Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Mencari Nisa


__ADS_3

"Jangan seperti itu, Kak! Kita tak boleh memiliki perasaan dendam kepada sesama manusia! Allah saja maha Pemaaf, mau memaafkan dosa seorang manusia. Kecuali dosa menyekutukan Allah dan durhaka kepada orang tua. Bagaimanapun ayah adalah orang tua kandung kamu. Jika tak ada ayah, kamu tak mungkin terlahir ke dunia," jelas Nisa. Dia mencoba mengingatkan sang anak.


"Tapi, ayah sudah berbuat jahat kepada kita bun. Dia telah melupakan aku. Untuk apa aku berbuat baik lagi sama dia. Anggap saja, kita tak pernah memiliki hubungan apapun," sahut Khanza ketus.


"Sudah ah, Khanza enggak mau bahas dia lagi. Bikin malas saja," ucap Khanza lagi.


Abi yang saat itu baru saja sampai di apartemen, merasa bingung dengan perdebatan istri dengan anak sambungnya itu.


"Ada apa? Mengapa kalian berdebat seperti ini?" Tanya Abi. Mereka tak langsung menjawab, dan justru malah saling pandang. Seakan bertanya, siapa yang akan menjelaskan.


Hingga akhirnya, Nisa 'lah yang menjelaskannya. Karena Khanza justru lebih memilih masuk ke kamarnya. Dia malas untuk membahasnya. Entah harus cara apalagi yang harus Nisa tempuh, untuk membuka hati Khanza.


"Sabar! Semakin kamu menekannya untuk menuruti kamu, pasti dia akan semakin berkeras hati," Abi mencoba mengingatkan sang istri.


Hingga akhirnya Nisa mengikuti saran dari suaminya. Selama ini dia sudah mencoba memberi pengertian dan mengingatkan sang anak. Tapi, khanza tetap saja masih berkeras hati. Karena sang ayah yang sudah begitu keterlaluan dengan dirinya.

__ADS_1


Di Rumah sakit. Kondisi Viona semakin lemah, tapi dia masih terus bertahan demi bisa bertemu dengan Nisa. Dia ingin meminta maaf secara langsung.


"Gimana Ay? Aku sudah tak tahan lagi. Aku ingin bertemu Nisa," ucap Viona lesu.


"Iya Ay, maaf. Aku sudah berusaha keras untuk menghubungi Khanza, tetapi Khanza tak mau menerima panggilan dari aku, dan dia juga tak mau membalas pesan chat dari aku," jelas Reynaldi.


"Coba kamu cari tahu ke bagian informasi, kamu tanya alamat tempat tinggal Dokter Abimanyu. Pasti pihak rumah sakit tahu. Aku mohon tolong minta alamatnya, dan tolong temui mereka. Aku ingin bertemu dan meminta maaf secara langsung kepada mereka," ucap Viona.


"Ya sudah, aku coba ke bagian SDM rumah sakit dulu. Semoga saja dia bisa membantu aku, memberikan alamat Dokter Abimanyu. Nanti aku akan langsung ke tempat tinggalnya, untuk memberitahu kondisi kamu. Aku keluar dulu ya," pamit Reynaldi dan Viona menganggukkan kepalanya.


Setelah izin kepada sang ibu mertua, Reynaldi langsung menghampiri bagian SDM di rumah sakit itu. Pastinya, pihak rumah sakit memiliki data dokter, perawat, dan semua pegawai rumah sakit.


Reynaldi mencoba mengetuk pintu ruangan, sebelum masuk ke dalam ruangan. Kemudian menekan handle pintu ruangan, dan membukanya.


"Permisi Bu, Pak," Reynaldi mengucap salam dengan ramah.

__ADS_1


"Ya, masuk! Ada apa?" Tanya salah satu pegawai di bagian SDM.


Reynaldi menceritakan maksud dan tujuan kedatangan dia kesana.


"Kok kamu tahu ruangan ini? Memangnya kamu itu pekerja di sini?" sindir seorang pegawai membuat Reynaldi malu, wajahnya berubah merah.


"Iya Bu, saya cleaning service di lantai 1-3," jelas Reynaldi.


"Oh, cleaning service? Saya kira kamu tahu dari mana," sahut seorang pegawai dengan wajah yang menghina. Reynaldi hanya menganggukkan kepalanya. Menahan perasaannya. Dia harus merasakan, di posisi di bawah. Harus siap menahan hinaan dari orang yang berada di atasnya.


"Mohon maaf, pihak rumah sakit enggak bisa memberikan data pegawainya ke sembarang orang. Pihak rumah sakit, akan mencoba melindungi semua data pegawainya. Memangnya, ada kepentingan apa kamu menanyakan alamat tempat tinggal dokter Abi?" tanya bagian kepegawaian.


"Saya mohon Bu, ini demi istri Saya. Istri Saya saat ini sedang kritis di ICU. Dia ingin bertemu dengan istri dokter Abi. Saya ingin menemui istrinya, dan meminta istrinya untuk menemui istri saya," jelas Reynaldi. Wajahnya memohon iba, memohon agar pihak rumah sakit bisa menolongnya.


"Saya takut, kalau nyawa istri saya tak bisa tertolong lagi sebelum dia meminta maaf," ungkap Reynaldi.

__ADS_1



__ADS_2