Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Viona sakit


__ADS_3

Hari ini Viona berniat ke puskesmas untuk konsultasi tentang keluhan yang dia rasa. Dia harus ke faskes pertama dulu, sebelum dia ke rumah sakit. Sekarang ini, dia tak lagi menggunakan asuransi kesehatan. Hanya menggunakan jaminan kesehatan dari pemerintah. Mama Ratih pun sekarang ini di rawat di kelas 3.


Viona sengaja merahasiakan keluhan yang dia rasakan selama ini dari Reynaldi. Dia khawatir Reynaldi akan meninggalkan dirinya, jika dia memiliki penyakit yang serius. Tak ada lagi kehidupan yang glamour, kini berganti dengan hidup penuh keterbatasan.


"Rey, kapan mama bisa sembuh? Mama bosan di tempat tidur terus. Mama sudah boleh pulang belum? Mama enggak betah di rumah sakit terus, mama ingin pulang," ucap Mama Ratih.


"Kata dokter, kemungkinan mama untuk hidup normal lagi sangat tipis. Karena mama sudah tua, tidak bisa pemulihan tulang lagi. Untuk masalah pulang, nanti coba Rey tanyakan saat dokter datang memeriksa mama ya," jelas Reynaldi.


"Lebih baik mama mati saja. Mama lelah harus terus menerus terbaring di ranjang," ungkap Mama Ratih diiringi isak tangis.


"Sabar ya, Ma! Rey yakin kalau mama bisa melewati semuanya," ucap Reynaldi yang mencoba memberi pengertian kepada sang mama.


Viona baru saja sampai di puskesmas, dia langsung mendaftarkan dirinya ke bagian pendaftaran untuk melakukan pemeriksaan ke poli umum.


"Ya Allah, semoga saja aku tak memiliki penyakit yang serius," ucap Viona dalam hati. Viona tampak menunggu giliran waktu di periksa.


Inilah pertama kali bagi Viona mengunjungi puskesmas, karena waktu bersama Reza dia menggunakan asuransi kesehatan dari kantor Reza.


"Nyonya Viona, poli umum," panggil sang perawat.


Saatnya Viona yang melakukan pemeriksaan. Viona mulai menceritakan atas apa yang dia keluhkan selama ini.


"Apa ibu mengalami ini sudah cukup lama?" Tanya sang dokter.

__ADS_1


Berdasarkan informasi yang Viona ucapkan, sang dokter mencurigai kalau Viona memiliki masalah pada rahimnya. Hingga akhirnya dokter puskesmas merujuk ke rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan lengkap.


"Apa saya mengidap penyakit yang berbahaya, Dok? Mengapa sampai harus di rujuk ke rumah sakit?" Tanya Viona.


"Kami belum bisa memastikan, karena ini hanya diagnosa saya. Sebaiknya melakukan pemeriksaan secara keseluruhan, agar diketahui lebih jelas penyakit apa yang di derita. Berdoa saja! Semoga ibu baik-baik saja," sahut sang dokter.


Hingga akhirnya Viona pulang kembali, tanpa mengetahui secara jelas. Besok pagi, barulah dia mengunjungi rumah sakit rujukan.


Besok pagi Mama Ratih sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Akan menjadi kesibukan baru untuk Viona, yaitu merawat ibu mertuanya yang sangat menyebalkan.


Viona baru saja sampai rumah, dia memilih langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya terasa lemas. Wajahnya terlihat pucat. Perlahan mata Viona meredup, hingga akhirnya dia tertidur pulas.


Suara dering ponselnya membangunkan Viona dari tidurnya, dia langsung menerima panggilan telepon dari suaminya.


"Ya, halo," ucap Viona.


Viona memilih menutupinya dari sang suami. Hingga akhirnya dia memilih berbohong. Dia hanya mengatakan kalau dirinya sedang tidur, dan terbangun kala mendengar bunyi ponselnya berdering.


"Ya sudah. Aku hanya ingin memberitahu kamu, kalau besok mama sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Tapi ya gitu. Kamu 'kan sudah tahu kondisi mama seperti apa. Mama benar-benar harus di urus segalanya. Karena mama hanya bisa terbaring di ranjang. Semua kegiatannya di ranjang," ujar Reynaldi.


"Tapi, Ay? Aku tak mungkin mengurusnya, aku 'kan harus mengurus rumah juga. Harus cari orang yang bisa mengurusnya," sahut Viona.


"Kamu 'kan tahu Ay, kondisi kita tak memungkinkan membayar orang untuk mengurus mama. Kita harus prihatin, lebih baik uangnya untuk makan sehari-hari. Semoga saja aku bisa segera mendapatkan pekerjaan, jadi aku bisa membayar gaji orang untuk mengurus mama," jelas Reynaldi dan Viona mengiyakan.

__ADS_1


***


Nisa terlihat sedang packing pakaian yang akan dia bawa ke Jakarta. Mereka akan berangkat ke Jakarta naik mobil Abi, Abi yang akan menyetir mobil sendiri. Sedangkan untuk mobil Nisa, Abi sudah meminta tolong orang untuk membawa ke Jakarta. Untuk motor sport Abi, Abi akan mengirim lewat ekspedisi kereta.


"Ibu nanti pulang lagi 'kan kesini? Bibi pasti kangen sama Ibu dan juga Khanza," ujar sang ART. Sebenarnya, Nisa ingin membawa ART-nya itu. Tapi, dia butuh orang kepercayaan untuk mengurus di sini.


Abi baru saja sampai di rumah, baru pulang bekerja. Melihat istri dan anaknya sudah mulai packing. Ada perasaan tak tega di benak Abi, melihat sang istri dan anaknya harus ikut bersamanya ke Jakarta. Namun, semua ini dia lakukan demi masa depan yang lebih baik.


Nisa langsung menghentikan aktivitasnya dan menghampiri sang suami untuk mencium tangannya. Seperti biasa, dia langsung membuatkan teh manis hangat untuk suaminya, di kala suaminya pulang.


Inilah bedanya Viona dengan Nisa. Abi merasa di hargai sebagai seorang suami, meskipun hanya dengan perhatian yang sederhana.


"Maafkan Mas ya, gara-gara Mas, kamu dan Khanza harus ikut ke Jakarta. Padahal kalian sudah betah disini," ujar Abi.


"Mas tak perlu meminta maaf. Namanya suami istri, harus saling dukung. Tugas seorang istri ya seperti ini, mengikuti suaminya kemanapun suaminya pergi," sahut Nisa.


"Makasih ya Sayang, kamu memang istri yang baik dan sholeha. Mas enggak salah telah memilih kamu, untuk menjadi pendamping hidup Mas," ungkap Abi dan Nisa membalasnya dengan senyuman.


Hari ini Mama Ratih sudah di perbolehkan untuk pulang. Mereka akan pulang dengan menggunakan mobil ambulance. Reynaldi sudah mengurus administrasi kepulangan sang mama. Padahal hari ini Viona berniat untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Namun akhirnya, Viona terpaksa mengurungkan niatnya.


Mama Ratih sudah sampai di rumah. Wajahnya terlihat masam bertemu Viona. Padahal, Viona 'lah yang akan mengurus dirinya nanti. Hubungan Viona dan Mama Ratih menjadi tak baik, tak seperti saat Viona menikah dengan Reynaldi.


"Ay, besok pagi aku izin mau pergi. Aku ada janjian sama teman," ujar Viona.

__ADS_1


"Terus siapa yang urus mama, kalau kamu pergi? Memangnya ada urusan apa?" Tanya Reynaldi menyelidik.


Lagi-lagi Viona terpaksa berbohong kepada Reynaldi. Agar Reynaldi memberikan kesempatan untuk pergi.


__ADS_2