Hilangnya Cinta Suamiku

Hilangnya Cinta Suamiku
Kepergian Mama Tercinta


__ADS_3

Melani dan Khanza sudah terlihat dekat, banyak hal yang mereka bicarakan. Reynaldi tampak tersenyum, saat melihat Melani dan Khanza sedang tertawa.


"Wah, sepertinya seru banget pembicaraan kalian berdua." Reynaldi datang menghampiri keduanya.


"Hehehe. Iya nih," sahut Melani.


"Ini es krim buat mama dan ini buat Kakak Khanza yang cantik," ucap Reynaldi sambil memberikan es krim ke mereka satu-satu.


"Ide bagus nih. Kakak mau gak manggil Tante Melani, mama? Tante 'kan sekarang mamanya kakak." Melani bertanya. Khanza, sempat terdiam. Membuat Melani tak enak hati. Dia tak akan memaksa Khanza.


"Ya udah, kalau kakak gak bisa gak apa-apa kok! Tante gak akan memaksa kakak saat ini juga. Bisa dekat sama kakak seperti ini saja, Tante sudah senang kok. Namun, alangkah lebih bahagia lagi. Kalau kakak menganggap Tante seperti mama kakak. Ya meskipun Mama Nisa tak akan pernah terganti kedudukannya. Tante Melani pun, gak akan merebut posisi itu. Hanya saja, sekarang Tante sudah menyayangi kakak. Ingin menjadi ibu tiri yang baik untuk kakak," ucap Melani.


"I-iya, Ma. Khanza mau. Khanza pun akan menerima mama sebagai mama kedua Khanza, setelah Mama Nisa. Terima kasih sudah mau menerima Khanza di kehidupan mama," sahut Khanza.

__ADS_1


"Makasih ya, Sayang. Mama bahagia banget. Kakak sebentar lagi mau punya adik. Mama lagi hamil adiknya kakak," ungkap Melani.


Kebahagiaan, bukan hanya dirasakan Melani saja. Nisa pun merasa bahagia, karena akhirnya Khanza bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kandungnya lagi. Meskipun selama ini dia selalu mendapatkan kasih sayang dari Abi, papa tirinya.


Bukan hanya makan dan makan es krim saja. Melani juga membelikan Khanza baju, sepatu, tas sekolah untuk Khanza.


"Sayang, aku rasa sudah cukup! Bisa nanti-nanti lagi belanjanya. Wajah kamu sudah terlihat pucat, aku tak ingin kamu kelelahan. Kita pulang saja sekarang!" Reynaldi berkata kepada Melani.


"Iya, Ma. Ini sudah cukup kok. Punya Khanza juga masih bagus-bagus. Benar kata ayah, sebaiknya kita pulang saja!" timpal Khanza ikut bicara, dan Melani pun akhirnya mengiyakan ucapan suami dan anaknya tirinya.


Mereka sepakat untuk pulang. Reynaldi begitu mengkhawatirkan istrinya. Sejak tadi Melani sudah menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang.


"Kalau kamu ngantuk, tidur aja Yang! Kakak gak masalah 'kan, kalau mama tidur?" Reynaldi berkata kepada Melani dan juga Khanza.

__ADS_1


"Enggak kok. Hanya sedikit lelah aja, gak ngantuk!" sahut Melani.


Melani memang tak bisa capek-capek. Dia mudah lelah sekarang ini. Mungkin, karena efek sedang hamil.


Ponsel Reynaldi berdering. Dia pun bergegas mengambil ponselnya.


Reynaldi terlihat mengerutkan keningnya, tampak bingung saat melihat nomor telepon ART yang mengurus sang mama menghubungi dia Reynaldi langsung mengangkat telepon itu.


Alangkah terkejutnya Reynaldi, saat mendengar penuturan sang ART yang mengatakan sang mama telah pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Rasanya seperti sebuah mimpi. Baru tadi pagi dia pamit untuk pergi bersama Khanza, dan kini dia harus menghadapi kenyataan kalau sang mama sudah menghadap ke sang Khalik.


Rasanya seperti tersengat petir di siang bolong. Reynaldi tampak syok, tak ada berkata-kata. Dia hanya terdiam. Jantungnya seakan berhenti seketika.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Melani memanggil sang suami dan bertanya. Dia tampak bingung melihat sang suami diam seperti patung. Suara klakson mobil di belakang mobil mereka terus berbunyi. Terlebih Reynaldi menghentikan mobilnya secara mendadak.

__ADS_1


__ADS_2