang yang menjual makanan yang diinginkan istrinya. Dia akan menjadi suami siaga.
Reynaldi semakin bersikap mesra kepada sang istri. Sebagai orang tua, tentu saja bahagia melihat rumah tangga anaknya bahagia. Terlebih, sebentar lagi akan dikarunia seorang anak.
"Perusahaan kamu biar saja Reynaldi yang urus. Kamu fokus urus anak saja nanti. Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan! Mulai sekarang, Reynaldi mulai ajarkan cara berbisnis," ujar sang mama.
Bukan masalah itu saja. Sang mama sangat mengkhawatirkan kondisi anaknya. Dia takut, sel kanker anaknya tumbuh kembali. Banyak hal seperti ini terjadi.
Reynaldi begitu sabar menuruti ngidamnya sang istri. Sekarang, Melani menginginkan makan rujak serut dan juga somay saat dia melintas. Mau tak mau Reynaldi memberhentikan mobilnya dulu. Menepikan mobilnya.
"Rujaknya pedes apa gak? Kamu tunggu di sini aja ya! Biar aku yang beli. Somaynya mau apa aja?" Reynaldi bertanya kepada sang istri, sebelum turun.
"Makasih ya Allah, sudah memberikan aku suami yang begitu sabar. Semoga perasaannya kepadaku gak berubah, gak tergoda lagi dengan wanita lain," ucap Melani dalam hati.
Reynaldi sudah membelikan pesanan sang istri. Dia langsung melajukan kembali mobilnya. Pada dasarnya, Reynaldi sejak dulu memang suami yang baik, perhatian, dan romantis. Namun, dia tergoda dengan mantan kekasihnya yang tak kesampaian. Hingga akhirnya, saat Viona kembali menghadirkan cinta kembali untuknya. Dia begitu terobsesi.
Melani tertidur di mobil. Tubuhnya terasa lelah. Mungkin karena pengaruh kehamilannya. Terlebih dia menjadi tak bisa makan nasi. Hanya makan yang dia inginkan saja. Reynaldi sengaja tak membangunkan sang istri. Membiarkan sang istri tertidur nyenyak.
Meskipun dia akan memiliki anak kembali. Rasa sayangnya kepada Khanza tak akan berubah. Dia tak ingin hal dulu terjadi kembali. Saat Khanza begitu membenci dia, karena dia tak pernah mempedulikan Khanza. Bagaimanapun Khanza adalah anak kandungnya, meskipun dia dengan Nisa sudah bercerai.
__ADS_1