Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Pemindahan Ke Jakarta


__ADS_3

Abi baru saja sampai di rumah. Wajah terlihat lesu tak bersemangat. Tentu saja hal itu membuat sang istri bertanya-tanya. Apa gerangan yang terjadi pada suaminya itu.


"Sepertinya, Mas Abi sedang ada masalah. Tak biasanya aku melihat wajahnya terlihat kusut, dia juga lebih banyak diam," Membuat Nisa bertanya-tanya dalam hati.


Seperti biasa, setiap pulang bekerja Abi selalu langsung mandi, dan Nisa langsung membuatkan teh manis hangat untuk sang suami. Itulah rutinitas setiap harinya.


Abi baru saja selesai mandi, dan langsung menghampiri sang istri yang kini berada di dapur sedang membuat teh manis hangat untuk dirinya. Semenjak hamil, Nisa berusaha mengurangi aktivitas kegiatannya. Untungnya, dia telah memiliki orang kepercayaan yang bisa membantu dia mengelola usahanya.


Dia memiliki satu orang kepercayaan di masing-masing usahanya. Untuk mengecek masalah pembukuan, Nisa membeli sebuah program pembukuan untuk melihat arus kas masuk dan keluar. Dia juga memasang CCTV di setiap sudut ruangan di dua tempat usahanya. Jadi, dia cukup memantau aktivitas kegiatan usaha dari laptopnya. Tanpa harus setiap hari memantaunya.


"Istri Mas semakin hari tambah cantik saja, membuat Mas semakin cinta," puji Abi sambil. melingkarkan tangannya dari belakang.


"Ah, Mas bisa saja. Ayo di minum dulu tehnya, biar tubuh Mas terasa lebih segar seharian habis bekerja," ucap Nisa.


Kini keduanya sudah berada di ruang TV. Saat itu Khanza sedang asyik menonton tayangan televisi.

__ADS_1


"Ka, gimana sekolah kamu? Lancar?" Tanya Abi yang kini duduk di sebelah Khanza.


"Alhamdulillah, Pa," sahut Khanza. Abi sudah berjanji dalam hati, tak akan membeda-bedakan anak kandungnya dengan anak tirinya. Baginya semua sama, Abi akan menyayangi Khanza seperti kedua anaknya nanti.


"Sebenarnya, ada hal penting yang ingin Papa katakan kepada Kakak sama Bunda. Semoga ada jalan keluarnya. Jujur, ini adalah sebuah keputusan yang sulit bagi Papa. Tadi, Papa baru mendapatkan informasi, kalau Papa akan di mutasi ke Jakarta. Tentu saja, dari segi karier pastinya meningkat. Berbeda jauh saat bekerja di kampung. Tetapi, Papa sangat berat kalau harus meninggalkan kalian di sini. Terlebih saat ini Bunda sedang hamil, pastinya Bunda sangat memerlukan perhatian lebih dari Papa. Ini kesempatan yang sayang untuk di lewatkan. Menurut kalian bagaimana? Jika Papa mengambil tawaran ini ke Jakarta, tentu saja Papa akan memboyong kalian ke Jakarta. Karena Papa tak mau jauh sama kamu," ungkap Abi.


"Papa sempat merasa stres memikirkan hal ini. Makanya, Papa sangat butuh dukungan kalian. Nanti, kalau sudah lumayan lama. Barulah Papa bisa mengajukan mutasi kembali kesini," ucap Abi lagi.


Nisa tampak terdiam, jujur dia sangat berat menginjakkan kakinya di kota yang memberikan kenangan buruk yang begitu menyakitkan. Dia tak ingin melihat wajah mantan suaminya itu lagi, dan dia hanya mau berurusan dengan Reynaldi yaitu saat Khanza nanti membutuhkan saat akan menikah. Lagipula, mantan suaminya pun sudah benar-benar melupakan dia. Seperti lenyap di telan bumi.


"Menurut kalian bagaimana? Apa Papa menolak saja? Papa berhenti bekerja, dan mencoba melamar-lamar kembali ke rumah sakit yang berada di sini," ucap Abi.


"Kalau Kakak si Pa, terserah Papa dan Bunda saja. Kakak ikut saja, bagaimana baiknya saja," ujar Khanza. Kini Abi menatap ke arah sang istri, seakan bertanya jawaban apa yang akan istrinya katakan.


"Aku tahu, pasti rasanya berat jadi kamu. Harus meninggalkan usaha yang selama ini kamu rintis sejak awal. Kamu pun dulu pernah bilang sama aku, kalau kamu ingin menata hidup kamu disini. Kamu juga merasa lebih tenang hidup di Yogya, dan terpenting kamu tak ingin bertemu lagi dengan mantan suami kamu itu. Benar 'kan?" tanya Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya. Karena memang benar apa yang dikatakan suaminya itu.

__ADS_1


"Aku tak akan memaksakan kehendak. Keinginan aku disini, mencoba mencari solusi terbaik dalam persoalan ini," jelas Abi.


Nisa tampak berpikir sejenak, plus minus tetangga rencana kepindahan mereka ke Jakarta.


"Sebenarnya, untuk masalah usaha. Aku tak akan pusing lagi, alhamdulillah selama ini berjalan lancar. Meskipun, bukan aku yang menjalani usaha ini. Semenjak dinyatakan hamil, aku sudah bertekad dalam hati untuk lebih memprioritaskan kandungan aku. Aku tak mau kehilangan anak lagi seperti dulu, rasanya begitu menyakitkan. Aku percaya kepada Allah, aku serahkan semuanya kepadanya," ungkap Nisa.


"Besok, aku di suruh langsung memberikan keputusan tentang hal ini," ucap Abi.


Nisa mencoba mendengarkan kata hatinya, jawaban apa yang harus aku berikan kepada suaminya itu. Dengan mengucap bismillah, akhirnya Nisa memutuskan untuk ikut ke Jakarta mendampingi sang suami bekerja di sana.


"Kamu yakin Yang dengan keputusan kamu? Aku tak ingin memaksa kamu ya," ucap Abi dan Nisa menganggukkan kepalanya.


"Ya, aku yakin dengan pilihan aku. Mungkin semua ini sudah jalannya dari Allah. Semoga saja, Allah tak akan pernah mempertemukan aku dengan dia," ucap Nisa.


"Lo kenapa? Harusnya kamu tunjukkin dong sama dia. Semenjak kamu berpisah dari dia, hidup kamu justru lebih baik darinya. Kamu justru mendapatkan kebahagiaan," ujar Abi.

__ADS_1


"Iya juga ya? Justru kamu harus tunjukkan yang sekarang ya? Semenjak bercerai dari dia, hidup aku menjadi bahagia. Bisa bertemu kamu, bisa hamil anak kembar, bisa memiliki usaha, dan bahkan berhasil menyandang penghargaan sebagai pengusaha wanita terbaik. Usaha kamu pun berkembang pesat. Mungkin, kalau kamu dulu tak memutuskan untuk bercerai. Pasti kamu terus menerus akan menderita sakit hati, karena suami kamu sudah menikah kembali secara diam-diam,"



__ADS_2