
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Reynaldi saat melihat sang istri memegangi kepalanya.
Reynaldi berjalan menghampiri sang istri yang saat itu duduk di tepi ranjang. Dia duduk di samping Melani, sambil mengusap rambut Melani begitu lembut. Membuat perasaan Melani menjadi sedih, dia takut sekali kehilangan suaminya. Dia takut Reynaldi akan meninggalkan dia, jika mengetahui dirinya saat ini mengidap penyakit mematikan.
"Jangan pernah tinggalkan aku! Temani aku sampai menutup mata," ucap Melani diiringi isak tangis. Melani memeluk tubuh suaminya erat, meluapkan perasaannya saat itu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tak berniat sedikitpun meninggalkan kamu. Sebenarnya, apa yang terjadi sama kamu? Apa yang kamu rasa? Aku ingin kamu berkata jujur, agar aku tahu apa yang kamu rasa saat ini! Sekarang ini, kamu sering banget menangis," ucap Reynaldi yang kini menatap sang istri.
Namun, Melani memilih menghindar. Dia tak sanggup menatap sang suami, karena akan membuat dia semakin sedih. Dia tak sanggup mengungkap penyakit yang dia derita saat ini, kepada suaminya.
"Aku baik-baik saja! Mungkin, aku hanya terbawa perasaan saja. Aku pernah kehilangan kamu, dan sekarang aku takut terulang lagi," ungkap Melani.
"Kamu yakin, gak kamu rasa? Aku perhatikan kamu sering merasa sakit di kepala. Setelah pulang berbulan madu, kita ke dokter lagi ya! coba periksa lagi!" ujar Reynaldi kepada sang istri.
"Tidak perlu! Ini hanya kebetulan saja. Ini juga sudah membaik lagi. Ya sudah, tak usah dipikirkan! Aku siap-siap dulu ya! Kita makan di luar saja ya! Aku ingin jalan-jalan ke luar hotel, menghirup udara segar," ucap Melani dan Reynaldi mengiyakan.
Melani memilih menghindar dan tak membahas lagi. Dia memilih langsung ke kamar mandi untuk mandi. Kemudian bersiap-siap untuk berangkat.
"Kenapa perasaan aku mengatakan, kalau ada sesuatu yang Melani tutupi dariku? Tapi, apa ya?" Reynaldi bermonolog dalam hati.
__ADS_1
Lamunan Reynaldi terhenti, karena Melani sudah selesai mandi, dan mengajak bicara Reynaldi. Setelah Reynaldi dan Melani sudah selesai bersiap-siap, mereka langsung pergi meninggalkan hotel. Mereka mencari kafe tepi pantai, untuk duduk bersantai. Sambil menikmati pemandangan laut di kala malam.
Mereka terlihat mesra, Reynaldi tampak menggandeng tangan Melani erat. Melani merasa sangat bahagia, karena telah mendapatkan hati suaminya. Kini mereka sudah duduk bersantai, mereka langsung memesan makanan di kafe itu. Saat ini, memang semuanya Melani yang mengeluarkan uang. Namun, tak menjadi alasan untuk Reynaldi menumpang hidup terus menerus. Dia ingin bekerja, untuk bisa memiliki penghasilan. Dia tetap ingin memberikan Melani nafkah, menjadi suami yang bertanggung jawab.
Banyak hal yang mereka bicarakan, sambil menikmati makanan yang mereka pesan. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan. Mereka memilih berjalan kaki, membuat suasana terasa lebih romantis.
Malam semakin larut, angin malam semakin dingin. Menusuk hingga ke tulang. Melani merasa kedinginan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Terlebih saat itu jam sudah menunjukkan pukul 21.30.
Kini mereka baru saja sampai di hotel. Sebelum tidur, mereka sholat isya berjamaah dulu. Setelah itu, barulah mereka naik ke ranjang, dan membaringkan tubuh mereka di ranjang.
"Selamat tidur, istriku yang cantik. Semoga mimpi yang indah," ucap Reynaldi sambil melabuhkan kecupan di kening istrinya.
Sebelum dia menutup matanya, Melani selalu berdoa dan berharap masih bisa membuka matanya. Saat dirinya terbangun nanti. Masih diberikan umur panjang.
Reynaldi curiga, kalau Melani memiliki penyakit yang serius. Beberapa kali dia melihat Melani memegangi kepalanya. Namun lagi-lagi, Melani mengatakan kalau dia baik-baik saja. Melani langsung beranjak turun dari ranjang. Kemudian langsung mengambil obat yang dia simpan di dalam tasnya. Obat untuk meredakan rasa sakit di kepalanya.
"Kamu harus rajin minum obatnya," ucap Reynaldi. Dia mengira, obat itu hanya untuk obat sakit kepala biasa yang harus di minum istrinya.
"Iya ... tadi aku lupa minumnya. Makanya kepala aku sakit jadinya," sahut Melani sambil nyengir. Dia bersikap seperti tak memiliki penyakit berat.
__ADS_1
Rasa sakit yang dia rasakan berangsur pulih. Dia terpaksa kecanduan obat. Jika dia tak minum, dia langsung merasa sakit di kepala. Malam ini mereka memutuskan untuk tidur, tak olahraga ranjang dulu. Reynaldi merasa tak tega dengan istrinya.
Bagi Reynaldi, pernikahan itu bukan hanya sekadar sek*s saja. Tak harus melakukan itu terus menerus. Reynaldi yang sekarang benar-benar sudah berubah. Dulu, dia memang sangat bernaf*su. Selalu tak merasa puas. Sampai-sampai dia melakukan dengan dua wanita. Berselingkuh dari Nisa, karena naf*su.
Tiba-tiba saja Reynaldi terbangun dari tidurnya, dan langsung menatap lekat ke arah Melani yang sedang tertidur nyenyak.
"Ya Allah, sebenarnya apa penyakit istriku? Mengapa aku merasa, kalau penyakit yang diderita istriku bukan penyakit biasa. Aku mohon kepadamu! Apapun penyakitnya, tolong sembuhkan istriku! Angkat penyakitnya saat ini! Izinkan aku hidup bersamanya, lebih lama lagi. Izinkan kami hidup bahagia, memiliki seorang anak di tengah-tengah pernikahan kami," ucap Reynaldi dalam hati.
Reynaldi langsung memeluk tubuh sang istri. Dia takut sekali kehilangan Melani. Melani terbangun dari tidurnya, karena merasa terusik. Dia merasa bingung, karena suaminya memeluknya erat. Seperti yang dia lakukan tadi.
Di keheningan malam, Reynaldi mengungkap apa yang dia rasa. Tapi sayangnya, Melani memilih untuk bohong. Saat seperti itu, dia justru terlihat lebih tegar
"Hei, aku baik-baik saja! Mengapa kamu berkata seperti itu? Aku sehat, tak memiliki penyakit berat seperti yang kamu katakan! Makasih, sudah sangat mempedulikan aku. Semoga saja, doa kamu terkabul. Kita bisa selalu bersama, memiliki keluarga yang bahagia. Semoga Allah mengabulkan doa kita, untuk memiliki keturunan," ucap Melani. Dia berusaha untuk tegar, tak menunjukkan kesedihannya yang mendalam.
"Sudah ya, jangan sedih lagi! Kalau kamu seperti ini, aku nanti ikut-ikutan sedih! Kita harus terus bahagia, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk kita!" ucap Melani dan diaminkan oleh Reynaldi.
Reynaldi sudah mulai tenang. Apa yang dia rasa seperti sebuah pertanda untuknya. Melani mengajak Reynaldi untuk tidur kembali. Matanya masih sangat mengantuk, efek samping dari obat yang tadi dia minum. Obat itu termasuk obat penenang, agar Melani bisa beristirahat. Dia tak boleh stres.
Kini keduanya sudah tertidur nyenyak. Tidur sambil berpelukan. Keduanya terlihat saling mencintai, tak ingin terpisah. Mereka saling memberikan kenyamanan untuk pasangannya.
__ADS_1
Suara adzan di ponsel Melani berkumandang. Perlahan, dia membuka matanya. Dia ingin langsung berwudhu, dan sholat berjamaah bersama sang suami. Setelah selesai sholat, Melani tampak mencium tangan Reynaldi, dan Reynaldi melabuhkan kecupan di kening Melani.