
"Kamu mau pulang sama aku?" Reynaldi menawarkan kepada Viona, tentu saja ini yang dia inginkan.
Reynaldi dan Viona banyak bercerita tentang apa yang terjadi selama mereka berpisah.
"Mungkin kita berjodoh kali ya, Ay? Kamu sih terus saja mempertahankan istri kamu. Kalau kamu lebih memilih aku, pasti kita sudah bahagia," ucap Viona dengan tak tahu malu.
"Kamu tahu tidak, betapa tersiksanya aku setelah kamu pergi dari hidupku? Aku sudah mencoba membuka hati aku untuk laki-laki lain, tetapi aku tak bisa sepenuhnya. Bayanganmu selalu hadir di hidup aku. Tak ada yang mengerti aku, kecuali kamu. Sudah dua kali aku menikah, tetapi pada akhirnya aku kecewa," ungkap Viona diiringi isak tangis membuat Reynaldi merasa tak tega. "
Reynaldi menepikan mobilnya dan membawa Viona ke dalam pelukannya. Dirinya terlupa lagi dengan janjinya akan pulang cepat, jika meeting telah selesai. Kini dirinya justru asyik bermesraan kembali dengan Viona.
"Aku mengerti perasaan kamu, pastinya tak akan mudah menjadi kamu melewati semuanya," ucap Reynaldi sambil mengelus rambut Viona dengan lembut. Setelah perjalanan yang mereka lalui, Reynaldi tetap menjadi pemenangnya. Dia mampu menenangkan hati Viona.
"Tapi, maaf Ay. Aku sudah berjanji sama Nisa, untuk tidak menyakiti hatinya lagi. Sudah cukup aku menyakiti hatinya dan hati kamu," ungkap Reynaldi. Berat rasanya dia bicara seperti ini. Karena di lubuk hatinya yang terdalam, masih ada perasaannya untuk Viona.
Dapat Rey lihat raut wajah kekecewaan Viona terhadapnya. Begitu besar Viona menaruh harapan kepadanya, tetapi dia justru mendapatkan rasa kecewa.
"Ya sudah, jika kamu tak bisa mencintai aku lagi. Turunkan aku di sini, kita berpisah saja di sini! Daripada aku merasakan luka yang mendalam," ucap Viona ketus.
"Tapi aku ingin dekat sama kamu sebenarnya. Selama kamu pergi dari hidup aku, aku selalu merindukan kamu," ungkap Reynaldi.
Viona terlihat terdiam, dirinya merasa kesal dengan dirinya sendiri. Mengapa dirinya masih saja mau bersama Reynaldi, padahal dirinya tahu kalau akhirnya dia juga yang terluka.
"Terserah 'lah Ay, aku capek! Aku turun di sini saja," ancam Viona. Membuat Reynaldi merasa ketakutan.
__ADS_1
"Please Ay, jangan tinggalkan aku!" pinta Reynaldi dengan wajah yang memelas.
"Nikahi aku, jika kamu ingin bersama aku!" ancam Viona membuat Reynaldi merasa bingung.
Wajahnya tiba-tiba saja terlihat pucat. Lidahnya terasa kelu untuk bicara.
"Kenapa tak bisa? Seperti sebelum-sebelumnya? Ya sudah, biarkan aku pergi dari hidup kamu!" ancam Viona lagi.
"Iya ... Iya! Aku akan menikahi kamu, tetapi maaf. Aku hanya bisa menjadikan kamu istri kedua aku. Nanti aku akan coba bicarakan sama Nisa. Aku akan tetap menjadikan Nisa istri pertama aku, dan kamu menjadi istri kedua aku," ucap Reynaldi, membuat Viona tersenyum puas. Meskipun dirinya hanya menjadi istri kedua.
"Tak masalah! Yang penting kamu tetap bersikap adil kepada aku! Aku minta waktu kamu 3 hari dan 4 hari waktu kebersamaan kamu sama Nisa. Bukankah itu sangat bijak," ucap Viona dan Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya.
"Lantas kapan kamu akan menikahi aku? Aku minta secepatnya! Jika dalam waktu 3 bulan kamu tak juga menikahi aku, aku akan memilih pergi dari hidup kamu untuk selamanya," ucap Viona membuat Reynaldi tak berkutik.
"Kita beli saja nomor telepon yang baru, terus kita buat duplikat WhatsApp. Nomor ini khusus untuk kita berkomunikasi. Nanti kamu password, agar istri kamu tak bisa membukanya," ucap Viona mencoba mengajarkan Reynaldi, untuk meminimalkan Nisa mengetahui perselingkuhan mereka.
Sebelum mengantarkan Viona pulang, mereka mampir ke sebuah counter pulsa untuk membeli kartu perdana untuk mereka berkomunikasi. Bahkan mereka membeli nomor yang belakangnya hanya beda satu angka. Tiga digit belakang, 093 dan 094.
Reynaldi mengantarkan Viona sampai depan rumah Viona. Tetapi hari ini Reynaldi belum bisa mampir. Karena ini sudah terlalu lama, dari janjinya kepada sang anak.
"Maaf ya, aku tak bisa mampir. Soalnya aku buru-buru, pasti nanti Khanza protes kalau aku datang terlambat," ujar Reynaldi dan Viona mengiyakan.
Setelah mengantarkan Viona, Reynaldi langsung menancap gas agar segera sampai di rumah. Untuk mengambil hati istri dan anaknya, dia mampir di kedai es krim yang berada di depan komplek perumahannya.
__ADS_1
"Kok Ayah baru pulang sih, katanya sebentar," protes Khanza. Saat sang ayah baru saja sampai di rumah.
"Tadi Ayah mampir dulu ke kedai es krim, rame banget. Makanya Ayah telat pulang. Maaf ya," ucap Reynaldi untuk mengambil hati anaknya. Reynaldi bisa bernapas lega, saat melihat anaknya menganggukkan kepalanya.
Setelah merayu sang anak, Reynaldi menghampiri sang istri yang masih saja terlihat murung. Kehilangan sang anak membuat Nisa merasa hancur sebagai seorang ibu.
"Sayang," ucap Reynaldi sambil memeluk tubuh istrinya. Semakin suaminya merekatkan pelukannya, semakin deras air mata Nisa.
"Aku tahu kalau kamu masih merasa sedih. Aku pun sama. Tetapi hidup harus terus berjalan. Kamu masih memiliki aku dan juga Khanza, yang membutuhkan perhatian kamu. Mau sampai kapan kamu terus begini?" tanya Reynaldi kepada sang istri.
Benar apa yang dikatakan suaminya, tak ada gunanya juga dia meratapi kesedihannya. Arjuna sang anak tak akan pernah hidup kembali. Khanza dan suaminya membutuhkan dirinya.
"Iya, maafkan aku! Maafkan aku, karena aku terlarut dalam kesedihan aku kehilangan Arjuna. Hingga akhirnya aku melupakan kodrat aku sebagai seorang ibu dan juga istri. Rasa bersalah aku, membuat aku bertambah terpuruk. Andai aku tak pedulikan ucapan Mama, pasti Arjuna masih hidup sampai sekarang," ungkap Nisa.
Seharusnya dia tak perlu pedulikan mertuanya yang terus mengoceh di lantai bawah, karena kerjaannya hanya tidur saja di tempat tidur. Menyindir dirinya sebagai istri yang tak peduli sama suami dan juga anaknya. Hingga akhirnya dia memaksakan diri untuk turun ke tangga. Melihat dirinya mengeluarkan darah, sang ibu mertua tidak langsung menolongnya.
Reynaldi tergoda lagi, mereka mengulangi kembali kisah dulu. Kisah kebersamaan dirinya dulu bersama Viona.
"Ay, sepertinya kamu harus kos deh. Aku bingung, jika ingin bermesraan dengan kamu. Aku yang akan membayarnya," ucap Reynaldi dan Viona setuju. Dirinya juga merasa bingung kalau ingin bermesraan dengan Reynaldi. Karena setelah berpisah dengan Reza, Viona memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya. Karena dia sekarang sudah tak bekerja.
Hari ini mereka mencari tempat kos yang bersifat bebas, bisa membawa teman laki-laki ke kamar, dan boleh datang kapan pun. Reynaldi telah melupakan janjinya kepada istrinya, untuk tidak mengkhianatinya.
Tempat kos itu, bisa dikatakan tempat untuk transit mereka. Viona tak terus menerus tinggal di sana. Kelak, bukan hanya hati dan waktunya saja yang terbagi. Keuangan Reynaldi pun akan terbagi, karena Viona saat ini tak bekerja. Setiap bulan Reynaldi akan memberikan Viona 2 juta rupiah dari gajinya setiap bulan.
__ADS_1
Biarkan mereka senang dulu ya, tinggal nunggu pembalasan😊