Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Berubah Menjadi Lebih Baik Lagi


__ADS_3

"Ay, aku berangkat kerja dulu ya. Nanti, kalau kamu perlu apa-apa. Kamu panggil saja suster, biar nanti dia bisa bantu kamu. Nanti aku juga mau chat mama untuk beritahu kalau aku mau kerja. Minta tolong temani kamu di rumah sakit, sampai aku pulang. Aku juga mau minta tolong bawain bantal, selimut dan tikar," ujar Reynaldi.


"Nanti urusan mama, aku saja yang chat mama. Aku sudah kuat kok pegang ponsel. Kamu fokus kerja saja," sahut Viona. Viona meraih tangan suaminya, berniat untuk mencium tangan suaminya. Reynaldi pun langsung melabuhkan kecupan di kening Viona.


Reynaldi telah pergi bekerja. Viona langsung menghubungi mamanya.


"Ya, Na. Gimana keadaan kamu sekarang? Nanti mama ke rumah sakit ya, sekarang lagi masak dulu. Agar bisa bawa makanan ke rumah sakit, untuk kamu sama Reynaldi," ujar Mama Susan.


"Iya, Ma. Alhamdulillah sudah lebih baik. Makasih ya ma, sudah merepotkan mama. Viona dari dulu hanya bisa menyusahkan mama saja, belum bisa membahagiakan mama," ucap Viona diiringi isak tangis.


"Hush, jangan ngomong seperti itu. Sudah kewajiban mama, mengurus anak mama. Alhamdulillah mama masih diberikan umur panjang dan kesehatan. Sudah, jangan sedih! Nanti mama ke rumah sakit kalau sudah beres masaknya, tunggu ya! Reynaldi sudah jalan?" Tanya Mama Susan.


"Iya, Ma. Rey sudah kerja. Ya sudah, sesempatnya Mama saja. Viona mau minta tolong, tolong bawakan mukena, kasur, selimut, sama tikar atau karpet kecil. Reynaldi kasihan Ma, tidur di bawah hanya pakai sajadah. Takut sakit," ujar Viona dan sang mama mengiyakan.


Abi sudah terlihat rapi, dan akan berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantarkan Khanza terlebih dahulu. Nisa mengantarkan sang suami dan anaknya sampai depan kamar apartemen.


"Aku berangkat dulu ya sayang," ucap Abi sambil mencium kening dan perut istrinya. Setelah suami dan Khanza berangkat. Barulah Nisa mulai bekerja dari apartemen. Selama ini usahanya masih aman, meskipun di tinggal sama dia.


Viona mencoba download Al-Quran di ponselnya. Dia bersyukur, karena Allah memberikan kesempatan untuknya bisa bertaubat. Dia mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran dari ponselnya. Air matanya terus mengalir, teringat dosa-dosa yang telah dia perbuat dulu. Dosa zina dirinya dulu bersama Reynaldi.


"Ya Allah, aku mohon ampuni semua dosa-dosa yang aku perbuat dulu. Semoga aku bisa meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Aku titip suami dan mama aku, tolong lindungi dia. Berikan dia kebahagiaan," doa yang Viona panjatkan.

__ADS_1


Abi baru saja sampai di rumah sakit, dan bertemu dengan Reynaldi yang saat itu dengan mengepel lantai di daerah poli.


"Dok," sapa Reynaldi sambil menundukkan kepalanya.


"Ya. Rey, gimana keadaan istri kamu sekarang? Apa keadaannya sudah mulai membaik?" Tanya Abi. Meskipun dia seorang dokter, dia tak malu berbicara dengan seorang cleaning service. Banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka.


"Alhamdulillah Dok, sudah mulai membaik. Sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi, dokter belum memperbolehkan untuk pulang dulu ke rumah," jelas Reynaldi.


"Syukurlah kalau seperti itu, saya ikut senang mendengarnya," sahut Abi.


Abi pamit untuk masuk ke ruangan, karena dia sudah mau mulai praktek. Reynaldi pun masih harus melanjutkan pekerjaan.


"Assalamualaikum," Nisa mengucap salam saat pertama kali menerima panggilan telepon dari ibu mertuanya.


"Waalaikumsalam. Bagaimana kabar kalian di sana? Apa kalian kerasan di sana? Maaf ya mama belum bisa ke Jakarta. Papa masih sibuk, belum bisa meninggalkan perusahaan," ujar sang ibu mertua.


"Iya, ma. Tak apa-apa. Yang penting doanya saja! Alhamdulillah kami semua sehat. Mama dan Papa juga sehat 'kan di sana? Ini juga aku belum bisa ke Yogyakarta. Mas Abi masih sibuk, dia juga tak mengizinkan aku ke Yogyakarta sendiri," sahut Nisa.


Nisa senang mendengarnya, karena kedua mertuanya dalam keadaan sehat. Hubungan Nisa dengan mertuanya yang sekarang sangat baik, ibu mertuanya sangat menyayangi dirinya. Orang tua Abi menerima dia apa adanya.


Rencananya, setelah kedua anaknya lahir. Abi berniat mengadakan pesta pernikahan dengan Nisa. Namun, menurut Nisa hal itu tak penting. Baginya, yang terpenting mereka sah di mata hukum dan agama.

__ADS_1


"Ma, aku sudah bertemu dengan mantan istri Mas Abi di sini," ujar Nisa membuat sang ibu mertua tersentak kaget.


"Serius kamu? Terus gimana? Dia ngomong apa saat ketemu kalian? Dia enggak ganggu Abi lagi 'kan?" serentetan pertanyaan terlontar dari bibir ibu mertuanya.


Nisa menceritakan, kalau mantan istri Abi adalah istri mantan suaminya alias pelakor dalam rumah tangganya. Viona yang mereka maksud adalah orang yang sama.


Nisa menceritakan, kalau dirinya tahu saat Viona mengikuti Abi. Hingga akhirnya Nisa dan Abi mengetahuinya.


"Ya ampun, dunia sempit banget. Berarti si Viona itu memang sumber masalah. Entah di hidupnya Abi maupun di hidup kamu dulu. Untung saja Abi sudah pisah sama dia, sudah tak terikat lagi sama dia," ujar sang ibu mertua.


"Sekarang Viona sakit, Ma. Dia mengidap kanker serviks, dia juga tak bisa memiliki keturunan. Kemarin aku bertemu dia, mantan suamiku menghubungi aku, dan meminta aku untuk datang menemui Viona. Viona meminta maaf sama Mas Abi. Dia sudah mengakui kesalahannya dulu," ungkap Nisa.


"Syukurlah kalau dia sakit, mama takut kalau dia mengganggu Abi lagi. Rasanya Mama tak sudi memiliki menantu seperti dia. Masih Mama ingat saat dulu dia menghina Abi. Kasihan Abi, dia sempat merasa down sebagai laki-laki. Karena dicap mandul oleh Viona. Eh, ternyata dia yang mandu. Dia yang tak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Makanya, mama bersyukur Abi itu bisa bertemu kamu. Kamu bisa memberikan keturunan untuk Abi, kamu juga selalu membahagiakan Abi. Mama yakin kamu itu wanita yang baik, wanita yang baik akan dipasangkan dengan laki-laki yang baik. Abi anak mama itu laki-laki yang baik, sama halnya dengan Viona. Selama ini Viona bukan wanita yang baik, makanya dia tak pantas untuk Abi. Allah membuat mereka akhirnya terpisah," ungkap sang ibu mertua.


"Amin. Semoga saja aku selalu menjadi istri yang baik untuk Mas Abi. Terima kasih mama sudah mempercayakan aku sama Mas Abi," sahut Nisa dan sang ibu mertua mengiyakan.


Mereka tampak akrab, banyak hal yang mereka bicarakan. Setelah puasa mengobrol, barulah sang ibu mertua mengakhiri panggilan telepon dengan Nisa.


Namanya Viona baru saja sampai di rumah sakit. Demi menantunya, dia rela sampai repot-repot membawakan sang menantu bantal, selimut, dan juga tikar. Bukan itu saja, sang mama membawakan juga untuk sang anak dan menantunya.


__ADS_1


__ADS_2